Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD40. Semalam seranjang


__ADS_3

Penyambutan yang kurang ramah. Untungnya, aku segera dibawa bang Ken ke bangunan tua kosong yang katanya adalah milik almarhum kakeknya. Bangunan megah yang tidak terawat ini, milik ayahnya abi Haris, ayahnya bang Ken.


“Kenapa tak ada yang nempatin?“ Terlihat sekali bangunan ini seperti rumah angker.


“Abang udah beli, hasil penjualan rumahnya dibagi waris. Tapi Riska tak mau dibawa pulang ke sini, padahal impian Abang ya hidup di sini, di Banjarmasin. Jadi ya terbengkalai, tapi setahun sekali ada perbaikan kok kalau menjelang lebaran.“


Aroma lembab pun terasa, meski bang Ken tengah membuka semua ventilasi udara di sini. Kalian tahu, rumah papah Adi sebelum dibangun rumah anak-anaknya? Sebuah rumah di dekat ladang luas yang jauh dari rumah lainnya. Ya seperti itu juga gambaran rumah yang lantainya kupijak ini. Ketika aku baru sampai di Aceh pun, hanya rumah papah Adi yang berada paling ujung dan tak ada bangunan lainnya.


“Aku tak mau tinggal di sini, aku takut.“ Pasti ada tinggi besar bergimbal dan bertaring juga.


Aku takut.


“Abang renov total ya? Tanah pabriknya ada di jalan depan, kita bisa naik motor atau mobil untuk ke sana.“


Memang uangnya banyak sekali kah?


“Abang punya uang banyak dari mana?“ Aku menepuk sofa yang sangat berdebu ini, setelahnya aku mendudukinya.


“Yang pertama, warisan. Yang kedua, warisan. Yang ketiga, baru hasil dari profesi.“ Jenis-jenis papah Adi dan bang Ghifar ia rupanya.


“Memang kelurganya kaya raya kah, Bang?“ Mataku masih menela*****i isi ruang tamu ini.


“Kakek dari abi, peladang kek papah Adi gitu. Dia punya ratusan hektar lahan kopi dan sawit, dia juga politisi. Kakek dari umi Sukma pun, Abang dapat. Dia pengusaha rumah makan, Abang dapat usaha bagian dari situ, yang alhamdulilah pemasukan stabil. Abang tuh bangun rumah sakit, support finansial dari abi Haris dan ayah Safar, waktu ayah Safar masih hidup. Anak laki-laki itu, menang ke mana-mana. Tapi kewajiban membiayai orang tuanya juga penuh, gitu yang Abang pahami.“ Bang Ken masih beraktivitas untuk menghidupkan pencahayaan di sini.


Rumah megah itu, harus berani pencahayaan lampunya. Kecuali, jika memang request banyak jendela pada arsiteknya. Aku tahu karena rumah mamah Dinda seperti itu. Lantai bawah berani lampu, lantai atas banyak jendela.


Dari ceritanya, aku teringat dengan Chandra. Jangan dikira, Chandra itu banyak memiliki surat tanah di sana. Ibu pun, bahkan membeli sebidang tanah untuk cucunya itu. Aku, mbak Canda, Chandra, memiliki sebidang tanah dari ibu. Itu adalah uang tabungan ibu, beliau nakal emas dan tanah.

__ADS_1


“Kak Kin memang tak dapat?“ Aku tahu, tentang kak Kin adalah anak asuh abi Haris.


“Dapat, Abang pegang. Abi tak ikhlas, karena Ghifar nikah lagi. Kalau Ghifar tak nikah lagi, mungkin kita bakal kasih. Jadi nanti bakal untuk Kalista dan Kafi aja.“ Bang Ken melepas tirai yang begitu lapuk.


Jika kalian tidak familiar dengan nama tersebut, kalian pasti tahu dengan Kal dan Kaf? Ya itu nama jelasnya dari Kal dan Kaf.


“Tapi baiknya bang Ghifar dikasih tau.“ Bang Ghifar menikah lagi pun untuk anak-anaknya.


Selain kak Aca begitu urus dengan bang Ghifar, ia pun keibuan juga. Aku pernah akrab dengan dirinya, karena kak Aca pernah tinggal bersamaku di ruko ibu. Memang tak lama, karena kak Aca masa itu masih baru dalam mengasuh Ra dan ia belum tahu titik lemah Ra. Saat itu pun, aku sudah dipindah tugaskan berkali-kali ke sana ke mari. Tapi hanya aku, orang kepercayaannya yang dipindahkan berkali-kali. Alasannya, katanya agar aku paham di segala bidang usaha manapun.


“Ghifar tau, dia tak pernah bahas juga. Dia tak gila warisan, apalagi warisan mendiang istrinya.“ Bang Ken sepertinya tahu juga tentang bang Ghifar.


Aku malah dengar cerita dari bang Givan, bahwa Ghifar meminta warisan untuk bang Givan agar diberikan ke Chandra saja. Karena mereka, khususnya bang Ghifar, mereka tidak ingin warisan milik bang Givan dibagi rata untuk mereka lagi.


“Apa wujudnya warisan kak Kin?“ Aku bangkit dan meninggalkan tas jinjingku di sofa. Aku ingin melihat sekeliling rumah ini.


“Lahan, sama sarang walet.“


“Setara nilai lahan sama nilai sarang waletnya, makanya nanti Kalista sama Kafi satuan.“ Bang Ken berjalan ke arahku yang melihat ke arah jendela.


“Tapi aku tak mau tinggal di sini, Bang. Saudara-saudara Abang tadi tak ramah, aku tak suka karena merasa dimusuhi.“ Urat wajah mereka begitu masam, senyum pun terlihat seperti dipaksakan.


“Ya itu pun yang buat Riska tak mau.“ Ia sudah berada di sisiku.


“Masalahnya apa? Dia saudara dari mana?“ Anehnya juga, bang Ken masih terlihat ramah meski saudaranya tak ramah. Padahal, bang Ken menitip kunci rumah ini di situ.


“Karena cuma dia keturunan yang tak begitu berhasil. Bisa dibilang, dia paling tak beruntung dari semuanya. Ibunya Kin yang masa lalunya suram aja, dia jadi orang sukses di Hongkong sama suaminya. Ibu dia, adik perempuannya abi Haris sebelum ibunya Kin. Entahlah, intinya orang tak suka aja. Padahal dia juga pendidikan dokter, tapi nasib tak sama.“ Orang iri memang ada di mana-mana.

__ADS_1


“Aku mau ambil hotel aja.“ Hawanya cukup mencekam, rumah ini terasa begitu horor.


“Coba dulu semalam di sini, nanti kita ambil hotel kalau memang ada uka-uka.“


Ide gila!


“Aku tak pernah mau uji nyali, aku cukup stress sama kerjaan aku.“ Aku paling tidak suka yang berbau setan, karena aku sering beraktivitas seorang diri dan suka begadang juga. Aku takut malah penampakan sudah langganan padaku.


“Cobain dulu, kita rapikan ruang tamu ini aja dulu. Kita tarik kasur, untuk dipindahkan ke sini.“ Bang Ken mengedarkan pandangannya.


Lihatlah, plafonnya saja sudah rembes semua. Bahkan, plafon di bagian pojok sudah terlepas.


“Apa betul masih kokoh?“ Aku takut bangunan ini ambruk.


Tidak ada retak rambut maupun retak besar pada temboknya. Tapi, terlihat menyeramkan karena begitu lembab. Di temboknya ada noda air.


“Betul. Nanti deh renov total kalau pabrik udah siap pembangunan.“


Aku diajak susah.


“Kenapa tak cerita kalau rumahnya horor?“” Aku mulai merengek, karena bingung ingin minta untuk kembali juga bagaimana.


“Tak, cuma kurang perawatan aja. Kita coba semalam di ruang tamu aja. Adek kan tau, dari bandara ke daerah ini pun lama perjalanannya.“


Waktu pun sudah menjelang ke sore hari. Perjalanan pesawat tidak seberapa, tapi perjalanan darat ada enam jamnya. Entah bagaimana, jika bang Ken akan bolak-balik ke Malaysia.


“Abang beres-beres sedikit ya? Kita coba semalam seranjang di sini.“ Ia berjalan ke arah ruangan lain.

__ADS_1


Semalam? Seranjang?


...****************...


__ADS_2