Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD186. Tolong jika meminta bantuan


__ADS_3

"Kok bisa bang Ken rujuk sama kak Riska, Mah?" Aku bersandar pada baju beliau. 


Kami tengah menikmati malam minggu bersama, dengan ditemani oleh keluarga yang komplit dan juga para cucu yang tepar di teras rumah ini. Mereka bisa terlelap dengan sendirinya, di atas karpet yang sengaja diampar di teras rumah. Dengan aku dan mamah Dinda yang menemani tentunya, karena Kirei tengah terbangun dan menyusu padaku. 


"Hamil."


Wew? 


Aku memperhatikan wajah mamah Dinda dari samping. Ini asal menjawab? Atau memang bagaimana? 


"Siapa?" Aku masih terpikirkan tentang Hala. 


"Ya Riska lah! Masa kau!" Mamah Dinda mendelik tajam padaku. 


Emosinya pasang surut, sejak kejadian sore tadi. Tapi lumayan, kapasnya bisa untuk membuat api unggun di tengah-tengah halaman. Untuk bakar-bakar makanan, kami menggunakan alat pemanggang yang menggunakan listrik. Tentu saja alatnya dikeluarkan dari dalam rumah, kemudian dijejer dengan kompor pembakar sosis lainnya. Orang di sini banyak, bisa membutuhkan waktu dua hari untuk mendapatkan jatah yang sama dari makanan yang serupa, jika hanya menggunakan satu kompor saja. 


"Dihamili bang Ken maksudnya, Mah?" Aku masih bingung dengan teka-teki ini. 


"Iya, jangan geger nanti mereka kena sanksi. Berbuatnya tak di sini, nanti malah dihukum di sini lagi kek abang ipar kau." Mamah Dinda berbicara lirih, dengan mengipas-ngipasi cucu-cucunya. 


Entah apa faedahnya rutin melakukan acara seperti ini, karena memang begadang itu kan tidak baik. Tapi percayalah, kehangatan keluarga terasa seperti kumpul hari lebaran. 


Singkong dan ubi yang disediakan di sini. Tapi anak cucunya yang lain, membawa persediaan makanan mereka seperti seafood, ayam, beef, sosis dan makanan yang bisa diolah dengan dibakar. Jika jengkol yang Gavin beli tadi pada Safa, sudah direndam mbak Canda di rumahnya.


Gavin suka jengkol ternyata. 


Sedangkan, papah Adi tak suka istrinya makan jengkol. Maka dari itu, jika mengolah jengkol selalu di rumah mbak Canda. Bermaksud, agar mamah Dinda dan papah Adi tidak sampai mencicipinya. 


"Udah berapa bulan?" tanyaku lirih. 


"Dua bulan." Mamah Dinda mengolesi lotion anti nyamuk ke salah satu kaki cucunya. 


Berarti, mereka benar sering melakukannya? Yang kasihan sekali di sini adalah Hala, semoga keperawanannya masih terjaga dan ia tidak hamil. Sudah cukup aku korbannya, semoga tidak ada korban lagi. 


"Mamah kata siapa?" Aku kepo sekali di sini. 

__ADS_1


"Kata Ken sendiri lah, tadi dia yang anterin undangannya. Udah tinggal di rumahnya dari tiga hari yang lalu datang itu, tapi entah kenapa tak dibawa-bawa ke sini. Mungkin niat dierami sendiri kali." Mamah Dinda terus mengolesi lotion anti nyamuk pada kulit cucu-cucunya secara bergantian. 


Anak siapa yang masih melek itu? Anak Gavin, setelah ini akan dipanggang oleh ayahnya itu. Sebenarnya, bukan tidak mau tidur. Hanya saja, ayahnya menggangguinya terus sampai pukul sebelas malam ini. 


"Berapa sih usia kak Riska itu?" Karena aku pikir, kak Riska bukan usia produktif untuk hamil lagi. 


Miris sekali, anak pertamanya dalam pernikahan. Anak keduanya, malah di luar pernikahan. Ya memang, aku pun pernah berbuat dosa yang sama meski tidak sampai hamil. Tapi, harusnya kan mereka tidak usah cerai sampai banyak hati yang terluka seperti ini. 


"Seumuran deh. Empat puluh duaan, masih bisa hamil. Duh, tak kebayang resikonya. Mamah belum empat puluhan masih hamil tuh, resikonya di depan mata, Dek. Hamil, melahirkan bisa. Eh, malah pendarahan. Ada aja tuh resikonya."


Aku jadi terpikirkan tentang ucapan serapahku tadi. 


"Terus, Hala gimana?" Nama itu yang terlanjur memiliki sematan buruk di hatiku, meski akhirnya kasihan juga. 


"Ya mau gimana lagi? Dia tak bisa maksa lah, ini keadaan Riskanya hamil. Mungkin dia bakal maksa, kalau Riska tak hamil." Mamah Dinda menggaruk kaki Gwen, yang digaruk oleh Gwen sendiri. 


Gwen ini anaknya Giska, anak bungsunya. Ia memiliki penyakit kejang setiap demam, membuatnya sering bolak-balik rumah sakit meski sakit demam ringan karena rawan sekali kejang. Daya tahan tubuhnya kuat, maksudnya ia tidak sakit karena aktivitasnya. Tapi, ia mudah sakit jika keluarga satu rumahnya sakit. Ekonomi benar-benar lagi di atas, setiap bulannya dikuras untuk biaya rumah sakit Gwen. Memang dicover asuransi, tapi kan tidak full. 


"Kasian ya, Mah?" Aku melirik ke dalam apron untuk melihat wajah Kirei. 


Hanya malam saja ia ASI padaku. Karena lebih praktis menurutku. 


"Ya maksudnya tuh, gara-gara satu laki-laki kita perempuan jadi gini." Aku melepaskan apron, karena Kirei sudah lelap dan tidak sadar menyusu padaku. 


Bagaimana nanti, jika ia tahu ayahnya seperti itu? Aku khawatir senyumnya akan menjadi mahal. 


"Cuma kau kok yang punya anak dari Ken. Udahlah, biar ikhlas nih, kau tanamkan di otak kau, masih untung baru satu anak, masih untung belum terlanjur lebih jauh darinya." Mamah membenahi letak kaos kaki Kirei. 


Iya sih benar. Aku harus bersyukur, karena dilepaskan sebelum menjadi bertambah rumit. Tentang bagaimana mereka itu, biarlah menjadi masalah mereka sendiri. Aku tidak boleh mencampurinya, apalagi terlampau ingin tahu tentang bagaimana mereka. 


"Mah, suruh tidur nih." Gavin berjalan ke arah kami dengan membawa anaknya. 


Ia sudah dianiaya oleh bang Givan, dengan cara bajunya disangkutkan ke paku. Alhasil, bajunya kini terbuang karena sobek. Sudah tahu semua keluarganya emosian, segala ia terlampau polos. Ketika ditanya, ia cuma mengatakan bahwa dirinya panik. 


Entah akan sebewara apa rumah tanggaku dengan dirinya nantinya jika jadi.

__ADS_1


"Sini sayang, Ayah itu resek ya?" Mamah Dinda mengambil alih Cali. 


Kasihan sekali ia, sampai keringat membasahi wajahnya. Ayahnya tak mengerti ampun saat bercanda itu. 


Cali reflek memukul wajah Gavin, ketika ayahnya itu akan menciumnya kembali. Lucu sekali melihatnya marah, lirikan matanya tidak bisa berbohong dari kemarahannya. 


"Ayah bocah," ledekku padanya. 


Ia menoleh ke arahku. Rasanya, aku pun ingin menggantungnya di paku seperti bamg Givan tadi. Di depan ibunya sendiri, tangannya berani mencolek dadaku. 


Aku tidak bisa berkata-kata, aku hanya mampu melongo saja melihat keusilannya yang sudah menjalar ke mana-mana. Ia tidak paham kira, atau ia lupa jika ada ibunya di sini. 


"Heh!" Mamah Dinda langsung memelototi Gavin. 


"Begitu ya kau rupanya?!!" Mamah Dinda geleng-geleng kepala. 


"Baru kok, Mah." Wajah paniknya kentara sekali. 


"Baru! Baru! Dasar, keturunan Adi!" Dengan mamah Dinda memaki anaknya keturunan suaminya, seperti benar jika suaminya pun bertingkah mesum seperti ini.


"Iya, papah tuh buat aku isengan." Gavin melirik ayahnya. 


"Papah tuh! Papah tuh! jangan resek lah!" Mamah Dinda menepuk keras tangan Gavin yang mencolek dadaku tadi. 


"Iya, iya. Maaf ya, Kak Ria? Mau colek dagu, kenanya itu." Pandai sekali alasannya. 


"Dah, sana!" Mamah Dinda mengusir anaknya. 


"Huuuu…." Gavin menyempatkan untuk mencium Cali, kemudian meraup wajah Kirei. Kirei sampai kaget, karena tindakannya itu. 


Orangnya benar-benar seperti ini deh. 


"Heh!" Mamah Dinda menempatkan telapak tangannya di dada Kirei, saat Kirei terlonjak kaget tadi. 


Eh, Gavin langsung kabur dengan terkekeh renyah. Ya ampun, nakal dan isengnya luar biasa.

__ADS_1


"Kau sering kan ditoel-toel Gavin gitu?" Mamah Dinda menyipitkan matanya padaku. 


...****************...


__ADS_2