
"Tak apa." Aku menggeleng, lalu menarik selimut sebatas leher.
Kenapa aku ini nampak haus laki-laki? Apa karena kebutuhan wanita dewasa? Ditambah, aku lama tidak merasakan sentuhan laki-laki?
"Kau buat aku takut." Ia bergidikan dan keluar dari kamar ini.
Kenapa ia takut? Aku perempuan dan ia laki-laki? Aku jadi penasaran, bagaimana ia menyerang Ajeng jika ia takut dengan perempuan?
Rasa minat ini, membuatku susah terpejam kembali. Bodohnya aku, malah membayangkan dia datang kembali ke kamarku dan melakukan hal yang tidak sopan.
Aduh, keturunanmu, pah. Dia memiliki daya pikat tersendiri, dari bang Ghifar yang senyumnya mengandung gula aren sampai ke Gibran yang diamnya malah begitu menarik. Rupanya, kakak dari Gibran juga memiliki daya tarik besar jika bertelan*ang dada.
Dengkuran lepas kembali terdengar, kenapa laki-laki mudah sekali pulas? Bahkan, ia mendengkur kuat meski tubuhnya tidak gemuk.
Aku memilih memeluk Kirei, bau parfum tubuh Gavin menempel di pakaian Kirei. Begitu memikat, tapi terasa lembut dan memenangkan.
Aduh, semakin gila aku ini.
Sampai pagi pun, aku malah salah tingkah kala berada di satu meja makan dengan Gavin. Ia makan santai, tapi ke mana perginya kaosnya itu? Kenapa seperti sulit sekali memakai kaos saja? Aku jadi tidak n**** makan, tapi n**** yang lain.
"Kau berlebihan pakai blush on?" Mamah Dinda mengamati wajahku, ketika ia menaruh lauk di hadapanku.
"Tak, Mah." Bahaya, mamah Dinda mulai cerita.
"Ehm, masa subur tiba rupanya." Papah Adi melirikku, kemudian ia tertawa geli.
Mereka bisa membaca keadaanku?
"Blushing," celetuk mamah Dinda dengan bergerak kembali ke depan kompor.
Mereka benar-benar paham, kan aku jadi malu. Kenapa wajahku segala memerah sih?
"Tanya Mamah dong, gimana caranya, Mah. Mamah kau bisa menanggulanginya," timpal papah Adi yang semakin membuatku malu.
Mamah Dinda tertawa lepas. "Nonton film."
Eh? Maksudnya aku disuruh menyentuh diri sendiri? Aku tak pernah berpikir ke arah itu.
Papah Adi tertawa lepas kembali. "Sakitnya hati ini melihat kau mandiri."
Apa mamah Dinda pernah mandiri dalam hal sentuh menyentuh?
"Daripada blushing setiap nampak Abang. Buat tak konsen jalani hidup ini." Mamah Dinda membawakan lauk pauk lain ke atas meja makan.
"Kau cuma perlu minta." Papah Adi terus tertawa.
"Abang suami dzolim." Mamah Dinda memasang wajah jeleknya.
__ADS_1
"Oh ya? Masa iya? Apa iya? Iya kah?" Suami yang resek papah Adi ini rupanya.
Dalam status suami istri pun, mamah Dinda dalam artian pernah ketahuan papah Adi bahwa dirinya menyentuh dirinya sendiri. Ia punya suami, tapi ia melakukan sentuhan sendiri. Apa papah Adi tidak mampu saat itu? Atau, papah Adi benar-benar dzolim seperti yang dikatakan oleh mamah Dinda.
"Bekas Maya!" Mamah Dinda meraup wajah suaminya terus menerus sampai papah Adi tertawa lepas.
Oh, perkara orang ketiga.
"Satu kesalahan, masih diingat sampai ke anak cucu," ujar Gavin dengan melirik ke arah orang tuanya.
"Itulah Ma kau." Papah Adi melirik istrinya yang berada di belakang kursinya.
Aku kira, dzolim yang seperti apa. Aku kira, dzolim yang seperti tidak mampu. Rupanya, tentang orang ketiga. Karena orang ketiga pun, mamah Dinda memilih untuk menyentuh dirinya sendiri ketimbang dengan meminta pada suaminya.
"Cali tidur jam berapa, Mah? Aku jam sebelas pulang, udah gelap semua ini lampu." Gavin membuka obrolan lain.
Ternyata ia datang jam sebelas? Berarti ia sudah lama tidur di ranjangku? Ish, kenapa hanya tidur.
Eh, entahlah! Akh tengah kacau sekali sekarang.
"Jam sepuluhan, kanan kiri minta dikasih bantal. Atas bawah pun dikasih bantal, terus sendirinya keset-kesetin tangan dan kakinya. Lagi banyak tingkahnya anak kau itu, ngomong sih ya belum bisa. Banyakan kosa kata Cala, cuma gerakan ya lincah anak kau. Cala biasanya ngesot, itupun sesekali pindah tempat. Coba anak kau dilepas di lantai, dia udah kek tuyul nyari duit," ungkap papah Adi.
Ternyata benar, Cali di sini karena permintaan Gavin. Ia ingin tertidur bersama anaknya, sayang anaknya tidur duluan. Sepertinya juga, ia mengira Kirei adalah Cali, karena ia sudah amat mengantuk. Ia pun mengira, aku adalah ibunya. Sepertinya sih seperti itu, karena ia tidak membuka mulut kenapa ia ada di kamarku.
"Diajakin ngobrol sih, Pah. Takut speech delay." Gavin condong ke arahku untuk mengambil lauk pauk yang tersaji di hadapanku.
"Ya iya, Vin. Tak aneh telat ngomong, orang ada turunannya."
Iya juga sih, Key saja dulu lima tahun masih cedal. Besar sih, cerewet-cerewet juga akhrinya.
"Siapa?" Gavin tinggal menuang isi gelasnya.
Haduh, aku khawatir mukaku terlihat lebih merah dan terbaca oleh mereka.
"Mamah," aku mamah Dinda dengan terkekeh.
"Sih, bisa lancar kalau maki orang?" Mulut anaknya membuatku tertawa geli.
"Masa harus gagu? Malu dong Gue?" Mamah Dinda berakhir duduk di sebelahku.
Ia menoleh ke arahku, kemudian terkekeh kecil. "Ria, Ria. Bahayanya kau ini! Awas, jangan berani pegang-pegang."
Alamak, aku sudah dapat peringatan dari ibunya. Beliau benar-benar peka, beliau benar-benar memahami keadaanku.
Aku hanya diam, ucapan mamah Dinda pun lirih.
"Terus mandi, Vin. Pakai baju yang rapi, ajak Cali jalan-jalan," pinta mamah Dinda pada anaknya.
__ADS_1
Tuh kan? Mamah Dinda paham penyebabku blushing.
"Iya, Mah. Berdua aja kah? Mamah tak ikut kah?" Gavin masih makan.
"Tak lah, berdua aja. Kalau bertiga, malah jadi ibu sambung anak kau lagi." Mamah Dinda seolah menyindirku.
"Biar Cali bergantung sama kau, karena merengek atau pengen sesuatu cuma ke kau yang ada sama dia masa itu. Quality time lah, mendekatkan diri ke anak sendiri," tambah papah Adi.
"Hmm, khawatirnya nangis kejer terus aku disangka penculik. Dicium aja, dia histeris." Gavin geleng-geleng kepala.
"Biasanya sih, penculik tak ada yang mirip korbannya." Mamah Dinda membuat kami tertawa bersama.
Aku lekas bersiap untuk berangkat. Beberapa kali, aku bolak-balik ke rumah ibu untuk mengambil sepatu dan tas kerjaku. Masalahnya satu, mobilku tidak bisa menyala.
"Papah tuh tak pernah panaskan mobil aku." Aku kesal bukan kepalang, karena mobilku tak terpelihara di garasi mewah milik mereka ini.
"Hei, mana tau lah ada mobil kau di dalam. Mobil Papah tak pernah masuk garasi, ada di bawah pohon terus. Pakai pun sesekali aja, itu pun yang bawa anak Papah." Papah Adi pun tidak bisa membantuku menghidupkan mobilku ini.
"Pakai mobil yang ada aja tuh," seru mamah Dinda dari luar garasi.
"Jangan! Mau dipakai. Mobil Mamah yang aku bawa, boncos ban dari depan sana. Malas ganti aku, nanti aja ada orang ke sini sekalian servis mobil itu." Gavin melarangku mengenakan mobil orang tuanya.
Hm, sedih. Karena malah harus naik ojek online, padahal aku sudah rapi dengan rok span ini. Ditambah, waktu penjemputan yang sampai lima belas menit karena kampung ini begitu pelosok.
"Diantar aja tuh, Ghifar juga udah berangkat dari tadi. Ria tuh kelamaan dandan, bolak-balik aja cari barang." Papah mulai ngedumel saja.
"Ya kan barang aku di ibu semua." Aku keluar dari dan garasi ini mengikuti papah Adi.
Mereka memiliki dua mobil, satu stay di rumah dan satunya dibawa Gavin. Benar adanya tentang ban mobil yang kempes itu, mobil yang Gavin bawa kembali ini dalam keadaan kotor dan kempes ban parah.
"Anterin dulu ke pabrik abang kau, Vin!" pinta papah Adi kemudian.
"Heem, ayo." Gavin kembali ke dalam rumah dan keluar sudah mengenakan kemeja.
Kenapa semakin terlihat seksi? Mataku yang lemah iman kah? Atau pesonanya yang di luar nalar?
"Nitip Kirei ya, Mah?" Aku pamit pada mamah Dinda yang berdiri di teras dengan menggendong Kirei.
"Oke. Semangat kerjanya." Mamah Dinda tersenyum lebar.
"Siap, Mah." Aku pamit pada papah Adi dan kemudian berjalan ke arah mobil. Gavin sudah masuk ke dalam mobil, ia bertugas sebagai sopir dadakan.
Tuh kan? Wanginya semakin menghipnotisku. Duda ilegal ini membuat mabuk kepayang saja.
"Ehh, kau kenapa sih? Diam-diam aku perhatikan ya? Kau ini agak aneh, sering nunduk muka mendadak merah gitu. Apa kau? SANGat kangEn kah?" Percaya atau tidak, ia seolah mempertegas huruf besar tersebut.
Mati kutu.
__ADS_1
...****************...