
[Aku udah jauh berhubungan sama dia, kami bahkan tinggal satu atap. Maksud aku, kalau aku pulang, aku pulang ke dia. Bunda pun baru-baru sekarang di Indonesia, karena dia ikut suami barunya di Inggris. Bunda di sini, cuma lagi liburan aja. Dulu, perempuan terakhir ini nempatin rumah aku ini. Aku tak paham, kurang gagah aku di mana. Aku tak ngerti, tentang apa yang lebih ia sulitkan untuk katakan ketimbang lebih milih buat kesalahan. Dua tahun terakhir, kami cukup bahagia di sini. Aku cukup percaya dengan salah satu teman yang aku percayakan untuk antar jemput mantan aku kerja dan dia aktivitas di sini. Aku sampai bilang, tolong temani Sherin masa dia ketakutan. Dia ini ada trauma tentang hujan angin, soalnya kedua orang tuanya meninggal karena bencana angin ribut. Toni ini, dia iyakan aja tuh. Sering juga aku tengok story kebersamaan mereka, masanya aku lagi tugas. Aku pikir, itu hubungan wajar sebatas teman. Karena aku tak pernah berpikir sama sekali, kalau Sherin ada main sama Toni. Sampai masanya datang aku cuti, aku ajak dia liburan dan di satu villa begitu. Maaf-maaf, aku bukan perjaka lagi meski aku bujang. Di masa itu, aku nemuin hal yang tak terduga dari Sherin. Kau tau gembok kecil yang untuk variasi itu, tapi yang ada kuncinya? Aku tak sadar, aku tak ngeh, kenapa Sherin begitu sulit diajak berlibur, selalu nolak diajak ngamer. Setelah aku paksa dan aku tau, di bagian bibir intinya, terpasang gembok kecil kecil itu yang nutupin satu titik tempat sensitifnya. Benjolan kecil, yang bisa disebut juga nyawa perempuan tuh. Pasti kau paham kan, Ria? Sehabis aku nemuin hal itu, dia buka semua apa yang ia kurang dapatkan dari aku. Yang paling banyak dia lontarkan, itu tentang kegiatan dewasa kami. Aku tak bisa begini, aku tak bisa buat dia begitu. Aku tak bisa kasih sensasi, aku tak bisa kasih dia titik tertinggi. Bukan aku menjelekan, tapi nyatanya dia ini pasif. Menurut aku, pasif ini karena tak berpengalaman. Rupanya, kepasifan dia ini, adalah tanda kepasrahannya. Jadi kesimpulan aku, dia penyuka s**s yang menyimpang. Entah menyimpang atau tak disebutkannya, karena dia katakan juga bahwa dia pengen aku lebih kasar dan dia buka semua apa yang dia pengen. Yang buat aku tak percaya lagi, dia ngakuin kalau dia dapatkan sensasi itu dari Toni. Toni kasih sensasi, rasa, nikmat, kesakitan, yang tak mampu aku kasih ke dia. Aku shock, Ria. Aku tak percaya, kalau perempuan yang aku jadikan tempat pulang itu ternyata kek gitu. Setelah hal itu, aku sampai datang ke psikolog untuk cerita dan minta pendapat beliau. Intinya, aku mau sharing aja begitu. Karena begitu banyaknya teman dekat, aku merasa pendapat mereka ini tak paham perasaan aku. Mereka selalu kasih pendapat, yang seolah nyalahin aku karena tak bisa kasih kek yang Toni kasih ke Sherin. Makanya aku datang ke psikolog, aku butuh orang yang berwawasan dan pro biar tak buat aku tambah stress. Setidaknya, aku bisa nerima kalau memang Sherin bukan lawan ranjang aku. Keminatan fantasi dia tak alaminya manusia, karena dia di situ juga nyebutin bahwa dia pun suka selingan s**s lewat pembuangan. Aku tak habis pikir, Ria. Pikiran aku tak pernah sampai, kalau harus berbuat sejorok itu. Menurut aku yang merasa jadi manusia, ya kegiatan itu jorok. Karena namanya juga jalur pengeluaran kotoran, bukan jalur masuk bercocok tanam. Maaf ya, mungkin karena cerita ini kau jadi tau gimana aku.]
Aku seperti membaca cerita dengan begitu serour. Aku tidak percaya, asa kasus asmara serunyam itu. Tapi ngomong-ngomong, gimana kisah Sherin den Toni setelahnya?
[Terus, apa mereka akhirnya nikah?] Balasku cukup singkat, setelah membaca pesan yang amat banyak.
[Tak tau, karena terakhir aku ketemu mereka itu di rumah sakit. Aku sampai disarankan untuk cek reproduksiku dan kesehatan aku sama psikolog itu, karena menurut ilmu yang aku tau kalau penyakit s****** itu datangnya dari situ. Dari berganti-ganti pasangan dan lewat jalan yang bulan semestinya. Bersyukur, karena ternyata aku bersih dan sehat. Aku tak bisa bayangkan gimana nasib aku, kalau aku masih berhubungan sama Sherin, yang kemungkinan besar bawa penyakit untuk aku.]
__ADS_1
Aku jadi ikut memikirkan. Apakah mereka berdua berobat rutin di rumah sakit, karena penyakit s****** yang diderita mereka. Eh, tapi untuk apa juga aku ikut campur terlampau jauh. Itu bukan masalahku dan mereka juga bukan orang terdekatku. Aku tak berhak tau banyak tentang mereka, karena aku bukan siapa-siapa juga untukku.
[Tapi jujur, aku tak percaya kalau kau tak terkontaminasi ðŸ¤.] Aku membalasnya seperti ini. Entah kenapa, jemariku membuat balasan seperti itu.
[😡 Kau tak percaya, Ria? Oke, kita buktikan ya? Nanti kita ketemu, ayo kita duel tentang kesehatan kita. Aku akan bawa kau cek kesehatan juga, karena mana tau kau yang terkontaminasi ðŸ¤.]
Aku tertawa kecil, membacanya yang dengan santai menanggapi hal yang aku lontarkan. Dari kalimatnya, ia tidak terlihat marah meski memberikan emoticon marah.
__ADS_1
Duh, kata terkontaminasi ini mengerubungi otakku dan ketenanganku.
[Kenapa tak balas, Ria? Kenapa, cuma di read aja? Kau marah karena candaan aku? Aku cuma bercanda aja, Ria. Aku tau, kau tak mungkin ngelakuin hal seburuk itu. Aku tau, kau perempuan baik-baik. Aku paham, kau wanita suci. Aku yakin, kau tak akan berbuat hal sehina itu. Aku minta maaf ya, karena gurauan aku udah begitu lancang?] Aku tidak percaya mendapat pesan selanjutnya yang berbunyi seperti ini.
Haruskah aku mulai terbuka, kemudian mengatakan seluruh hal yang sebenarnya pada Dika? Apa nantinya ia akan menjauh? Apa nantinya ia tak akan mau berteman lagi denganku?
[Aku tau kau masih suci, Ria. Aku minta maaf, bukan aku pemilih. Maaf juga, bukan aku egois. Karena paksa kau nerima masa lalu aku, sedangkan aku mencari yang terbaik untuk masa depan aku. Tapi pernahkah kau dengar kalimat, yang mengatakan bahwa laki-laki buruk sekalipun, akan mencari perempuan baik-baik untuk dijadikan ibu dari anak-anaknya. Salah satunya dengan alasan ini, aku teramat ingin meminang kau. Tapi sebelumnya aku ajak kau tunangan lebih dulu, karena aku merasa kita belum mengenal lebih jauh. Bahkan nama panjang kau aja, aku belum tau. Aku yakin, nama kau bukan cuma Ria. Sejauh ini kita komunikasi pun, aku tak diberi untuk nengok sosial media kau, karena aku yakin kau nyimpan banyak cerita di sana. Apa, selama kita komunikasi ini kau belum percaya sama aku, Ria?] Dika terus mengirimiku pesan yang membuatku tak percaya dengan isi pesannya.
__ADS_1
Aku harus bagaimana menyikapi seorang Dika yang memandangku sesuci itu? Tapi, jujur saja aku tidak berniat bertunangan sama sekali. Aku tahu, itu akan merugikan pihak perempuannya.
...****************...