
“Tak apa, nurut aja.“
Aku mulai curiga, bahwa ia memberiku obat penangkal kehamilan. Ya mungkin sejenis KB. Tapi jika KB kan, harus setiap hari meskipun tidak berhubungan. Jika yang bang Ken berikan tidak seperti itu, Bang Ken memberikan kala ketika kita berhubungan badan saja.
“Udah haid belum bulan ini?“ Ia memainkan jemariku.
“Udah, pas Abang pulang itu.“ Aku adalah manusia yang tidak bisa menyamarkan raut wajahku.
“Coba chat dulu pengurus rumah. Terus ayo kita belanja-belanja, beli baju Adek juga untuk ngisi lemari yang di sini.“ Ia menunjuk ponselku yang berada di atas meja bar ini.
“Iya, Bang.“ Rupanya bang Ken tidak peduli meski aku memasang raut datar. Aku pun tidak banyak bicara, aku masih tidak mendapatkan jawaban dari surat dari KUA yang aku inginkan untuk mengurus peresmian di sini itu.
[Mbak, Saya ada keperluan untuk urus sertifikat dan ambil sertifikat kompetensi lanjutan. Saya tak pulang untuk malam ini, Saya tidur di tempat Hana.] Aku menuliskan pesan untuk pengurus rumah.
“Adek mau makan apa?“ Bang Ken menarik daguku, mengalihkan perhatianku dari ponsel.
“Terserah aja.“ Aku tidak memiliki mood bagus untuk makan.
“Kenapa sih? Ada masalah kah?“
Ia tidak sadar rupanya.
“Tujuan Abang pulang untuk apa?“ Aku memandangnya serius.
“Loh? Kan Adek tau, Abang pulang untuk urus mesin pengolah kopi dan juga urus laporan di Malaysia.“ Ia nampak terkejut dengan pertanyaanku.
“Abang janji urus surat keterangan dari KUA, surat dari polres, surat izin keluarga juga.“ Aku menepuk dadanya langsung.
Ia malah menepuk jidatnya. “Oh iya, Abang lupa.“ Setelah itu ia memasang senyum lebarnya.
“Kalau Abang mau aku terbuka dan nurut. Abang juga harus terbuka dan ngerti tentang aku!“ Aku menaikan nada bicaraku satu oktaf.
__ADS_1
“Memang di mana Abang tak jujurnya???“ Matanya bulat sempurna. Harusnya, ia bertanya pada dirinya sendiri.
Aku khawatir ekspresi yang ia pasang sekarang adalah palsu.
“Tak mungkin Abang lupa, pasti Abang beralasan aja!“ Aku teringat kala kejadian ia mengambil mahkotaku.
“Tak percaya ya udah.“ Ia malah meninggalkanku.
Emosiku langsung memuncak. Aku ingin ia meyakinkanku, bukan meninggalkanku dengan sesuatu yang aku ragukan.
“TALAK AKU, BANG!!!“ teriakku lepas.
Langkahnya langsung terhenti, kemudian ia membalikan badannya ke arahku. Emosi yang tersirat di wajahnya, terlihat seolah lebih marah dariku.
“Masuk kamar! Tidur sana!“ bentaknya cepat.
Itu bukan penyelesaian.
“Abang bilang diskomunikasi masa Abang ambil kepera***** aku. Nyatanya apa? Nyatanya Abang bilang, bahwa Abang sengaja untuk ngunci aku. Jadi, bukan tak mungkin kalau sekarang pun Abang beralasan aja, karena aslinya Abang benar-benar tak mau urus surat-surat itu,” jelasku tepat di depan wajahnya.
“Kau sulit untuk nerima betul sih, Ria. Lupa wajar, manusiawi. Tak bulan ini, mungkin bulan depan Abang bakal urus. Kau pengen Abang cepat datang, cepat balik ke kau. Tapi, kau di sini buat Abang seolah bersalah. Karena lupa urus dan udah buru-buru ingin balik ke sini.“ Ia menunjuk-nunjuk dadaku dengan telunjuknya.
“Abang tinggal jujur aja! Aku bakal lebih sakit hati, kalau Abang banyak tak terus terangnya.“ Aku sengaja menyudutkannya.
“MASUK KAMAR!!!“ pekiknya lepas, dengan menyentuh kedua bahuku.
“Kita perlu ngomong, bukan aku disuruh ninggalin Abang! Abang terus terang, apa yang jadi kesulitan Abang untuk urus surat-surat di sana. Biar aku bisa ngerti, biar aku bisa pahami, kalau memang Abang tak untuk urusnya.“ Aku berkata perlahan, agar ia mengerti tentang apa maksudku.
“Ria, kau pun harus ngerti kalau Abang ini benar-benar lupa!“ Matanya sampai melotot-melotot.
“Oke, kali ini aku bisa paham. Abang lupa? Oke, aku bakal ingat-ingat kalau kali pertamanya Abang lupa.“ Aku mencoba mengalah dan menerima alasan klasiknya.
__ADS_1
Ia mendengus dingin, kemudian berbalik badan dan menghantam tembok dengan pukulannya. Meski aku paham dan sudah tahu akan penuntasan emosinya, tapi tetap saja aku kaget.
“Udah! Udah! Kita s**s aja, dari pada Abang begini.“ Aku ingat jika emosinya bisa mereda, kala kecemburuan datang masanya kami berada di rumah Hana.
“Kau pikir Abang mau, Ria?! Setelah kau tuduh-tuduh Abang, kau tak bisa memaklumi Abang dan tak bisa ngertiin Abang, kau ajak Abang untuk…..“
Aku langsung memangkas ucapannya dengan bungkaman dengan bibirku. Aku tidak memberinya ampun, meski ia terlihat menolak seranganku.
Aku tidak mau barang-barang berterbangan. Meski aku sudah pernah melihatnya, tapi aku tetap saja takut melihatnya. Itu bukan kebiasan yang harus terus dibiasakan.
Kecurigaanku bertambah, kala kali keduanya kamu berhubungan suami istri dan aku mendapatkan sebuah bungkus obat di dekat nakas kamar tidur ini. Bungkus obat ini sedikit masuk ke kolong ranjang. Ini juga, kali keduanya kami berhubungan di dua waktu yang berbeda dan kali keduanya aku diminta meminum pil putih yang serupa.
Ia tengah sibuk mengurus dokumen masuk ke salah satu tempat kursus kompetensi di dekat apartemen ini. Aku diminta untuk tetap di sini, karena di luar sedang dalam cuaca yang kurang baik.
P*stinor2 lovonergestrel, dua tablet. Keterangannya seperti itu di bungkus bagian depan.
Obat apa ini?
Apa benar obat ini menyangkut rokok yang terus masuk ke tubuhku? Tapi, kenapa ia tidak meminumnya juga? Kan ia merokok juga. Apa rokok ini berguna untuk melindungi rahim, dari paparan efek buruk merokok? Tapi, ia pun mengerti tentang kesehatan kan akan paparan efek buruk pada dirinya? Harusnya, ia juga mengkonsumsi pil atau obat khusus untuk menangkal efek buruk rokok yang masuk ke tubuhnya. Tapi ia tidak melakukanya, ia tidak menekan obat apapun untuk kesehatannya sendiri.
Aku mencari ponselku, kemudian menghidupkannya lebih dulu karena ponsel dalam keadaan mati dan masih menyambung ke charger. Aku belum membersihkan diri, karena menurutku ini hari bebas dari kursus.
Bukan perkara mudah ternyata menikah dengan duda, karena ia sudah pernah berumah tangga dan ia terbiasa dengan kebiasaan hidup bersama istri terdahulunya. Ia tidak suka melihatku bermalas-malasan, ia mengatakan jika ia ingin makanan apapun itu ketika ia bangun tidur. Bukan malah kebalikannya, bukan malah ia yang bangun lebih dulu dan membuat makanan.
Aku merasa menikah dan hidup dengan pujaanku adalah masa-masa bebas dari aturan orang tua, di mana kita harus bangun pagi dan melakukan ini itu. Aku pun berpikir, bahwa memiliki suami adalah bebas tidur pukul berapa saja dan bangun jam berapa saja. Karena aku mengira, bahwa suamiku akan melakukan kebiasaan yang sama denganku. Nyatanya, tidak sama sekali.
Tapi aku tidak mengambil pusing akan hal itu, aku tetap melakukan kebiasaanku selama dua hari tinggal di sini. Aku memang mulai berpikir, untuk ikut dengan kebiasaannya. Tapi, aku pun tetap ingin merasakan hal-hal bebas yang biasa aku lakukan kala jauh dari orang tua.
Ponselku sudah menyala dan sudah mendapat akses sinyal. Segera aku mengetikkan postin*r2 lovonergestrel pada mesin pencarian Google.
Astaga, aku tidak percaya.
__ADS_1
...****************...