Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD195. Cek ukuran


__ADS_3

"Udah sana turun!" Mobilku berhenti di depan pabrik pengolahan kopi milik bang Ghifar. 


"Aku tau tak disuruh juga." Aku tetap manyun sejak tadi. 


"Bentar, bentar." Gavin mencekal tanganku. 


"Apalagi sih?!" Tadi ia mengusirku, sekarang ditahan. Apa sih maunya? 


"Cium dulu." Wajahnya sudah condong padaku. 


Tetap dibuat kesal, tetap sih nyosor saja. Bagaimana dulu papah Adi dan mamah Dinda berpacaran? Apa begini juga? 


"Udah tuh, make up aku geser." Aku menahan dadanya. 


Setelah itu ia menegakkan lagi punggungnya. Jarak kami masih dekat, ia tersenyum amat manis dengan tatapan dalam, lalu ia membasahi bibirnya. Seksi sekali, ya ampun. 


Dasar beban akhirat! 


"Pengen cium ini." Ia menyentuh bibirku. 


Naik rupanya. 


"Janganlah! Nanti lipstik aku acak-acakan." Aku mendorong lagi dadanya. 


"Ya udah, ya udah. Sana turun, semangat kerjanya." Ia duduk nyaman di tempatnya lagi 


Agak lain! 


"Okkkkkeeeeehhhhh!" Aku turun dari mobil, kemudian membanting pintu mobil. 


Apa balasannya? Klakson yang berbunyi panjang seperti kereta api. 


Sampai orang-orang pada melihat ke arahku, mungkin mereka mengira aku tidak bisa menyebrang. Menyebalkan Gavin ini, sayangnya aku naksir. 


"Kau tak bawa mobil?" tanya bang Ghifar, kala aku tengah berjalan masuk ke area gerbang bersamaan dengan kendaraan miliknya yang tengah masuk juga. 


"Dipakai Gavin, Bang," jawabku dengan tetap berjalan. 


Bang Ghifar hanya mengangguk, kemudian menutup kembali kaca kendaraannya. Setelah itu, langsung diadakan briefing seperti biasa dan langsung bekerja. 


Untungnya, tidak ada pekerjaan di luar kantor. Semua pekerjaan terselesaikan sebelum habis jam kerja. Tapi tetap, aku mengerjakan pekerjaan esok, agar esok lebih ringan. 


Setengah jam lagi pulang, aku akan mengabari Gavin dulu. Biar dia bisa standby di depan, untuk menjemputku. 


[Setengah jam lagi aku pulang.] tulisan dan langsung dikirimnya. 


[Jalan kaki aja.] balasannya cepat juga.


Ini serius? 


[Awas ya kau!] ia rupanya ingin mengerjaiku. 


[😛] meledek ia. 


Ah, lebih baik aku menyerahkan pekerjaan dulu pada bang Ghifar. Aku langsung membawa tumpukan berkas dan keluar dari ruangan. 


Tidak jauh, ruangan bang Ghifar ada di depan ruanganku. Aku langsung masuk, karena pintu ruangan sedikit terbuka. 

__ADS_1


"Heh!" Aku kaget melihat ayahnya Cali tengah tiduran di sofa panjang dengan memainkan ponsel. 


Ia tertawa puas, tawanya begitu menggema. Kakaknya malah diam saja, bang Ghifar fokus pada layar laptopnya. 


"Ini, Bang. Udah selesai." Aku menaruh tumpukan di atas meja kerja bang Ghifar. 


"Heem." Bang Ghifar tengah tidak mau diganggu. 


Aku berbalik badan dan berjalan ke arah Gavin. "Aku kira masih di luar," ucapku kemudian. 


"Baru bangun tidur, udah di sini dari jam dua." Ia melirik ke arahku. 


"Gimana hasilnya?" Aku bersedekap tangan dan tetap berdiri memandangnya. 


"Katalognya udah dibawa, nanti ceklis aja yang mau dipilih. Tinggal minta tanggal pastinya aja sama papah, pihak WO minta kepastian tanggal, jangan perkiraan tanggal katanya." Gavin bangkit dan memberi tempat duduk untukku. 


Pakai kemeja juga ternyata ia tidak lama, sekarang saja bertelan**** dada. Ini kantor kerja, tapi sudah seperti basecamp menurut anggota keluarga Adi's Bird. 


"Pakai coba bajunya!" Aku mencubit dada bidangnya. 


"Hm, hm, hm!" Bang Ghifar tidak melirik, tapi suaranya seperti menegur. 


"Memang suka cubit-cubit dia ini, Bang," tuduhnya padaku. 


Bukannya dia yang suka toel-toel?


Dasar, tukang memutar balikan fakta! 


"Udah ah!" Aku memutuskan untuk kembali ke ruanganku saja, nanti aku dikambinghitamkan jika bertahan di sini. 


Aku tidak menoleh, aku tetap melangkah untuk keluar dari ruangan bang Ghifar. Aku lanjut bekerja, karena tidak enak pada yang lain. Gavin masuk pun, aku pura-pura tidak melihat. 


"Ujiannya begini betul, rasanya udah tak tahan pengen nyicip." Ia duduk di mejaku. Bahkan, paha kanannya berada di depan mataku. 


"Nyicip apa?" Aku memandang wajahnya, kemudian melihat tulisan dalam dokumen itu kembali. 


"Pengen begituan. Tangan udah rasanya pengen usil aja, bayangan udah ke mana-mana. Tapi kalau nyicip duluan, nanti pas malam pertama tak menggebu-gebu lagi."


Bahas apa dia ini sebenarnya? 


"Ya udah jangan." Aku tidak memiliki saran untuknya. 


"Nanti hari Kamis cek darah dulu kata papah, Senin depannya baru vaksin. Tadi papah nelpon." Ia mengalihkan pembicaraan. 


Baguslah. 


"Iya oke, nanti izin setengah hari aja." Aku masih kontrak tiga bulan, jadi jangan banyak bertingkah. Apalagi, berencana untuk ambil libur. 


"Oke." Ia turun dari mejaku. 


Sudah selesai menyimak, aku langsung membubuhkan ceklis di sampul dokumen ini. Pekerjaan ringan, tapi puyeng di mata dan pusing di otak. Belum lagi harus menguasai komputer, untuk membuat laporan dan daftar dokumen masuk tiap harinya. 


Klik….


Aku langsung melirik ke arah pintu. Ia malah tersenyum lebar, seolah tidak melakukan kekeliruan. 


"Aku tak mau apa-apakan kau, tapi apa-apakan aku aja." Ia berjalan ke arahku lagi. 

__ADS_1


Aku meliriknya dengan alis terangkat sebelah. Ia ke ruanganku untuk mesum rupanya. 


"Jangan resek!" Posisinya sudah berada di sampingku. 


"Coba tangannya masuk." Ia melepaskan pengait celana jeansnya. 


Aduh, mak. Aku diminta melecehkannya. 


"Tak mau aku." Aku menyembunyikan kedua tanganku di ketiak. 


"Udah berdiri, pegang aja, coba cocok tak sama selera kau." Ia menarik satu tanganku. 


"Lurus kan?" Aku mendongak padanya. 


"Ia lurus, bengkok ya aku gip dulu nanti."


Ada saja yang membuat perut tergelitik. 


"Ayo sih, Sayang. Kangen betul rasanya digenggam-genggam." Ia lebih kuat mengusahakan tanganku untuk menurut padanya. 


Berarti dulu istrinya itu sering seperti itu. Begini kah? Kok ada nyesek-nyeseknya. 


"Sayang, sayang! Ada maunya!" Biasanya pun ia tidak memiliki panggilan sayang untukku. 


"Heem, ada maunya." Ia mengakui sendiri. 


Terus terangnya memang bagus sih, tapi tak begini juga harusnya. 


Tangannya menuntunku untuk masuk ke dalam celananya. Tanganku dicekal, ia terkesan memaksa dan aku harus melakukannya. 


"Jangan ngelawan terus!" Ia menekan suaranya. 


"Masa begitu ke aku? Maksa-maksa begitu?! Kek aku apa aja." Aku melemaskan tanganku. 


Terserah ia berbuat saja, setelah ini aku akan mendiamkannya. Aku tidak mau hidup dalam pengaruh tekanan dari laki-laki seperti ini, sudah cukup dengan bang Ken kemarin. 


"Genggam." Perintahnya terdengar halus kembali. 


Untuk sekarang, oke aku menurut untuk menghindari keributan. Awas saja jika ia mengajakku berbicara setelah ini, aku akan pura-pura tidur dan tidak mendengar saja. 


Geramannya seperti tertahan di mulutnya. Ia bertumpu pada sandaran kursiku dengan tetap menahan tanganku untuk berada di dalam celananya. 


Sialan dia ini! 


Awal-awal, ia meledekku habis-habisan bahwa aku SANGat kangEn padanya, akhirnya sih ia sendiri yang seperti ini. 


"Pas tak ukurannya?" tanyanya dengan membawa tanganku sampai ke bawah. 


Untuk apa bertanya seperti ini? Masa gara-gara ukuran ini, kita jadi tidak jadi menikah? Kan tidak bisa begitu juga, miliknya tidak bisa dijadikan patokan. 


"Jawab dong? Gimana?" Ia menarik tanganku lagi dari dalam celananya.


Ia tidak mengerti perubahan mood di wajahku. Ia bersikap, seolah tidak terjadi apa-apa saja. 


Rasanya ingin aku mengadukan pada orang terdekatnya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2