
Aku tidak melayat sama sekali, aku tidak ikut membantu tahlil di sana selama ini. Bang Ken pun tidak pernah datang ke rumah mamah, begitu pun dengan Ahya. Hanya keluarga dari sini yang datang ke sana, apalagi sekarang tengah sibuk mempersiapkan untuk tahlil tujuh harian.
Papah Adi sejak Subuh sudah keluar rumah membawa mobil, tidak biasanya beliau berkendara. Karena memang sudah usia, beliau merasa kalah mata. Mamah pun sejak Subuh sudah di sana, katanya ingin mengatur untuk membuat bumbu. Karena keluarga almarhumah umi Sukma yang dari Kota lhokseumawe, ingin membuat masakan sendiri, tidak katering saja seperti saran mamah Dinda.
Aku setiap hari ditemani oleh ibu, mbak Canda dan Mariam. Ia ternyata menantu yang rajin juga, juga begitu disiplin. Segala sesuatunya, ia menggunakan waktu. Ia mulai berbenah dan beraktivitas seperti ibu rumah tangga di jam tujuh pagi, lalu rehat di waktu Dzuhur. Ia mulai sibuk lagi dengan aktivitasnya melipat baju dan menyetrika di jam tiga sore dan selesai jam empatan. Benar-benar disiplin dan sistematis.
Jika dilihat dari kecepatan dan kerajinan, ya memang mbak Canda kalah dari menantu manapun. Aktivitasnya tidak terjadwal, ia cosplay menjadi ibu rumah tangga tergantung moodnya saja. Ya pantaslah, jika mamah Dinda cerewet padanya, papah Adi pun banyak menggerutunya meski ia sayang mbak Canda.
Pukul sebelas siang, papah Adi pulang berjalan kaki. Jelas aku mencari keberadaan mobilnya yang ia bawa, karena aku pikir barangkali ia lupa membawanya pulang.
"Pah, mobilnya mana tuh?" Aku mengikutinya yang berjalan ke arah dapur.
Tapi, beliau berbelok ke arah kamar mandi. Sedangkan, aku lanjut melangkah ke dapur.
"Di rumah Ahya. Tolong ademin nasi, Dek," jawabnya dari dalam kamar mandi.
Papah Adi menjaga pola makannya sekali, ia tidak mau memakan nasi yang panas. Ia membiarkan nasi dari dalam penanak nasi dipindahkan dahulu satu piring ukuran makannya, barulah dibiarkan di suhu ruangan dan setelah dingin baru dimakan olehnya. Katanya, agar kadar gula dalam nasi tidak tinggi.
Karena, selain memiliki darah tinggi. Beliau pun pernah terindikasi memiliki masalah gula darah, meski tidak tinggi, ia tetap menjaganya.
"Udah, Pah. Lauk juga udah aku siapkan di atas meja makan." Aku hendak keluar dari dapur.
"Ya, Dek. Makasih." Papah Adi selalu bisa membuat wanita dihargai.
__ADS_1
Terima kasih memang sepele, apalagi hanya untuk pekerjaan ringan saja. Tapi cukup berarti, untuk para perempuan yang melakukan hal sederhana itu untuk orang terdekatnya.
"Ya, Pah," sahutku entah terdengar atau tidak.
Aku kembali ke kamar Mariam. Mbak Canda pun ada di sini, kami tengah memilih menu makanan yang akan diorder.
Sedikit keluhan Mariam, ia merasa sedih karena Gibran menyimpan uangnya pada mamah Dinda. Ia merasa, seolah dirinya tidak bisa dipercaya untuk menyimpan uang. Mariam hanya diberi secukupnya saja, untuk jajan-jajannya saja. Bahkan, ketika membeli kebutuhan bulanan yang membayar adalah Gibran. Gibran sendiri yang mengatur uang, bukan istrinya.
"Aku pun begitu, dalam agama juga nafkah untuk istri ya bukan seluruhnya uang suami. Cuma tak banyak drama, aku selalu minta mas Givan selalu bilang kalau dia ngasih pinjam temannya atau ada transaksi begitu. Aku dibatasi keluar rumah, jadi pegang uang pun untuk apa. Aku tak boleh ke minimarket sendiri, aku dikasih izin untuk ke rumah ibu, mamah dan main ke ipar-ipar aja bolehnya. Aku harus ngabarin dulu, kalau mau pergi sama mamah atau siapapun sedangkan dia tak ada di rumah. Jangan diambil pusing, selagi uang nafkahnya untuk kita cukup. Di luar sana, banyak loh suami yang tak ngerti bahwa uang untuk kebutuhan istri itu beda sama uang belanja. Misalnya gaji mereka dia juta, ya kasih semua uang gaji itu ke istrinya. Cukup tak cukup harus cukup, biasanya begitu tuh dramanya. Kalau diminta lebih untuk kebutuhan kita sendiri, suami mereka jawabnya uang dari mana karena gajinya udah diberikan lagi ke istrinya. Mending uangnya dibagi dia, kalau memang uangnya cuma dua juta. Jadi contohnya, satu setengah juta untuk kebutuhan rumah tangga, lima ratus ribu untuk kebutuhan istri pribadi. Dulu mas Givan pun kasih lima puluh ribu sehari, cukup tak cukup harus cukup. Ya alhasil, aku kucel bau badan, jahit baju setiap lipat baju. Karena kain terlalu rapuh, jadi gampang sobek kena mesin cuci. Mungkin sekarang keadaan Gibran belum stabil, kau maklumin aja dulu. Yang penting, dia ada tabungan untuk persalinan kau nanti, dia cukup untuk kasih nafkah lahir kau. Tapi yang terpenting, baiknya komunikasi aja. Kau tak boleh banyak ngeluh begini, apalagi kalau cerita ke orang tua kau. Karena, nanti masalahnya lebih dramatis. Orang tua kiranya Gibran berat ke mamah, atau lebih beranggapan bahwa dia pelit sama kau. Gibran pasti punya maksud baik kok, jangan sampai salah paham aja." Mbak Canda begitu bijak dengan nasehat dan secuil cerita dari pengalamannya.
"Aku kadang berpikir, tak semua orang tua nerima anaknya menafkahi orang lain. Soalnya aku tau di mata aku sendiri, mamah nanya Gibran kerja dapat upah berapa. Aku pun lihat juga, Gibran ngasih uangnya ken mamah dan tanya mamah mau pegang berapa. Akun berpikir, bahwa memang Gibran benar-benar milik ibunya dalam hal apapun." Mariam tertunduk lesu.
Aku disibukkan dengan Cali saja, biyungnya asik mengobrol. Untungnya, Kirei anteng di ranjang. Cali adalah anak Gavin, ia adalah anak susuan mbak Canda. Tapi di usia delapan bulan, mbak Canda jatuh sakit dan dirawat ke rumah sakit. Membuatnya, mulai saat itu tidak menyusui anaknya lagi dan anak susuannya. Karena ASInya kering, terkena efek obat yang diminumnya di rumah sakit. Begitu, dari ceritanya sih.
"Bisa sih, aku juga pernah berpikir kek gitu. Sekalipun mereka orang kaya, tapi pemberian anak itu lain. Tapi setelah kau kenal ibu mertua kau, kau tak akan lagi berpikir begitu. Karena kalau anaknya tak punya beras, beliau yang mikirin dan nyusahin hal itu. Dia memang kaya raya, tapi dia tak pelit dan tak perhitungan ke anak cucu dan menantunya. Kau tak perlu berpikir terlalu jauh, karena aku yakin mamah hanya simpan, bukan pakai uang Gibran. Mamah terlalu kaya untuk minta sedekah ke anaknya. Lagi pun, aku tau sendiri. Mamah apa-apa itu pasti bilangnya ke mas Givan, tak akan ke anak yang lain. Tak tau apa alasannya, tapi aku tak pernah keberatan karena mas Givan selalu terbuka. Mamah pun, udah kek teman dan penyelamat untuk aku. Misalkan dia minta ke klinik kecantikan, aku adalah teman pertamanya yang selalu bisa nemenin beliau datang ke sana. Karena sekalian aku perawatan juga." Mbak Canda memegangi kedua pipinya dan tersenyum lebar.
"Ria… Kirei…" Itu suara papah Adi.
"Di kamar Mariam, Pah." Aku turun dari ranjang.
Cali merangkak cepat mengikutiku. Ia sejak tadi dilepaskan di dalam kamar, hanya saja mataku tak lepas dari gerakannya. Cali meraih apapun yang ada di dekatnya, itu membuatku sedikit khawatir.
"Hallo… " Papah membuka pintu dan mendapati Cali yang sudah bersiap di dekat pintu.
__ADS_1
"Kirei mana, Dek?" Papah Adi langsung mengarahkan matanya ke ranjang Gibran.
"Itu, Pah." Aku kembali ke ranjang untuk membawa Kirei.
"Sini Sayang, sama Kakek." Papah Adi mengangkat kedua tangannya.
Kirei terlihat langsung girang saat melihat kakeknya itu. Ia sudah bisa merespon dengan senyum dan gerakan kecil dari tangannya.
Cali sudah ribut saja, saat aku melihatnya, ia sudah bergantungan di kaki kakeknya. Ia adalah anak yang hiperaktif, seperti bang Givan kecil menurut mamah Dinda. Ra kecil pun seperti itu, lincah dan selalu berlari. Ia seolah tidak bisa berjalan, tapi berlari terus.
"Cali mau ikut?" Papah Adi melihat ke arah kakinya, ketika Kirei sudah pindah ke tangannya.
"Mas Givan mana, Pah? Ikut Papah dari Subuh, tapi tak pulang-pulang." Mbak Canda menghampiri kami yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Mariam dan Gibran ini.
Aih, aku kira papah pergi sendiri dengan mobilnya. Ternyata, ia bersama bang Givan rupanya.
"Di sana, di rumah Ahya. Cali kalau ikut, naikan ke sepeda roda tiganya, Canda."
Eh, aku baru menyadari jika papah menggunakan baju koko rapi dan sarung juga.
"Tahlil tujuh hariannya habis Dzuhur kah, Pah?" tanyaku kemudian.
"He'em, Kirei ikut Kakek ya? Kita do'ain masyik, kita hadiri acara terakhir untuk masyik."
__ADS_1
Hah?
...****************...