Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD240. Drama anak-anak pondok biyung


__ADS_3

"Kau pulang aja, Jeng! Kita keberatan ada kau di sini. Ini Mamah masih ngomong baik-baik sama kau. Kau tak ada keperluan sebenarnya, kau butuh tempat bersembunyi biar kau bisa mangkir dari sidang pengadilan hak asuh Elang. Terbaca!" Mamah Dinda langsung membuka pintu. 


"Siapa bilang aku mangkir?" Ajeng kaget saat mamah Dinda muncul dan langsung membukakan pintu saja. 


"Kau bilang tadi, kalau kau sembunyi sama Elang di sini. Tempat ini tak bisa jadi tempat sembunyi, kau pergi aja bawa barang-barang kau. Biaya hidup kau terlalu mahal, kami tak mampu nampung tamu yang makannya emas berlian." Pintu dibuka selebarnya oleh mamah Dinda. 


"Begini kah cara Mamah? Mungkin ini kali ya alasannya Gavin tak pernah mau bawa aku ke orang tuanya? Dia sayang aku ternyata, tak mau aku tersakiti dengan sikap orang tuanya."


Dia sadar tak jika sikapnya menyakiti Gavin? Mulutnya bukan tajam lagi, tapi berani menghina dan mengejek Gavin. 


"Iya, betul. Apalagi karena dia tau, kalau perempuannya tak tau diri. A***** yang air liurnya najis aja, kita kasih makan. Tapi beda cerita, kalau a***** tersebut udah buat trauma anggota keluarga dengan sifat agresifnya. Entah mengejar tanpa tau berhenti, entah menggonggong, atau menggigit."


Secara tidak langsung, ia diibaratkan dengan seekor a*****.


"Pantes ya kak Canda bilang, bujang di sini hanya untuk orang dalam. Ternyata begitu sikap kalian ke orang luar." Ajeng tertawa sumbang. 


"Iya benar, kita terlalu sayang bujang kita untuk orang jauh yang tak punya akhlak dan kesopanan padahal masih satu agama. Saya lebih respect sih sama menantu Saya yang lain agama, sopan santunnya terjaga meski toleransi kami sedikit buruk tentang agama lain. Dia tetap menghormati kami sebagai mertua sampai sekarang, padahal suami Saya dulu marah besar kala lihat dia melakukan ibadahnya yang tidak ia mengerti di teras rumah. Pantas talak Gavin turun lebih cepat, sebelum dia kenalkan kau ke kami. Mungkin masa itu dia sadar, kalau pilihannya tak cocok dengan culture kami." Mamah Dinda bersedekap tangan dan mengedikkan bahunya. 


"Oh ya?! Kalau kek gitu caranya, Saya bakal ambil balik anak perempuan Saya." Ajeng bangkit dari duduknya. 


"Bawalah! Tapi jangan pernah minta biaya hidup Cali ke kami. Tapi sebelum itu, kemasi dulu pakaian kau dan anak kau. Jangan sampai ada yang tersisa ya? Kemasi juga sana barang-barang anak perempuan kau, Saya tak mau anak laki-laki Saya teringat tumbuh kembang anak perempuan kau." Mamah Dinda menaikan dagunya. 


Udah paten ini, mak. Ucapannya tidak terbantahkan dan tidak bisa dicampuri lagi. 


"Begitu?! Jadi anak perempuan Saya rupanya sangat membebani keluarga ini ya?" Ajeng masuk ke dalam kamar tamu. 


Pintu kamar tetap terbuka lebar, dengan mamah Dinda memperhatikan aktivitas Ajeng dari ambang pintu kamar. 


"Sangat, terlalu banyak menghabiskan kasih sayang. Padahal, mungkin dari ibunya aja cukup deh. Biar kasih sayang kita bisa fokus ke cucu yang lain, yang ibunya bisa terima kalau anaknya kita urus dan didik sebaik mungkin. Bawa aja semuanya, jangan lupa jemuran kau di belakang." Mamah Dinda pergi keluar rumah setelah mengatakan hal itu. 


"Bang…." Aku menggoyangkan lengannya. 


Aku sudah hampir menangis, aku takut mamah Dinda memberikan Cali pada Ajeng. Apa jadinya hati suamiku, meski begitu juga ia tetap menyayangi anaknya. Ia sudah memberikan yang terbaik untuk Cali, karena ia sadar tidak bisa mengasuh Cali secara langsung. 


Gavin menggeleng, pandangannya kosong. 


"Takut, Bang." Aku memeluk lengannya. 


"Mandi dulu gih, aku lihat Cali dulu di sana." Pandangannya kosong dan bingung. 

__ADS_1


"Iya, Bang." Aku juga bingung, tapi aku harus menuruti perintahnya. 


Entah bersih atau tidak cara mandiku, aku langsung bersiap tanpa menggunakan make up apapun di wajahku. Aku khawatir Cali malah benar-benar sudah dibawa pergi. 


Namun, pemandangan yang baru aku lihat terpampang jelas di depan mata saat aku baru saja membuka pintu gerbang rumah mbak Canda. Di halaman rumah, terlihat beberapa anak yang berada di pondok biyung ini memblokade adik perempuan paling bungsu yang terpasang pengaman lutut, agar lututnya tidak terluka karena ia merangkak di halaman. 


Tidak ada orang tua di sini, aku pun bisa melihat jika Gavin duduk di ruang tamu dengan menggendong Kirei. Ia melihat dari jauh saja, dari pintu rumah yang sedikit terbuka. 


"Ayo ikut Mamah, Dek." Ajeng mencoba mendekati Cali kembali. 


"Adik kami tak mau. Tante siapa? Tante orang asing."


"Pasti dia penculik."


"Iya, pasti dia penculik."


Mulut anak-anak tersebut saling melempar pernyataan bahwa Ajeng penculik. 


"Tante Ria, tolongin adik aku. Dia mau diculik." Cani nampak panik sekali. 


"Oh ya? Jadi Tante harus gimana?" Aku berakting pura-pura kalap. 


"Bawa Cali masuk, Tante." Cani menarikku dan menunjuk Cali. 


"Panggilin ayah sama pak cek Gavin aja, Tan. Mereka ada di dalam." Pemimpin serigala itu memberi perintah padaku, Chandra. 


"Oke, oke." Aku ikut dalam permainan, dengan mengacungkan dua ibu jariku.


Aduh, aku lupa menutup pintu pagar kembali. Sedikit terbuka, dengan celah satu orang bisa masuk. 


"Bang, itu…." Aku melebarkan pintu, agar Gavin bisa melihat dengan jelas bagaimana drama di halaman rumah. 


Gavin mengangguk. "Kata mamah biarkan aja katanya." Gavin menoleh kembali memperhatikan anak-anak di luar sana. 


Aku menoleh ke belakang, detik itu juga Ajeng diteriaki penculik oleh anak-anak pondok biyung ini. Ini waktu Ashar, di sini ada masjid besar waqaf dari bang Lendra. Otomatis, orang-orang yang akan sholat di masjid langsung berdatangan dengan melebarkan pagar rumah. 


Seketika aku semakin panik, karena takut Ajeng menjadi bulan-bulanan warga di sini. Karena memang, sebelumnya sudah digegerkan isu penculikan anak yang merebak. 


Gavin, bang Givan, mamah Dinda dan keluarga lain berdatangan dari pintu samping. Giska sampai belum sempat mengenakan hijabnya, tapi ia sudah hadir dengan tergesa-gesa. 

__ADS_1


Ya iya, siapa orang tua yang tidak panik mendengar anak-anak berteriak penculik. 


Ajeng langsung ditarik oleh beberapa warga dan hampir dianiaya di depan anak-anak. Tapi beberapa keluarga Riyana langsung sigap mengambil alih Ajeng, dengan menahan tangan para warga. 


Pucat pasi Ajeng di sana. 


Cali yang menangis heboh dalam gendongan Ajeng, diambil alih oleh Zio. Kemudian, Zio berlari menjauh membawa Cali dan anak-anak perempuan lain mengikuti. 


Hebatnya setting ini, karena pengasuh anak tidak terlihat sama sekali? Apa memang sedang ada latihan drama pertahanan diri? 


Aku telat datang rupanya, entah acara mandiku terlalu lama. Sehingga, aku seperti orang bodoh di tengah-tengah keluarga ini.


Elang yang berada di dekat ibunya, langsung memeluk ibunya dan menangis lepas. Ia pun pasti takut, dengan situasi sekarang. 


"Dibawa aja ke desa, Pak. Jangan main hakim sendiri," seru bang Givan dengan berjalan mendekat ke arah kerumunan. 


"Aku bukan penculik." Ajeng langsung berteriak histeris. 


"Ajak Elang, Bang. Bawa main sama yang lain." Bang Givan menggendong Elang dan memberinya pada Chandra yang masih berada di dekat situ. 


"Biar kami aja, Bang. Takutnya mereka kebawa emosi." Bang Ghavi dan bang Ghifar mengambil alih untuk memegangi tangan Ajeng. 


Masa iya kompak begini? 


"Ayo kami antar ke balai desa." Salah seorang warga yang sepertinya tengah lewat membawa mobil menunjuk mobil di jalanan depan gerbang rumah bang Givan. 


"Oh ya, Pak. Makasih sebelumnya." Bang Ghifar dan bang Ghavi benar-benar membawa Ajeng. 


Eh, aku yang bingung. 


"Bang, gimana sih?" Aku garuk-garuk kepala. 


"Ayo antar Mamah, Vin. Kasih dulu anak kau ke Ria." Mamah Dinda menepuk pundak Gavin. 


"Ya, Mah." Kirei langsung berpindah padaku. 


Apa yang terjadi, Kirei menangis bersama ibu kandungnya ini. Anakku lengket sekali dengan ayah sambungnya. 


"Bentar, Dek. Bentar ya?" Gavin menyempatkan untuk mencium Kirei. 

__ADS_1


Aduh, gimana sih yang sebenarnya? Aku penasaran sekaligus bingung. 


...****************...


__ADS_2