Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD65. Awal perjalanan


__ADS_3

“Abang lah sana sadarin.“ Aku yakin bang Givan mampu memberi pengertian logis menurut laki-laki, karena ia pun di usai yang sudah kepala empat tapi masih memiliki anak bayi.


Menurutku juga, bang Givan mengatakan hal yang benar. Daripada memikirkan ia mati dan anak masih kecil, lebih baik persiapkan usaha untuk masa depan anaknya. Ada istri lebih oke, untuk mengatur dan mengurus anak-anaknya besar.


Bagaimana ya pola pikir bang Ken ini? Aku jadi ikut memikirkannya kembali.


“Malas betul! Abang udah ucap kek gitu, dia tak datang ya Abang tak akan pernah tegur sapa sama dia.“


Aku lupa, jika bang Givan adalah orang yang seperti itu. Ya tahu sendiri sajalah, sulit memang kalau sudah watak.


“Setengah tahun dia tak ada usaha cari kau, tak datang ke sini untuk ambil hati Abang, berarti tandanya dia memang tak sungguh-sungguh pengen sama kau. Kalau prinsipnya tak berubah juga, mungkin akan jadi selisih paham antara kita. Kau tak boleh respon dia di chat, media sosial, ataupun sampai datangi dia. Kita lagi coba lihat kesungguhan dia, bukan sengaja memisahkan. Kau yang tabah di sana, besarin sabar kau. Karena kalau memang bang Ken tak ada rumahnya dan kau mohon-mohon, khawatirnya kehidupan pernikahan kalian benar-benar diuji. Khususnya kau, karena watak dia kasar dan sikapnya yang selalu usik mantan itu bakal jadi tantangan terbesar di rumah tangga kalian.“ Aku mengerti maksud bang Givan ini baik.


“Ya, Bang.“ Aku kan mengikuti saran dan pesannya.


“Jangan jalin hubungan dengan laki-laki dulu, fokus untuk perbaiki diri dan pendidikan kau. Kalau pada akhirnya bang Ken lepasin kau gitu aja, Abang bisa antar kau ke tempat bedah untuk V lagi, kalau kau mau. Tapi menurut Abang sih tak usah, tapi kalau ego kau maunya begitu ya tak apa, Abang temani.“ Bang Ken pun pernah mengatakan hal yang sama ketika ia ingin lepas tanggung jawab.


Aku masih berharap dia datang padaku dan menikahiku. Salahkan aku berharap pada orang yang salah? Bukan, tapi orang yang tidak tepat? Harusnya bukan bang Ken, harusnya laki-laki lain yang seimbang denganku.


Ponsel bang Givan berbunyi. Bang Givan langsung mengambilnya dan menempelkan di dekat telinganya, ia langsung menerima panggilan telepon tersebut.


“Oh, iya. Aku lagi nanti Ria prepare, tunggulah di situ, nanti ada Nando yang datang untuk nyupirin kalian.“


Aku menebak bahwa itu Keith.


Ah, iya. Aku pun ingin tahu cerita Keith tentangnya dan Shauwi. Ada rahasia apa sebenarnya di antara mereka ini.


“Keith udah di bawah, Dek.“ Bang Givan memasukkan ponselnya ke saku.


“Pusing betul Abang, Abang butuh orang lagi untuk bantu urus orderan besar. Abang juga butuh orang, untuk rekap laporan semua perusahaan. Haikal mau tak ya? Dia kerja tuh banyak tak betahnya, jadi bingung.“ Bang Givan menggaruk dagunya.


Pasti amat pusing menjadi dirinya.

__ADS_1


“Coba tanya papah Adi aja, Bang. Orang papah kan banyak tuh, bisa dipercaya juga.“ Karena setahuku juga, orang bang Givan memang banyak dari papah Adi. Pasti ada saja orang dari papah Adi, yang ditempatkan untuk mengurus setiap usaha bang Givan. Yang di Jepara pun, satu orang Aceh, satunya orang Jeparanya. Karena bang Givan memiliki dua usaha mebel di Jepara, jadi diurus oleh dua orang kepercayaan juga.


Jika Keith orang pusat. Jadi orang yang dipercaya untuk memegang setiap perusahaan milik bang Givan, akan setor laporan pada Keith. Barulah, Keith melaporkan pada bang Givan.


“Pengennya Abang tuh orang sendiri, biar perut keluarga mereka kenyang.“ Bang Givan bangkit dan meregangkan otot pinggangnya.


“Abang ke bawah dulu, Dek. Cepat benahi, terus berangkat.“ Bang Givan meninggalkan kamarku.


Aku langsung bergegas mempersiapkan barang-barangku, agar mereka tidak terlalu lama menunggu. Aku menurunkan koperku dan mulai menariknya. Saat aku mencoba untuk turun dari tangga, ada bang Nando yang menghampiri dan mengambil alih koper milikku.


“Turun duluan aja, Dek.“ Bang Nando mempersilahkan aku lebih dulu.


“Ya, Bang.“ Aku meninggalkan dirinya yang masih mempersiapkan diri untuk mengangkat koperku.


Keith, Keith. Kau akan menjadi suami orang secepatnya, aku tidak menyangka akan hal itu.


“Udah siap?“ Bang Givan menoleh ke arahku.


“Ingat pesan Abang ya?“


Aku lekas mengangguk untuk itu.


Bang Givan menoleh ke arah Keith. “Kau urus dulu dokumen Ria di sana, Keith. Urus juga surat tinggal sementaranya di sana ya? Kau mau nikah, ingat jaga diri dan tindakan kau. Biasanya rawan godaan, kalau udah mau nikah gini tuh.“ Bang Givan menepuk pundak Keith.


“Siap, Bang.“ Keith tersenyum lebar.


“Ya udah, ati-ati. Kau bisa istirahat, karena perjalanan darat pun lumayan nih. Lusa pagi pesawat berangkat, karena jadwal penerbangan adanya dua kali dalam seminggu. Abang transfer biaya makan kalian, selama di perjalanan. Kehitung Nando juga ya? Kasih uang bensin sama pegangan juga, karena aku bayar dia nanti kalau udah sampai sini.“ Bang Givan mengutak-atik ponselnya. “Tuh, udah terkirim.“ Ia menunjukkan bukti transfer pada Keith.


Dua puluh juta. Keren-keren.


Kendaraan langsung dinyalakan, mobil bergerak perlahan meninggalkan area ruko ini.

__ADS_1


“Kata bang Givan, kau belum makan. Mau makan apa dulu?“ Keith melirikku.


“Kau makan belum, Bang?“ Keith melongok ke kursi depan.


“Udah, udah. Tapi beli biskuit asin aja, biar tak ngantuk di jalan,” jawab bang Nando kemudian.


“Oke, beli cemilan dulu aja di minimarket.“ Keith duduk tegak kembali di sampingku.


“Kau mau makan apa, Ria? Kita tungguin deh.“ Keith mengusap lututku.


Hmmmm…..


Aku masih sesak, aku tak ingin makan. Karena pasti rasanya sulit menelan makanan.


“Nanti aja aku makan, ke minimarket dulu aja.“ Mungkin tengah malam nanti aku akan lapar.


“Oke. Rileks aja, Ria. Dibawa santai aja, perjalanan yang panjang. Dari sini ke Banda aja, sekitar tujuh jam.“ Keith menyandarkan punggungnya dan menyesuaikan sandaran kursi agar terasa nyaman.


“Dari Brasilia ke Sao Paolo juga hampir sehari semalam, harus kuat duduk.“ Keith menguap setelah mengatakan hal itu.


Ia masih terlihat seperti biasa saja. Ia tidak merasa bersalah.


“Minimarket di depan,” ucap bang Nando. Tak lama pun aku dan Keith turun untuk membeli makanan ringan dan cemilan.


Aku menepis tangannya, yang tiba-tiba singgah saat kami tengah memilih makanan. “Jaga jarak, Keith. Kasian cinta kau Shauwi,” sindirku sengaja.


Biar saja, biar ia merasa.


“Aku tak buat hal yang buat dia nangis kali.“ Ia memasukkan tangannya ke saku celananya.


“Oh ya? Kau tak tau hatinya, masa kau rangkul-rangkul perempuan lain. Tapi aku tak nyangka, kau bisa cepat gitu ya ambil keputusan untuk nikahin perempuan lain.“ Aku tersenyum lebar dengan memandangnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2