Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD139. Melanjutkan pilihan


__ADS_3

“Kalau dilihat dari pengalaman kisah Abang sih, ya memang dua-duanya salah.“ Bang Givan tersenyum lebar.


“Kenapa dua-duanya?“ Aku mempertahankan rahangku untuk menghadap padanya.


“Karena satu sama lain tak mengerti isi pikiran masing-masing. Apa-apa tuh, kau swipe up gitu, dikeluarkan aja kalau mau komplain tentang sikap dia. Biar tak diskomunikasi, biar ada penjelasan sebelum akhirnya mutusin untuk begini begitu. Dulu Abang diungkit-ungkit masalah uang dari toko material, Abang tabung tuh, cita-cita pengen punya rumah sendiri untuk ngempit mbak kau, biar tak lirik-lirikan sama Ghifar aja. Tapi di pikiran mbak kau pas kita keluarkan semua pemikiran kita, dia beranggapan Abang egois dan beli kemauan Abang dengan uang Abang, atau Abang jajanin perempuan. Nyatanya, ya tak begitu juga. Abang kumpulin, untuk bangun rumah. Terungkap lah salah paham di situ, karena komunikasi kurang baik. Abang tuh pas itu udah malas ngomong sama mbak kau, seperlunya aja ngomong. Karena lebih banyak emosinya, ketimbang untuk ngeluarin omongan itu. Ghifar masih tinggal bareng, tiap hari ketemu, duh panasnya ini hati mungkin bisa buat sangrai kelapa parut jadi minyak kelapa murni. Jadi sekali ngomong, takut kelepasan emosi keluar. Jadi, komunikasi itu penting betul. Kasarnya, BAB aja harus pamit biar dia tau keadaan kita yang lagi mules dan sakit perut. Ibaratnya kan gitu? Gimana dia tau kita mules dan sakit perut karena mau BAB, kalau kita main kabur gitu aja karena udah tak tahan sakitnya. Dia pasti salah paham, kalau kita main kabur aja, dia pasti punya pemikiran kalau kau tak betah dan pengen jauhin dia terus. Diibaratkan, mules dan sakit perut ini permasalahan, terus BAB ini tindakan yang kau ambil.“


Pertanyaanku, memang contoh yang paling mudah dipahami itu BAB saja kah? Menebang pohon atau menyetrika, tidak bisa dijadikan contoh kah?


Hm, tapi memang lebih logika dan masuk di akal sih. Lebih mudah dipahami pemikiran orang awam, karena BAB dirasakan semua orang. Sedangkan menebang pohon, mungkin yang merasakannya hanya mereka yang berprofesi sebagai penenang pohon saja.


“Berarti bukan aku aja yang harus dibenahi?“ Aku menunjuk wajahku.


Bang Givan melirikku, kemudian ia mengangguk beberapa kali dan meluruskan pandangannya ke arah luar jendela kembali.


“Jalan keluarnya gimana? Kalau aku nyadarin, dia belum tentu nyadarin.“ Seperti halnya tadi.


“Ya ngobrol berdua, waktu Abang sih dibawa ngobrol dan ditengahi mamah papah. Tapi suami kau bilang udah dewasa, ya baiknya sih memang diselesaikan sendiri aja, kan udah tua juga. Lain Abang sama mbak kau masa itu, tiga puluh tahun aja belum. Masih sama-sama labil, muda dan egonya kuat-kuat. Mbak kau paling merasa tersakiti, Abang pun merasa mbak kau tak pernah ngerti tentang Abang.“ Bang Givan menyindir bang Ken tua. Tapi memang benar sudah tua, salahku saja yang malah memilih orang tua yang susah diluruskan.

__ADS_1


“Abang dengar sendiri kan ucapannya siang tadi?“


Sungguh, ia malah mengedikan bahunya.


“Abang tak tau, Ria. Kepala tak enak betul tadi itu, mana emosi tak keluar lagi. Mau Abang marah-marah, tapi siapa yang mau Abang marahi. Sulit diluapkan, karena lawannya orang gila.“ Secara tidak langsung, bang Givan menyebut kakak angkatnya itu tidak waras.


“Jadi s**s jalan ninja Abang?“


Ia langsung menoleh perlahan, kemudian tertawa geli. “Daripada minum obat warung, mending herbal aja dulu.“


Aku langsung tertawa lepas. Ia pun tertular tawa dariku, bang Givan tertawa renyah.


Ia mengangguk. “Sembuh, langsung plong. Kalau mbak kau sensitif betul, dikit-dikit nangis, dikit-dikit marah. Udah aja, langsung kasih iming-iming dan tekan dia di ranjang. Ini sih kau udah dewasa ya? Pasti paham lah, kalau di dalam s**s itu ada emosi yang tercurahkan juga sebenarnya. Tapi tak semua emosi, bisa dibawa ke ranjang. Karena ada beberapa kasus, malah menyakiti pasangannya karena emosi itu.“


Sialnya, aku pernah merasakannya.


“Emosi yang kek gimana aja yang sebaiknya tak dibawa ke ranjang?“ Agar di kemudian hari aku tidak mengulanginya lagi.

__ADS_1


“Ekonomi dan anak. Aduh, pusing tak punya uang. Ya iya tak punya uang, kelonan aja di rumah. Coba keluar rumah, entah muat pasir atau bongkar batu pun pasti ada yang nyuruh kalau dilihatnya nganggur. Jadi kalau tak punya uang, s**s bukan jalan keluar dari kekesalan akibat tak punya uang. Kalau tentang anak, pusing karakter anak begini begitu, sulit diarahkan. Kelonan aja, ya malah nambah pikiran tentang karakter anak lain yang di dalam perut.“


Ini seperti lawak, aku bisa tertawa lepas dan lega.


“Kau juga perlu tau, kalau tuduhan selingkuh untuk perempuan, s**s itu bukan jalan keluar. Karena kita sebagai laki-laki, pasti akan kasar memperlakukan perempuan. Karena kenapa? Jijik bercampur marah, karena wanita milik kita bekas laki-laki lain.“ Bang Givan sampai mengacungkan jari telunjuknya.


Seperti kasusku kemarin. “Apa Abang pernah?“ tanyaku kemudian.


Ia mengangguk. “Tapi tak pernah Abang lakuin hal kasar ke mbak kau, karena ingat traumanya. Sering Abang bayangkan dulu, mbak kau bekas digagahi Ghifar, kemudian malamnya Abang pakai. Abang tak pernah buka mata kalau ngelakuin, bahkan sering malah membayangkan perempuan lain yang tak dikenal. Biar apa? Biar tak berlaku kasar sama mbak kau? Biar Abang bisa kontrol emosi Abang dan tak ngelakuin kekasaran ke mbak kau. Karena Abang paham, satu gerakan cepat dan kuat tanpa permohonan aja itu bisa sangat menyakitkan. Lain kondisi, kalau memang perempuannya merengek untuk minta hal itu karena tanggung. Mereka itu siap nerima, bukan tanpa aba-aba kasih gerakan tak terduga. Apalagi, kalau memang Abang berniat benar-benar tumpahkan emosi dan kemarahan Abang lewat aktivitas itu.“ Ia bertopang dagu mengamati layar laptopnya.


“Abang percaya tak? Aku pernah dapatkan hal itu,” akuku dengan menyeka air mataku.


Aku melihat gerakan lehernya yang menoleh ke arahku, tapi kemudian ia langsung meluruskan pandangannya kembali. “Abang pernah peringatkan hal itu. Oke, Abang sadari mungkin memang semua laki-laki memang hampir pernah semua melakukan kekasaran di ranjang. Abang pun pernah ikat-ikat mbak kau, atau tak senagaja kasih gerakan yang mengagetkan. Tapi, macamnya diri Abang sendiri kan menyadari dan tak ulangi lagi. Beda wataknya kek dia, yang berantem sama perempuan aja dia tak mau ngalah sedikitpun. Kau perlu banyak ngobrol sama orang tuanya, biar tau wataknya anaknya dan cara mengatasinya. Bang Ken tuh dari kecil udah kasar tuh, jadi tak heran perempuannya pada cerita dia begini dan begitu. Kalau kau mau bertahan, ya carilah cara penanganannya. Kau dekati keluarganya, biar kau dapat informasi yang banyak untuk menanggulangi sifat dia yang tak bisa berubah itu. Abang tak mau ngelarang kau lagi, Ria. Udah capek sendiri, tak mau lebih kecewa lagi. Toh, kau sendiri yang memang maksa mah sama dia. Jadi, ya Abang cuma bisa kasih saran dan solusi. Bukan meminta kau untuk ninggalin, atau buat dinding di antara kalian lagi. Abang tau sekarang, karena itu cuma sia-sia. Harusnya tak pernah Abang pisahin dari awal, karena memang kau pun ingin dapat dia. Salahnya Abang di situ memang. Kau mau, dia mau, kalian sama-sama mau dan kalian juga makhluk hidup, bisa bergerak dan ada tangan dan kakinya. Jadi, dilarang di sana. Ya kalian cari tempat yang jauh, yang sekiranya yang ngelarang itu tak tau.“ Bang Givan langsung menyindir di depan wajahku.


Aku merasa tak enak hati padanya. “Maaf, Bang.“


“Udah tak ada waktu untuk bilang maaf, Ria. Sekarang, kau benahi hidup kau, rumah tangga kau dan masa depan kau. Ini pilihan yang kau ambil sendiri.“ Bang Givan menunjuk meja ini, dengan sorot mata tersorot ke arahku.

__ADS_1


Aku harus dari mana membenahinya?


...****************...


__ADS_2