Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD255. Panggilan grup


__ADS_3

"Gimana contohnya, Mbak?" tanyaku menyimak. 


"Ya misalkan sendok enak loh, begini caranya, begini lajunya, begini cara pegangannya." 


Aku terkekeh geli mendengar penjelasan singkat mbak Canda, bisa membahas itu antar laki-laki tapi terasa menggelikan. Kita saja yang perempuan kadang sungkan, apalagi jika tak akrab. 


"Jadi harus luas sabarnya ya, Mbak?" Aku menghela napasku dan mengusap perutku. 


"Iya, Dek. Bawa santai aja, kita cari kegiatan dan kesenangan kita sendiri. Daripada nungguin suami datang terus, tegur aja kalau keterlaluan dan keseringan. Tapi aku sih yang penting mas Givan tuh izin." Tangannya terulur mengusap perutku. 


"Gavin pun izin, tapi aku kan mikirin juga kenapa dia tak pulang-pulang." Aku melirik ke arah Kirei yang tengah bermain dengan Cala di atas karpet. Di belakang Kirei, ada pengasuh Cala yang menjaga Kirei agar ia duduk tegak. 


"Ya semoga diberi keselamatan terus, jangan berpikir negatif aja. Terus gimana tentang kandungan kau?" Mbak Canda mengulurkan cemilan padaku. 


Aku menerimanya. "Ya tak gimana-gimana, benar kembar tiga. Yang dua, plasentanya barengan. Yang satu lagi, dia plasentanya sendirian. Resikonya lahiran dini, kurang dari tiga puluh delapan minggu katanya. Lewat sesar lagi, karena aku punya riwayat sesar. Pertumbuhannya normal dan sesuai katanya, tapi tengok besarnya perut aku hamil satu bulan ini." Aku menunjukkan perutku yang seperti orang kembung ini. 


Ia terkekeh kecil. "Ya tak apa, Dek. Sekalian banyak nanti pas lahiran. Kalau mas Givan tak trauma, Mbak pun pengen ngasih dia keturunan lagi. Dia urus betul ke anak, excited betul ke anak. Jadi aku senang, karena dia berperan besar untuk anak-anaknya." Senyumnya menggambarkan kebanggaannya.


"Yung, pon." Cali muncul dengan berpegangan pada tembok, di tangan kanannya ada sebuah ponsel milik mbak Canda. 


"Mana? Mana? Siapa, Dek?" Mbak Canda menghampiri Cali. 


Mata si sulung melebar melihatku ada di sini. Ia berteriak girang, kemudian berpegangan pada paha mbak Canda untuk bisa berjalan. 


"Bo, pe." Cali menengadahkan tangannya. 


"Hallo, Bang." Kak Canda melambaikan tangannya ke arah layar ponsel. 


Ia berjalan pelan, karena anak asuhnya menjadi dirinya sebagai tempat berpegangan untuk berjalan.


"Bo, pe." Cali sudah sampai di hadapanku, kemudian menepuk-nepuk pahaku.


"Bo, Bo, Bo. Ibu, Mbu." Aku mengajarinya memanggilku. 


"Pe." Ia manggut-manggut beberapa kali. 


"Apa tuh? Wah? Serius?" 


Aku memperhatikan mbak Canda yang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang telepon tersebut, panggilan video mereka masih berlangsung. Namun, aku tidak tahu siapa yang berbicara padanya. 


"Bo, pe!" Cali memukul pahaku. 

__ADS_1


"Aduh, HP? HP terus sih Kakak tuh, main sama Adek Kirei." Aku menunjuk anakku yang berbagi mainan dengan Cala. 


"Pe, Bo!" Ia merengek memaksa. 


Anak ayang Apin ya begini. Sepertinya begini juga nanti si triplets. 


"Nih, Mbu kasih pinjam. Tapi jangan lama-lama ya main HPnya?" Aku memberi pengertian pada anak perempuan berkulit hitam manis ini. 


Ia mengangguk cepat, air matanya terlanjur menggenang di kelopak matanya. Ia langsung duduk di lantai, di dekat kakiku. Saat aku memberinya ponsel dan membukakan aplikasi YouTube. Jemari kecil anak itu bisa memilih video, tapi sebelumnya memang aku mencarikan dulu lagu anak-anak untuknya. 


"Nih, ada Ria juga." Mbak Canda duduk di sampingku, ia membagi layar ponselnya padaku. 


Apa itu?" tanyaku, melihat panggilan grup sedang berlangsung. 


"Ayang Apin." Aku melambaikan tangannya melihat suamiku yang ada di panggilan grup ini juga. 


"Ish! Malah Ayang Apin." Beberapa orang di grup panggilan tersebut malah menggerutu. 


"Saya terima nikah dan kawinnya Ajeng……"


Apa??? 


Aku melongo saja, mendengar ayah kandungnya Kirei mengucapkan akad nikah dengan satu tarikan napas tersebut. Terdengar begitu mudah, tanpa merasakan beban yang nantinya akan ditanggung. 


"Ehh." Aku memperhatikan satu kolom panggilan video yang terpampang wajah suamiku. 


"Iya kalau lagi hamil tuh jangan lihat orang akad, jadinya sawan ibunya."


Celetukan siapa itu? 


"Tak begitu juga." Papah Adi dan mamah Dinda terkekeh. 


"Kok tiba-tiba nikah?" Aku bingung dengan keadaan ini. 


"Iya, tapi kali ini tak hamil. Kecolongan aja memang." Mempelai laki-laki tersenyum geli ke arah kamera. 


"Heh, mana sahnya?" Mbak Canda sampai menggaruk kepalanya. 


"Belum, gagal. Salah sebut mahar, Cendol." Bang Ken fokus ke depannya kembali. 


"Siri kah?" Pertanyaan itu datang dari bang Givan. 

__ADS_1


"KUA, daerah perbatasan." Bang Ken terlihat tengah berjabat tangan kembali. 


Benar-benar dinikahi Ajengnya, lebih muda dariku, harus menghabiskan hidupnya dengan manusia Ken itu? Ya ampun, aku tidak menyangka. 


Ganteng memang, tapi harusnya tidak semua kandidat daun muda harus menjadi istrinya. Bang Ken tidak memikirkan bagaimana kedepannya rupanya? 


Tapi apa yang ia katakan tadi? Belum hamil tapi memang sudah kecolongan? Yang artinya, Ajeng sudah ditiduri lebih dulu kah? 


Ish! Dasar tabiat, memang mengerikan laki-laki satu itu. Gavin mesum juga, tidak sampai nyolong start lebih dulu. Kami berhubungan suami istri untuk pertama kalinya, ya di malam pertama saat di hotel itu. 


Ajeng terlihat sombong, seolah mahal dan tak mudah diluluhkan oleh laki-laki. Tapi nyatanya, ia tumbang lebih dulu sebelum disahkan. 


"Wah, rekor nih. Lain anak nanti lain lagi ibunya." Ayang Apin berani meledek. 


"Sah…." Beberapa orang di sana berseru serentak. 


Bagaimana keluarga Riyana? 


"Alhamdulillah." Kebanyakan dari kami hanya mengatakan hal itu. 


"Yey, bisa kuras tangki setelah ini." Bang Ghifar tertawa geli. 


Ia memakai setelan jas resmi, sepertinya ia tengah bekerja. Ada alunan musik, sepertinya dari tempat bang Ghava. 


"Kita udah punya endingnya masing-masing ternyata." Bang Ken tersenyum ke arah kamera. 


"Belum, nanti tunggu aku lahiran. Masa iya main langsung tamat di sini aja? Nanti sih, aku belum lahiran. Apa nanti tak kepikiran, bagaimana drama triplets nanti?" Aku langsung komplain. 


"Ya kalau gitu, nanti tak tamat-tamat dong. Ini kan udah dapat endingnya semua, terus ending deh tamat. Kan begitu kalau novel pada umumnya, Ria." Papah Adi bertutur lembut. 


"Nanti, Pah. Tunggu aku lahiran, baby triplets launching. Baru tamat, biar plong gitu." Aku tersenyum lebar. 


"Jaga Hana, sayangi dia. Urus anak-anak aku kek anak kau sendiri, karena aku pun bakal berlaku sama ke Elang. Tapi kalau sebaliknya, aku tak akan segan kasihkan Elang ke ayah kandungnya yang ada di Jakarta itu." Bang Ken seperti mengancam istrinya. 


Edan, baru juga akad. 


"Eh, ayahnya di Jakarta?" Karena setahuku ada di Brasil. 


"Ya, ada. Makanya dia kalap di sini. Istri baru ayahnya Elang bertugas di pemerintahan yang mengatur tentang ekspor industri, dia memang berpengaruh di Brasil, tapi di Jakarta pun dia punya wewenang. Otomatis, ayahnya Elang pun jadi orang penting sekarang."


Oalah, pantas saja mamah Dinda begitu bingung untuk bertindak. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2