
“Oke.“
Ini adalah sosok kentir nomor dua. Aku heran, ia tidak ada curiganya. Ia main oke-oke saja.
Itulah mengapa aku tidak pernah curhat tentang masalahku padanya. Aku hanya mengobrol saja padanya, tidak dengan bertukar pikiran. Jika menggali informasi, ya ia bisa diandalkan. Tapi untuk memberi saran, ia malah membuat bertambah fatal.
“Kau bengkak begitu?“ Ia sampai mendekatkan wajahnya.
Absurd kakakku ini.
“Ya makanya aku minta mbak temani aku.“ Aku malah berharap ia curiga padaku.
“Oke deh. Tapi lebih baik pulang aja sih, toh bang Ken pun udah tak pernah muncul di sini. Uang untuk Bunga, dikirim aja ke rekening mas Givan. Mamah nanya, katanya ada di luar kota terus. Pindah-pindah terus tuh, tapi terakhir ditelpon tuh pas Bunga sakit, katanya ada di Columbia.“
Kenapa ia sejauh itu?
Jika menggali informasi, ya ia bisa diandalkan seperti ini.
“Dia ngapain, Mbak?“ Tetap saja aku penasaran tentangnya.
“Beli obat katanya sih. Pindah-pindah terus, tapi tak pernah pulang. Kau pulang aja tak apa, bang Ken pun pasti udah lupa sama kau.“
Aku yang akan sulit untuk terbiasa dengan dirinya lagi, karena aku sudah mengandung anaknya. Aku tidak mungkin bersikap biasa saja, karena aku memiliki kenangan dengannya.
“Aku pengen kerja di Brasil aja, Mbak.“ Aku ingin menyembunyikan keberadaan anakku dulu sampai ia besar.
“Mamah memang ngebolehin, tapi papah tak izinkan. Tak ada yang berpencar kata papah, silahkan usaha di mana aja, tapi tetap buatlah rumah dan tinggal di lingkungan ini. Lagian ibu kau udah tua, Ria. Kau muda udah merantau aja, waktunya kau anteng nunggu jodoh sambil nemenin ibu. Mbak sih jelas bakal sama ibu terus, mas Givan sampai jatah segala macam, ya biar beliau udah di sini aja. Katakanlah, keluarga kita ini selain benalu, kita ini sebatang kara. Kita cuma bertiga, Ria. Orang tua tinggal satu, kau jangan aneh-aneh. Brasil itu jauh, Ria. Gavin dekat Lampung aja, masih satu pulau, udah diminta papah untuk buat rumah di sini, udah diminta untuk pakai orang aja. Padahal anak laki-laki tuh, apalagi kau anak perempuan. Papah tuh marah-marah, suruh nemenin kau wisuda terus jemput. Udah katanya, jangan ladenin Ria, jangan izin mamah lagi. Mamah sih pengen semua anak-anaknya maju, papah sih pengennya anak-anaknya ngumpul. Katanya Aceh cukup besar untuk kalian, kenapa harus keluar dari sini? Ibu sih terserah aja, karena beliau ngerasa kau belum sukses.“ Bocor semua informasi dari mbak Canda.
Ternyata, aku akan dijemput setelah wisuda. Aku harus ikut pulang, tapi bagaimana dengan anakku?
“Jadi nanti aku mau dijemput, Mbak?“ Aku sudah takut memikirkannya saja.
“Iya, Dek. Ya nanti paling setelah kita selesai liburan. Mas Givan udah ada rencana, katanya mau ajak liburan dulu. Anak-anak tak usah dibawa katanya, Mbak sama mas Givan aja.“ Seperti yang bang Givan katakan sebelumnya, ternyata mereka sudah merencanakan dengan rapi.
__ADS_1
Aku tak mungkin menitipkan anakku dengan keluarga Alfonso. Aku tak mungkin menaruh anakku di panti asuhan di sini. Tetapi, aku takut untuk membawanya pulang. Bagaimana tangisnya ibu? Bagaimana kecewanya mereka semua padaku? Apalagi, jika mereka berpikir aku jual diri di sini.
“Ya udah, nanti ati-ati ya?“ Aku tidak boleh stress, ini sudah menjelang persalinanku.
“Oke, Dek. Mungkin sehari sebelum tanggal empat belas, Mbak sama abang ipar kau udah di sana.“
“Ya, Mbak. Bang Givan tau kampusku, atau nanti gampang kabar-kabaran aja.“ Aku tidak pernah memberitahu pada mereka, jika aku tinggal di rusun. Karena sepengetahuan mereka, aku tinggal di mes.
“Mas Givan juga tau mes kau, nanti gampang kita langsung datang.“
Astaga.
Mereka tidak akan pernah menemukanku di mes, aku tidak tinggal di sana karena keadaanku.
“Ya, Mbak.“ Aku pasrah sudah.
“Udah dulu ya, Dek? Mau kuras ASI dulu, terus bobo.“ Mbak Canda membawa ponselnya berjalan.
“Oke, Mbak. Assalamualaikum.“
Aku langsung mumet. Bagaimana nantinya? Bagaimana, jika aku dibawa pulang kampung? Lebaran saja, aku rela tidak pulang karena kandunganku sudah trimester kedua masa itu. Sudah terlihat perut cembungku.
Aku menatap langit-langit kamar, pikiranku sudah membayangkan kagetnya mereka melihatku pulang dengan membawa seorang bayi. Aku khawatir dicaci maki, aku khawatir mereka membenciku.
Drttt….
Ada pesan masuk. Apa itu mbak Canda lagi?
[Ria, ini kekasih kau bukan?] Foto disertakan di atas chat tersebut.
Itu adalah chat dari Alfonso.
Terlihat bang Ken duduk di kap mobil yang menepi di bahu jalan. Sepertinya, foto diambil secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Aku lekas menyambungkan panggilan telepon lagi, tapi kali ini pada Alfonso. Ia langsung menerima, dengan suara yang sangat rendah.
“Dia cari aku, Ria. Ada teman aku sampaikan ke aku barusan. Aku takut, Ria. Aku baru pulang kelas dan mau masuk mes, tapi dia ada di depan mes aku. Aku ada di bangunan sebelah mes, sialnya teman aku malah ada yang sampaikan ke aku. Aku takut dianiaya, Ria.“
Ia anak militer, ia tak perlu setakut itu. Ia bisa mengadu pada ayahnya, lagipula CCTV tersebar di sini. Ada bukti, jika memang bang Ken memukuli Alfonso. Bang Ken pun bisa dihukum, jika terbukti melakukan penganiayaan terhadap Alfonso. Aku tidak habis pikir dengan seorang Alfonso.
“Temui aja, Fonso. Dia tak pernah aniaya orang, kau percaya ucapan aku.“ Bang Ken menganiaya barang-barang di sekitarnya.
Katanya dia ada di Columbia? Eh, tapi aku baru ngeh jika Columbia dan Panama juga Brasil itu satu pulau.
“Hallo.“
Loh, itu suara bang Ken. Sepertinya, ia mendekati Alfonso.
Aku ada jam kuliah setelah Dzuhur, sampai malam hari. Aku sengaja menggeser waktunya, karena pagi tadi aku baru saja cek kandungan.
“Hah. Oh, ya. Bagaimana?“ Aku bisa mendengar suara kaget Alfonso.
Aku menahan tawaku, karena perutku begitu terkocok membayangkan Alfonso kaget dan panik.
“Kau tengah menelpon seseorang? Maaf, aku mengganggu.“ Bang Ken berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris.
Sepertinya, Alfonso belum sempat mematikan panggilan telepon ini.
“Oke, tak apa. Ada keperluan apa?“
Sayangnya, panggilan terputus saat itu juga. Alfonso sialan, sempat-sempatnya ia memutus panggilan teleponku.
Aku jadi mati penasaran. Aku melongok ke arah jendela kamar, sayangnya letak mereka tidak terlihat. Aku hanya bisa melihat bangunan mes saja, tidak dengan jalanannya.
Rasanya aku ingin menghampiri mereka ke sana, agar tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Meski mungkin keberadaanku tidak aman, tapi aku penasaran dengan percakapan mereka.
Sudah setengah jam berlalu, aku menunggu Alfonso dengan cemas. Bukan khawatir bang Ken memukuli Alfonso, tapi aku penasaran dengan percakapan mereka. Karena bang Ken tidak pernah mendatangi orang, jika ia tidak memiliki kepentingan tersendiri.
__ADS_1
...****************...