Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD72. Menggali informasi


__ADS_3

“Ya hallo, udah sampai Brasil kah?“


Ish, ia tidak tahu kah jika penerbanganku akan dilakukan besok malam?


“Brasil, beras kacang sesil! Aku masih di Banda,” sahutku membuatnya terkekeh.


“Kirain.“ Ia mereda tawanya.


“Bang Givan pulang belum, Mbak?“ Aku mulai meluncurkan pertanyaan basa-basi terlebih dahulu.


“Udah, tapi masih di mamah Dinda katanya sih. Mbak baru selesai jemur baju, jadi belum ke sana.“ Mamak-mamak paling santai ya mbak Canda, ia tidak khawatir baju tidak kering karena menjemur terlalu siang.


“Sama bang Ken juga kah?“ Aku berhati-hati sekali untuk bertanya.


“Iya, sama bang Ken. Bang Hafidz pulang bareng, terus berangkat lagi sama papah Adi buat ngurus mobilnya di kepolisian.“ Tandanya bang Ken sudah pulang, berarti ia tidak kenapa-kenapa.


Lalu, bagaimana dengan rontgen tulang kepala yang ingin ia lakukan?


“Ohh, bang Ken tak kenapa-kenapa kah?“ Aku pura-pura tidak tahu.


“Tak tau sih, Dek. Abang ipar kau malah bawa balik, katanya kenapa-napa juga tak apa, nanti dibuat mati perlahan.“


Lah? Bagaimana sih?


“Nyawa seseorang jangan buat mainan loh, Mbak. Nasehati suaminya.“ Aku paham jika bang Givan sudah marah pada seseorang, mulutnya memang tidak ramah seperti mamah Dinda.


“Mas Givan lagi ada masalah keknya sama bang Ken.“


Ini istrinya bagaimana? Apa ia tidak tahu masalah apapun tentang suaminya? Ia tidak tahu, jika bang Ken dan bang Givan tengah tidak akur. Bang Givan sengaja menyembunyikan atau bagaimana? Aku jadi teringat ketika mbak Canda memberi tatapan tidak percaya, saat bang Ken mengatakan ingin menikahiku. Aku tak memiliki feeling, jika memang bang Givan tidak mengatakan apapun pada istrinya tentang aku dan bang Ken.


“Kok keknya sih, Mbak?“ sahutku kemudian.

__ADS_1


“Yaaa…. Soalnya kek banyak gerutunya dia ini pas tau bang Ken kecelakaan. Mas Givan bilang, susah aja ingat saudara, ini itu, banyak lagi. Memang bukan bang Ken yang nelpon mas Givan langsung, tapi mas Givan sendiri yang gerak cepat untuk ke sana setelah dapat kabar. Umi Sukma tak mungkin, Ahya repot dia mertuanya sakit. Umi Sukma pun ada di rumah mertuanya Ahya, dianterin bang Ken. Soalnya, katanya bang Ken ini mau keluar kota. Kasian, umi Sukma tak ada yang nemenin di rumah. Mbak dari tadi chatting sama Ahya, soalnya dia juga bertanya-tanya ini gimana kabar kakaknya. Sedangkan, suaminya dari pergi berangkat sama mas Givan tuh katanya tak ada kabar-kabarnya. Ya mungkin, mereka repot urusin bapak-bapak dari mobil sebelah itu. Soalnya kata mas Givan tuh, bapak-bapak ini minta diuruskan dulu, bang Ken yang terbangkan mobilnya, bang Ken yang salah bisa jadi kecelakaan tuh.“ Dari kalimatnya, mbak Canda tidak tahu pasti dan mendapat dari berbagai sumber. Karena, banyak kata 'katanya dan soalnya' ia tidak tahu pasti apa yang terjadi.


Segala mobil terbang, suka-suka mbak Canda saja deh.


“Ohh, terus gimana lagi katanya?“ Aku tak apa mendapat informasi 'katanya' juga. Yang penting, aku tahu tentang keadaannya di sana.


“Ya entah. Mbak belum lihat sendiri gimana keadaan di rumah mamah Dinda. Nanti deh, Mbak makan siang dulu.“


Aku lekas melirik jam tanganku. Baru jam sembilan lebih sepuluh pagi, makan siang katanya? Aku baru mau sarapan, ia sudah makan siang?


Super sekali ibu menyusui.


“Nanti kabarin ya, Mbak?“ Aku tidak tahu tentang aku bertanya pada mbak Canda ini akan sampai ke telinga bang Givan tidak. Karena jika ia tahu, bang Givan pasti marah besar karena aku masih memikirkan tentang bang Ken.


“Oke, oke. Kok bang Ken tak ngabarin kau? Kan kau pacarnya kan?“


Tuh kan?


“Mana ada pacaran!“ Aku menampik, karena memang kita telah usai menurutku.


Sekarang aku memang hanya menunggu perjuangan bang Ken untukku.


Mbak Canda terkekeh. “Lagian cari pacar yang tua-tua.“ Ia malah meledek.


“Tak ada pacaran, Mbak. Ya udah tuh makan cepat, terus sana main ke mamah Dinda.“ Aku menyuruhnya, karena aku ingin tahu informasi apa yang ada di sana.


“Tapi heran ya? Kok mas Givan malah chat ke Mbak, bukannya pulang. Dekat aja tuh, dari beberapa jam yang lalu tak pulang. Kek lagi ada obrolan apa gitu tuh. Apa betul kah karena dia tak mau bantuin Mbak jemur baju kek di-chatnya?“


Kenapa ia malah bertanya-tanya padaku?


“Ya mungkin betul, bang Givan tak mau disuruh jemur. Lagian, orang nyuci pakai mesin. Jemur tinggal jemur aja, keknya sulit betul. Udah kan, kerjaan Mbak cuma cuci jemur aja?“ Ia adalah nyonya besar.

__ADS_1


“Banyak lah! Angkat jemuran, lipat baju, setrika baju sekolah anak-anak. Kalau baju sehari-hari kan, disetrika sama bu Muna, asal tak lecek kena mesin aja. Buat teh atau kopi untuk mas Givan, sama udah wajib masak lagi sekarang.“


Ringan, Woy. Tidak ada list cuci piring, nyapu, ngepel atau berbenah.


Terkadang, aku ingin diratukan sepertinya.


“Ya udah, hamil lagi aja biar libur semua tugas-tugasnya.“ Aku tahu jika mbak Canda memang malas.


Dulu waktu serumah bersama saat ia menjanda. Yang mencuci dan mengurus baju-bajunya itu ibu, ibu juga yang memasak, ia hanya tunggu toko. Sedangkan aku wajib mengepel, menyapu setiap hari. Hanya kamarnya yang ia pelihara sendiri.


The real berat tangan ya ia orangnya.


“Mas Givan tak mau tuh, katanya udah Cali aja terakhir. Padahal sebelumnya, dia pengen betul anak laki-laki. Cuma tak ngerti Mbak juga, kenapa dikasih kepercayaannya anak perempuan terus? Kadang khawatir ini satu persatu anak perempuan dapat karma dari ulah ayahnya dulu.“


Jika sudah mengobrol memang asyik.


“Mungkin sebagai pengingat aja, Mbak. Udah sana tuh cepet makan, katanya mau ke mamah Dinda.“ Jika sudah mengobrol malah lupa tujuan.


“Oke, oke. Dadah.“ Mbak Canda langsung mematikan sambungan teleponnya.


Hufttt…. Aku tak mengerti, kenapa bang Givan memilih untuk banyak menyembunyikan dari istrinya? Ia malah lebih jujur ke orang tuanya. Bertambah kecurigaanku di sana, tentang tengah adanya obrolan di sana. Karena, sebelumnya bang Givan menceritakan dengan jujur pokok permasalahan antara kami semua pada orang tuanya.


Bisa saja terjadi kan?


Entah dalam rangka menasehati bang Ken, atau mendamaikan antara bang Ken dan bang Givan. Pasti, di sana ada obrolan serius di luar jangkauanku.


Menghubungi siapa ya? Apa Ahya adiknya bang Ken itu? Sungguh, aku terus khawatir dengan kondisi bang Ken. Ia merasa kepalanya mendapat benturan keras, tapi kenapa ia malah pulang? Kan tadi ia berkata sendiri, bahwa ia ingin mendapat pemeriksaan lanjutan untuk kondisi kepalanya.


Lalu ia akan ke mana sebenarnya? Keluar kota ke mana? Buru-buru karena apa?Sampai-sampai, mobilnya itu disebut terbang oleh mbak Canda.


Aduh, aku tidak puas sekali mengobrol dengan bang Ken saat tadi. Aku harus gimana sekarang?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2