
"Mbak, gimana sih kejadiannya?" Aku mendekati kakaku yang biasa memiliki informasi banyak.
"Tak tau, Dek. Orang mamah datang, nyuruh kami beresin barang-barang Cali. Mbak kira dia mau kau ajak, atau kau bawa berlibur. Kata Mbak, bawa aja pengasuh Cali, dia mau kalau sama pengasuhnya. Eh, mamah diam aja. Kek urat-urat marah gitu, ya Mbak turutin aja, daripada dimarahin."
Kok fakta di dalam rumahnya beda sekali dengan drama yang di luar rumah?
"Serius, Mbak? Tak dibilangin suruh main drama penculikan?" Pikiranku seburuk itu pada keluarga Riyana.
Ya bagaimana? Kan aku, Gavin dan mamah Dinda tahu sebenarnya maksud Ajeng. Tapi, mamah Dinda seolah membuat Ajeng benar-benar tersangka penculikan di sini. Kan tidak benar juga.
"Ish! Mana ada bilang begitu. Orang datang dari pintu samping, terus Mbak yang lagi di teras disuruh masuk untuk beresin barang Cali." Mbak Canda yang malah terlihat heran melihat pernyataanku.
"Mie aku mana, Canda?" Bang Givan menghampiri istrinya, setelah memberi perintah anak-anaknya untuk bersiap sholat dan mengaji.
Ia seperti seorang pengurus pesantren, yang menyuruh santri-santrinya dengan suara lantang. Sudah orangnya disiplin, mulutnya tegas ala militer lagi.
"Memang nyuruh kah?" Mbak Canda malah bertanya.
"Iyalah, Cendol! Ish, pengen yang hangat-hangat aku ini, terus aku bilang buatin mie rebus." Bang Givan melewati kami lebih dulu.
"Pulang kapan dia? Perasaan, tadi keluyuran terus." Aku melangkah masuk mengikuti mbak Canda.
"Entah, ada di mana-mana orangnya satu juga." Mbak Canda meninggalkanku.
Rewel sekali Kirei ini. Mbak Canda tengah sibuk juga, jadi aku memilih mengajak Kirei untuk berjalan-jalan di sekitar sini. Tentunya, aku main ke ibu juga. Ibu banyak bercerita, salah satunya tentang ayahnya Kirei.
"Masa iya bang Ken begitu?" Aku sedikit tidak percaya dengan ucapan ibu.
"Iya, Nduk. Telpon loh ke Ibu, dia ngomong pengen ambil Kirei sama Ria lagi."
__ADS_1
Jika memang begitu, ya agak gila juga. Pantas saja yang kuasa memilih untuk mengambil kak Riska, agar tidak disakiti lagi oleh bang Ken.
"Kan aku ada suami, Bu." Aku tengah mengayun-ayun tubuh Kirei di depan ruko.
Ia mengantuk, tapi banyak tingkah. Mungkin memang rewel karena flunya ini.
"Yaitu, kalau suami kau bukan anaknya mamah Dinda katanya mau diganggu. Sambil ketawa gitu tuh ngomongnya."
Aku makin melongo mendengar cerita ibu. Masa iya sih bang Ken begitu?
"Terus apa lagi katanya, Bu?" Aku masih menyimak dengan mengayunkan tubuh Kirei.
Ia mendengung sejak tadi, Kirei masih sama rasa dengan kondisi tubuhnya.
"Ya kata Ibu ikhlas aja, Ken. Yang penting kan Kirei sama Ria udah di tangan laki-laki yang tepat. Lagian ini Gavin loh, bukan laki-laki sembarang yang tak kenal gimana sifatnya. Ibu bilang gitu kan ke dia? Dianya ketawa samar, terus bilang bakal ambil balik kalau Gavin macem-macem."
Aku duduk di samping ibu pelan-pelan sekali, agar Kirei yang sudah terlelap tidak terbangun kembali. Begini ternyata rasanya jika anak tengah flu berat.
"Dia ganteng, kemarin aja kau yang mabuk. Sama Gavin sih, kan jelas ganteng dia. Dia sekarang duda lagi, bukannya tak mungkin kau mabuk dia lagi.
Aku shock mendengar ucapan ibu. Lama-lama semua orang akan sama seperti mamah Dinda.
"Gavin kan kalem, enak diajak bergurau, enak diajak begadang, enak diajak bangun siang." Dia seperti seorang teman.
Ya memang ia teman hidupku.
"Sama-sama malesnya." Ibu melirikku dengan terkekeh kecil. "Memang Ken tak kalem? Nampak kalem juga, malah cerongoan Gavin kan? Gavin diam-diam juga, matanya itu ngelirik kalau ada perempuan cantik lewat. Pernah sekali Ibu temui, dia lagi manggil-manggil perempuan lewat di pos ronda sana. Dek, hai dek, mau ke mana cantik. Gitu dia, sama temen-temennya. Ya memang cuma iseng mulut, tapi langsung nunduk malu dia pas sadar ada ibu baru keluar dari masjid."
Kebetulan sekali masjidnya bersebelahan dengan pos ronda.
__ADS_1
"Iya ya, Bu? Bang Ken memang tak gitu, mungkin karena Gavin masih muda juga. Sering juga aku lihat matanya ke mana-mana, tapi biarin ajalah selagi tak berani main api. Cuma bang Ken ini apa-apa harus langsung, kek mandi, sholat, harus cepat aku tindak. Gavin kan mulur satu dua menit tak masalah, malah dia kadang ulangi perintahnya lagi. Bang Ken marah besar, Bu. Mana marahnya seram lagi. Dia tak sholat, dia tak mandi cepat, tapi nyuruhnya aja oke. Tak bisa mencerminkan, mendidik tuh. Yang namanya mendidik tuh bukan cuma nyuruh, tapi mengajak dan mengingatkan juga. Bukan karena sekarang Gavin suami aku, jadi aku belain dia. Ada plus minusnya setiap laki-laki tuh kata aku sih, Bu." Aku mengipasi wajah Kirei dengan tanganku.
"Iya juga sih, ada bedanya juga ayah kau sama ayahnya mbak kau. Makanya, Ibu sih tak berniat nikah lagi sama sekali. Kek capek sendiri tuh sama laki-laki, semua manis di awal aja."
Loh, katanya ibu yang cinta berat pada ayahku?
"Mereka gimana memang, Bu?" tanyaku kemudian.
"Ayahnya mbak kau perhatian, saking perhatiannya sampai hafal harga minyak goreng masa itu. Pelitnya ampun, ini itu ada hitungannya semua. Mana doyan pacaran lagi, Ibu sampai pernah percobaan bunuh diri gara-gara itu. Kalau ayah kau, cuek tapi diam-diam perhatian. Uang ya tak pelit, tapi jamin orang tuanya setara kasih uang untuk kebutuhan hidup kita bertiga. Kadang ibu mikir kan, tak semua perempuan rela anak laki-lakinya menafkahi perempuan lain. Soalnya kenapa? Soalnya kadang rela kita keteteran uang, demi kasih ibunyaibunya jaminan bulanan. Makanya ibu kerja nyambung biaya juga, untuk kebutuhan mbak kau juga. Dia tak pernah kasih untuk mbak kau, fokusnya ke orang tua aja. Ya gimana lagi lah, masa mau jadi janda lagi kan? Eh tak taunya, malah dibuat janda sama Yang Kuasa." Ibu mengedikkan bahunya.
Ternyata, tak semua rumah tangga memiliki cerita manis.
"Ibu dulu bunuh dirinya ngapain?" Aku penasaran akan cerita itu.
"Nyemplung ke sumur, tau kan sumur? Untuk penampungan air tuh. Ehh, tak taunya sumurnya surut, jadi malah malu ramai-ramai warga gotong royong bantu Ibu naik. Ya udah aja, Ibu alasan kalau Ibu kepleset dan nyemplung." Ibu tertawa sendiri.
Ibu pasti sangat malu saat itu, aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu.
"Terus gimana lagi, Bu?" Aku menyimak dengan memperhatikan wajah Kirei yang terlelap.
"Udah, gitu aja. Ringan tangan juga, suka mukul. Tapi memang ganteng, santri dia dulunya."
Hah? Aku kaget di sini. Santri tapi kelakuannya seperti itu.
"Pantes ya mbak Canda cantik? Ayahnya ternyata ganteng." Aku manggut-manggut beberapa kali.
"Iya, bisa jadi karena itu. Tapi pendek sayangnya, mana Ibu juga pendek. Jadi mbak kau kek bebek gitu badannya." Ibu meledek anaknya sendiri dan terkekeh geli sendiri.
Aku jadi memikirkan Bunga. Ia merasakan tidak mengobrol bergurau bersama ibunya begini? Tadi di pemakaman pun, aku tidak melihatnya. Padaku cukup dekat, tapi terhalang ini dan itu. Pada ibu kandungnya ia begitu dekat juga, tapi terhalang keadaan yang begitu sulit untuk dijabarkan.
__ADS_1
Ehh, bagaimana ya keadaan bayi bang Ken dan kak Riska? Apa ia selamat? Lalu, di mana bayi itu berada.
...****************...