Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD213. Tidur di mamah


__ADS_3

"Duh, bolak-balik aja." Aku harus mengikuti inginnya, yang ingin tidur di rumah mamah Dinda semalam saja katanya. Dikarenakan, besok kami berangkat ke Lampung. Entah akan dijadikan apa aku di Lampung. 


"Kau yang bawel, tinggal nurut aja." Gavin sudah menuruni tangga, ia membawa Kirei. 


"Ya bentar nih." Aku hanya membawa botol dot dan sufor Kirei, pakaian lainnya ada di rumah mamah Dinda. 


"Bu, aku nginep di mamah Dinda." Aku tergesa-gesa, karena Gavin sudah lebih dulu keluar. 


"Ya, Nduk. Gavin udah bilang tadi." Ibu menoleh ke arahku dan mengangguk. 


"Kunci pintu ya, Bu?" Aku sudah menuruni tangga bawah. 


"Iya." Ibu menyahut dan masih kudengar. 


Sepertinya kurang malam datang, karena masih ada tamu di sini. Bang Ken ada di ruang keluarga, ia duduk bersimpuh di pangkuan mamah Dinda. Entah ada acara apa, aku tidak tahu dan tak diberitahu. 


"Kelonin Kirei nih, Riut. Udah megangin kaki aja ini." Gavin muncul dari dalam kamar kami yang berada di rumah mamah Dinda. Kirei gendong dalam posisi aneh, Gavin seolah membawa bolu ulang tahun karena Kirei memegangi pergelangan kakinya sendiri. 


Anak itu sering seperti ini, sejak mamah Dinda mengajarinya duduk dengan berpegangan pada kaki. Maksud hati sih agar ia bisa menyeimbangkan tubuhnya, tapi malah sering dilakukan kala ia digendong dan rebahan di atas ranjang. Anak kecil memang absurd. 


Aku tertawa lepas, dengan menunjukkan Kirei. Namun, tawanya segera kubungkam karena mamah Dinda memelototiku. 


Oh, iya. Di sini kan suasana sedang mengharu biru. 


Aku segera melarikan diri ke kamar, lalu mengambil Kirei yang sedang cosplay menjadi bolu ulang tahun ini. Aku mencomot pipinya, kemudian meraup wajahnya. Eh, ia malah memandangku aneh lalu menangis lepas. 


"Rusuh, Mbu tuh rusuh." Gavin memukul part belakangku, saat Kirei melepaskan tangisnya. 


"Huuu, cengeng!" Aku menciumi Kirei, kemudian menyumpalnya dengan ASI. 


Ia langsung mengomel dalam kegiatannya menyusu. Ini yang tidak bisa aku lupa, dari kegiatan menyusui Kirei meski ASIku tidak banyak. 

__ADS_1


"Sambil begituan ya? Lepas ini aku mau ke bang Givan." Gavin merebahkan tubuhnya di belakangku. 


"Nanti aja agak maleman, di depan kamar ada orang tuh." Aku tidak bisa menahan suaraku. Aku khawatir takut terdengar, kemudian nantinya malu. 


"Mbu jangan begadang, nanti siapa yang urus kita? Udah tak apa, tahan suara aja." Tangannya sudah berkelana mengganggu Kirei yang menyusu. 


Boro-boro lekas terpejam. Kirei malah jadi memperhatikan tangan ayahnya yang mencoleknya melewatiku. Tangan kecilnya terulur, kemudian menggenggam jemari Gavin. Lucu sekali interaksinya, meski hanya gerakan kecil. 


"Baaaa……" Gavin menegakkan kepalanya hingga terlihat oleh Kirei. 


Eh, anak ini langsung tertawa lepas. Ia terbahak-bahak, sampai mengeluarkan suara. Gavin seolah amat lucu menurutnya. 


"Bobo, Adek. Ayah mau ngerjain Mbu dulu, terus mau urus kerjaan. Adeknya bobo tuh." Gavin mengusap kepala Kirei. 


Kirei cengar-cengir, kemudian malah berguling tengkurap. Ia sudah bisa tengkurap dan berbalik sendiri. 


"Dek, bobo dulu. Nih, meme lagi nih." Gavin membuka bajuku, hingga aku hanya menggunakan wadah pabrik ASI saja. 


Ia mengusap-usap perutku. Ia tidak banyak bicara tentang keinginannya ingin aku hamil, tapi aku yang takut sendiri karena aku baru sesaran lima bulanan. 


Mata Kirei tertuju pada tangan ayahnya yang berada di perutku. Terulang lagi, ia menggenggam satu jari ayahnya hingga ayahnya menegakkan kepalanya lagi untuk melihat Kirei. 


"Wah, suruh bobo jeh. Mbunya Ayah ambil lah, Adeknya tak mau bobo." Diancam begitu oleh ayahnya, ia langsung buru-buru melahap dadaku. 


Aku kadang bingung, sebenarnya Kirei mengerti tidak bahasa kita orang dewasa? Tapi ia seolah memahami, dengan gerakannya yang menurut itu. 


Belum lama menyusu, matanya sudah mabuk saja. Hanya saja, mulutnya masih mengomel tidak jelas. Kirei jadi seperti ini, setiap dikelonin untuk tidur. 


Kini tinggal ayah sambungnya yang berulah. Ia menekan-nekan miliknya yang sudah kencang dan memiliki tegangan penuh itu. Part belakangku jadi pelampiasan aksinya, sampai akhirnya lenganku ditarik agar ia bisa memperdaya tubuhku semaunya. 


Aku masih bisa mendengar suara orang mengobrol, sepertinya bang Ken masih di sana. Waktu pun masih sore juga, baru setengah delapan malam. Tapi, Gavin sudah ingin membuatku junub. 

__ADS_1


"Udah mabuk ya bocah? Banyak tingkahnya betul." Gavin menyempatkan untuk mengusap keringat di pelipis Kirei. 


"Ayahnya aja saking yang nyuruh anaknya tidur cepat terus." Aku membingkai wajahnya. 


Makin diurus, ia semakin mirip dengan papah Adi. Benar-benar mirip, tidak ada yang dibuang. 


"Ayahnya pengen mesumin Mbunya, biar konsen dalam bahas pekerjaan." Ia enak sekali duduk di atasku. 


Ia melepaskan kaosnya, kemudian membuka ikat pinggang dan menariknya dari dalam celana. Ikat pinggang itu tidak ada fungsinya, karena celananya pas. Dia berkata, hanya untuk estetika saja karena sabuknya pun sabuk mahal, yang wajar dipamerkan. 


"Kerjaan apa sih, Bang?" Aku mengusap-usap roti sobek itu. 


"Ladang milik bang Givan tuh ada yang tak produktif, katanya disewa aja terus digarap ke jahe. Kata aku dibeli aja, Bang. Kata dia jangan, mahal, kau tak akan mampu."


Aku tertawa geli mendengar ceritanya. "Terus?" Pantas saja ia selalu sibuk dengan bang Givan. 


"Ya terus udah disewa, uang udah masuk ke dia dan udah tanda tangan untuk kontrak setahun juga. Ladang yang di ujung sana, dulu itu bagian dari papah. Terus pindah ke tangan kak Canda untuk mahar, terus tuh sekarang mau peremajaan, tapi belum direalisasikan. Jadi kurang produktivitasnya, karena belum peremajaan. Sedangkan bang Givan malas untuk peremajaan, jadi disewa deh. Sewa mulai aktif dua bulan ke depan, karena sekarang lagi dibabat dulu pohon lamanya." Ia bercerita dengan melepaskan wadah ASIku. 


"Berapa, Bang?" tanyaku kemudian. 


"Dua puluh dua juta pasaran, tapi bang Givan minta dua puluh aja katanya. Dua puluh kali sepuluh, dua ratus juta untuk sepuluh hektar tanah. Katanya kalau hasilnya banyak, bisa tambah sewa lagi aja. Itu empat kebun maharnya kak Canda, jadi tak mau dijual. Biar nanti pas buat rumah di sini, aku tak nganggur karena garap tanah sewa itu. Do'ain ya lancar, biar di sini bisa kebeli lahan untuk garapan. Di Lampung punya, di sini punya gitu." Ia tersenyum lebar. Ada harapan besar lewat senyumnya, aku bisa merasakannya. 


"Oke siap, aku pasti do'ain." Aku hanya bisa mendukungnya sekarang, karena aku tahu bahwa uangnya tidak lari ke hal yang tidak jelas. 


"Dua bulan lagi pengeluaran besar. Meski panen tiap bulan, kita tetap harus beli barang dengan bijak. Karena buat rumah impian bukan uang yang sedikit, apalagi furniturnya yang bisa sampai seharga rumah. Aku tak minta kau bantuin cari uang, aku cuma ingin kau bantu doa dan pakai uang dengan bijak. Maksudnya beli baju atau beli barang silahkan, tapi lihat sesuai kebutuhan gitu. Jangan tiap hari beli baju, kan hal yang sia-sia aja karena baju tak bisa dijual lagi. Bukannya pelit ya? Tapi aku pengen kita sejahtera di masa tua."


Aku jadi terharu padahal sudah serengeti telan****. "Peluk dulu, Ayang." Aku mengulurkan kedua tanganku. 


"Oke, aku peluk. Setelah ini jangan nangis, jangan teriak-teriak, jangan kuat-kuat ya suaranya? Ada bang Ken depan kamar, aku tak mau dia nguping kegiatan kita." Gavin memelukku, ia membisikan hal itu ke telingaku. 


Aku sudah memiliki feeling, jika bang Ken akan mendengar kehebohanku. Mungkin saja, ia akan bertanya kala Gavin keluar kamar. Oke, kita tunggu episode selanjutnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2