Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD43. Bagaimana nasibku?


__ADS_3

Telingaku serasa memerah, karena dua pelepasanku ia berikan dengan waktu yang cepat. Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Moodku tiba-tiba hancur, jika aku baru saja mendapatkan kl*maksku. Tapi, kali ini berbeda. Aku tetap terbakar api minat, meski sudah dikeluarkan dua kali olehnya.


“Hmm, gimana kalau masuk?“ Ia membisikkan dengan suara bass yang terdengar seksi.


Apa sudah waktunya aku menikah? Agar bisa merasakan sensasi seperti ini setiap hari. Tapi, jika laki-lakinya bukan dia. Apa sensasi seperti ini bisa aku dapatkan?


“Aduh, Abang.“ Aku terlonjat.


“Hm, kenapa?“ Ia memberikan senyum menenangkan kembali. Ia seolah menyihirku dengan suara lembut, yang ia gunakan sedari tadi.


Bang Ken sudah menempatkan miliknya di pintu masuk. Saat aku terlonjat tadi, ia sempat menekan miliknya pelan.


“Kau panas betul, Dek.“ Duda ini membisikkan kata-kata, lalu memainkan telingaku kembali.


Aku kelabakan karena ia melakukan ini sedari tadi. Aku tidak bisa membawa kepalaku menghindar darinya, agar telingaku tak menjadi sasarannya. Namun, bang Ken selalu bisa menguasaiku.


Kini ia membingkai wajahku, ia mengajakku untuk beradu mulut. Caranya berciuman tak membuatku ilfeel, malah membuatku semakin ingin melakukannya.


“Hmpppppp….“ Aku merasa tekanan kembali. Kini diikuti dengan terkuncinya tubuhku, karena bang Ken mebebankan berat tubuhnya padaku.


Aku pun tidak bisa bersuara atau berteriak, karena bibirku dibungkam oleh mulut berkumis tipis itu. Aku mencoba mendorong bahunya, tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Ia begitu kuat untuk didorong, tenaganya tidak sebanding dengan tenagaku.


Aku semakin panik, bang Ken tengah mengusahakan untuk memasukiku. Caranya halus sekali, ia tak ragu menariknya kembali saat aku sudah kelabakan.


“Abang, aku tak mau.“ Akhirnya, mulutku bisa terbebas darinya.


“Abang tak akan ninggalin Adek, Adek tenang aja.“ Bang Ken mengusap-usap pipiku.


“Abang harus nikahin aku!“ Aku menuntutnya.


“Abang tak akan pergi. Adek tenang aja.“ Ia menyatukan dahi kami.


Keahliannya dalam menaklukkan perempuan dipraktekkan lagi. Kata-kata mutiaraku memohon untuk dilepaskan, hanya dibalas dengan cumbuannya yang lebih memabukkan saja.


Ia kembali menurunkan kepalanya, membuatku semakin ingin memilikinya seutuhnya.

__ADS_1


“Abang harus nikahin aku, Abang.“ Aku seperti memohon dengan menarik rambut kepalanya pelan.


Rasa lonjakan itu semakin memuncak, rasanya aku ingin meledak sekarang juga. Namun, aku dikecewakan karena ia malah menaikan kepala lagi. Ia pasti tahu, dengan tanda-tanda pelepasanku. Aku tidak bisa menyamarkan tatapan penuh harap untuk dilepaskan ini, tapi aku tak bisa memohon agar ia tetap berada di sana.


“Abang sayang kau, Ria. Abang pengen miliki kau.“ Ia menyerang telingaku lagi.


Aku tak menjawab, aku ingin mendengar semua kata-katanya yang keluar dari mulutnya. Aku membiarkannya memberi penekanan lagi, aku tak mau terlalu panik karena aku tahu ia hanya melakukan sebatas itu.


Tubuhku sudah penuh dengan tanda kepemilikan. Mungkin, aku sudah seperti manusia belang. Kantuk tidak menyerang kami, yang sudah bercumbu dari satu jam yang lalu.


Aku tidak mengizinkannya, tapi kegiatan seperti ini terjadi tanpa kesengajaan. Aku tidak tahu, kapan pakaianku dan pakaiannya melayang. Aku hanya tahu, jika aktivitas kami ini, kami lakukan di bawah selimut.


“I love you, Ria.“ Ia mengatakannya persis di depan wajahku, aku merasa tatapan itu begitu dalam.


Aku yakin, jika perasaannya itu benar ia rasakan.


Tiba-tiba, aku mendapat sentakan yang mengagetkan. Aku tidak bisa mencerna, apa yang tengah terjadi saat ini. Begitu cepat, hingga hanya pedih yang terasa setelah beberapa detik terlewat.


Aku tak mampu berkata-kata. Ia kelabakan dengan ekspresi kenikmatan, belum lagi kuncian tubuhnya, membuatku benar-benar pasrah di bawahnya.


Aku mencoba tidak berpikir ke arah situ. Namun, ujung kakiku langsung mendingin setelah aku tahu bahwa ia benar-benar tengah merenggutku.


Rasa takutku langsung mengerubungiku. Bagaimana murkanya bang Givan, jika ia tahu aku direnggut kakak angkatnya sendiri? Bagaimana kecewanya ibu, ketika suamiku kecewa setelah mengetahuinya, karena bukan bang Ken yang menikahiku? Bagaimana caranya aku menyembunyikan tanda-tanda bahwa aku sudah tidak suci lagi, dari keluarga besar yang mayoritas adalah laki-laki dewasa yang paham tentang perbedaan gadis dan perawan? Bagaimana caranya aku menghadapi dunia setelah ini?


Mentalku luruh dalam pelukannya. Ia memperdayaku, dengan cara yang begitu halus. Ia membuatku percaya dengan gerakannya, sampai akhirnya ia memberikan hentakan tak terduga.


Laki-laki jenis apa bang Ken ini?


“Sayang….“ Ia menghapus air yang membasahi mataku.


“Hei, jangan nangis. Tak sakit kan?“ Ia menatapku dengan cintanya.


Aku cukup peka dan aku cukup paham dengan tatapan laki-laki ini.


Aku menggeleng. Ini bukan karena sakitnya, tapi ia mengambilnya di waktu yang salah. Tangisku semakin terdengar lepas, sekejap saja aku langsung sesenggukan memilukan.

__ADS_1


“Abang jahat.“ Aku mencoba mendorong dadanya.


Ia tetap tidak bergerak sama sekali.


Di bawah sana pun, tidak ada pergerakan yang berarti. Kerisnya hanya bersemayam di dalam tubuhku, dengan rasa panas yang menjalar dari sana. Benda itu seperti hidup, seperti memberikan sensasi hangat dan penuh pada perutku.


“Abang tak bakal pergi.“ Ia menahan tanganku. “Abang tak akan ninggalin gitu aja. Jangan nangis, Dek. Jangan mikirin hal buruk, karena Abang selalu buat Adek.“


Teksnya seperti yang bang Givan beritahu, tentang laki-laki buaya di luar sana. Tidak ada janji menikahi, karena memang mereka hanya ingin bermain-main saja. Tetapi, aku mencobanya lebih dulu. Mana tahu, bang Ken berani menjanjikan pernikahan untukku.


“Abang, Abang janji nikahin aku kan?“ Suaraku amat buruk terdengar.


“Adek tak akan Abang buat hamil, Adek jangan takut, tak ada yang tau kok. Cuma kita berdua yang tau, cuma Adek dan Abang.“


Sungguh, aku kecewa mendengar penuturannya. Bukan kalimat itu yang ingin aku dengar, meski aku tahu hanya kalimat penenang.


“Aku mau pernikahan!“ Aku menuntut itu darinya.


“Iya Abang tak akan tinggalin, Adek tenang aja.“ Ia mencoba merapikan anak rambutku yang menutupi wajahku.


Bagaimana jika kematian mendahului? Kenapa ia malah terus berbicara tidak akan meninggalkanku?


Tangisku semakin lepas, karena memikirkan bagaimana jika orang lain menolakku karena kondisi ini. Aku tak bisa berpikir jernih, karena ini pun bukan kehendakku. Aku percaya padanya, karena sejak tadi ia bisa mempertimbangkan gerakannya. Aku tidak menyangka, jika akhirnya aku mendapat sentakan tak terduga.


“Sakit betul kah, Dek? Jangan panik, Dek. Apa yang Adek pikirkan?“ Ia mengusap-usap pipiku.


Oke, aku akan mengancamnya.


“Kalau Abang tak mau nikahin aku, aku bakal lapor polisi. Kalau Abang tak mau tanggung jawab atas perbuatan Abang, aku bakal lapor ke bang Givan. Aku tak ngomong bohong, aku bakal lakuin itu!“ Suara tegasku amat parah dengan getaran tangisku.


Bagaimana nasibku???


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2