Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD190. Berbenah


__ADS_3

"Kirei kok bau parfum laki-laki?" Mamah Dinda mendengus aroma baju Kirei. 


"Masa, Mah?" Aku mencium baju Kirei. 


Parfum Gavin tertinggal di sini. 


"Kau abis jalan? Kenapa tak dari rumah? Tak baik begitu. Nanti hamil, bukan kau sendiri yang repot. Dikiranya Mamah tak tau kah bau parfum siapa ini?" Mamah Dinda langsung melirik tajam. 


Aku langsung tertunduk, kemudian memeluk belanjaanku sendiri. Pasti beliau jadi ibu mertua yang galak, tapi herannya mbak Canda akur dengan mertua. 


"Mandiin sana, terus dandanin pakai kerudung. Mau Mamah ajak ngaji ke tetangga. Biar kau beres-beres barangnya enak." Mamah Dinda membiarkanku berjalan mendahuluinya. 


"Iya, Mah. Bentar, mau taruh ini dulu." Aku masuk ke kamar lebih dulu. 


"Hallo, Cantik. Mau ikut Nenek ngaji? Iya? Anteng ya? Jangan rewel ya?" Itu suara papah Adi yang menyapa. 


Aku kembali keluar dari kamar, berniat mengambil Kirei untuk aku mandikan. 


"Kok bau parfum laki-laki ini?" Papah Adi terlihat baru selesai mencium Kirei. 


"He'em, coba! Kurang ajar itu Gavin, beraninya ngumpet-ngumpet."


Aku langsung mengambil Kirei, kemudian kabur ke kamar tanpa berbicara apapun. Deg-degan setengah mati, aku takut diminta keterangan segala macam. 


"Nanti dibilang anaknya." Lamat-lamat, aku masih mendengar papah Adi menyahuti mamah Dinda. 


Setelahnya, entahlah. Karena aku membawa Kirei ke kamar mandi, aku akan membuang bau parfum itu.


Acara ngaji di tetangga itu seperti acara tahlil, tapi hanya mengundang wanita. Semacam jamiah mushola khusus wanita begitu, entah apa ya sebutannya. Jadi seperti memiliki grup mengaji sendiri, kemudian datang ke rumah yang mengundang mereka. Mamah Dinda kadang-kadang ikut, tapi selalu datang jika di rumah tetangga terdekat. Meskipun mamah Dinda di rumah saja, ia tetap sibuk dengan aktivitasnya dan anak cucunya. 


Kirei sudah dibawa oleh mamah Dinda, aku kembali ke kamar untuk beres-beres dan bersih-bersih. Tidak lupa juga, sekalian melipat baju dan menyetrika baju yang belum selesai disetrika. Aku akan menggunakan waktu seefektif mungkin, kala Kirei ada yang mengajak. Tidak seperti mbak Canda, menitipkan anak untuk tidur. Tapi mungkin itu demi kewarasan dan kesehatannya, karena anaknya bukan cuma satu. Aku pun pastinya akan merasakan diri posisinya, kala Kirei punya adik dengan jarak yang dekat. 


"Assalamu'alaikum…." Itu salam dari Gavin. 

__ADS_1


Ia baru kembali? Sejak tadi? Ke mana dia pergi? Sampai menghabiskan waktu dua jam. 


"Wa'alaikum salam," sahut papah Adi. 


Aku keluar dari laundry room, dengan membawa baju-bajuku dan Kirei menggunakan keranjang lebar. Tumpukan baju ini sudah disetrika dan sudah dilipat rapi. 


"Dari mana?" tanya papah Adi, pada Gavin yang ternyata baru memasuki ruang keluarga. 


"Dari kak Canda," jawab Gavin kemudian. 


Ohh, ternyata dia bermain bersama anaknya. 


Aku lanjut masuk ke dalam kamar, untuk memasukkan pakaian ini ke lemari. 


"Dari pagi?" 


Pintu kamarku terbuka, jadi aku mendengar jelas percakapan di ruang keluarga, yang kebetulan berada di sebelah kamarku. Papah Adi bertanya pada Gavin, tapi Gavin hanya menjawab dengan dengungan. 


"Ya udah, mandi dulu sana. Baju-baju kau di lemari kamar tamu depan." 


Benar, baju-baju Gavin telah dipindahkan ke kamar tamu setelah aku ditalak oleh mulut bang Ken. Ditalak yang sebenarnya sudah pisah. Aku heran dengan pemikirannya. 


Setelah berbenah selesai, aku beranjak ke dapur. Aku lapar dan tinggal makan. Seenak ini tinggal di sini, hanya saja aku harus bisa mengerti. Yang artian, menempati itu berarti bertanggung jawab juga. Contohnya kamar mandi kamar, aku sendiri yang harus membersihkan. Baju kotorku, harus dicuci sendiri dan dilipat sendiri. Menjaga kebersihan, terutama harus ringan tangan. 


Semisal mamah Dinda tengah memetik kangkung, aku melihat dan ikut membantu. Misal mamah Dinda melipat baju di ruang keluarga, aku melihat dan ikut membantu. Jadi, jangan pura-pura tidak melihat begitu. Memang beliau tidak akan bilang, tidak memintaku untuk membantu juga. Tapi hitung-hitung saling mengerti, karena sudah diberi fasilitas dan makan gratis di sini. 


Saat aku sudah selesai makan, bertepatan sekali dengan Kirei datang. Lihatlah, ia langsung girang saja melihat Gavin. Kalian tahu kan, semisal anak kecil bermain seharian dengan satu orang saja? Pasti kan ia memiliki keakraban yang terjalin singkat, bukan hanya senyum-senyum saja. 


"Tuh, Bang. Nampak kan?" Mamah Dinda tersenyum miring dan memandang suaminya. 


Kirei sampai berusaha ingin menggapai Gavin. Benar-benar kentara sekali, jika seharian ini Kirei tengah diajak oleh Gavin. 


"Mau ikut? Sini, sini. Dari mana, Adek?" Gavin mengambil alih Kirei, saat mamah Dinda melipir untuk duduk bersama suaminya. Gavin ada di sofa lain, tapi di ruang keluarga ini juga. 

__ADS_1


"Abis ngaji dong, biar sholehah kek kak Cani," papah Adi yang menjawab pertanyaan Gavin untuk Kirei. 


"Nih, Ria. Kirei dapat bagian." Mamah Dinda memberiku sebungkus nasi kotak. 


Di sini seperti itu, jika membawa cucunya dua, maka dikasih dua bingkisan. Tidak terhitung untuk neneknya juga yang mengajak. Menghitung kepala itu, ya benar-benar menghitung jumlah kepala yang hadir. Jadi, anak-anak di sini selalu ramai jika ada acara tahlil atau syukuran. Tuan rumah pun senang, karena kegiatan keagamaan disukai anak-anak meski tentang perihal nasi kotak saja yang diharapkan anak-anak. 


"Iya, Mah." Aku mengambil dua nasi kotak yang mamah Dinda berikan. 


Satu punya mamah Dinda, satu punya Kirei. Yang makan sih, siapa saja. Aku langsung membawanya ke dapur, kemudian lauknya dijadikan satu, berikut juga nasinya. Tapi tentu tidak dicampur dengan nasi masak yang berada di magicom, karena ada yang tidak doyan nasi tahlil begini. 


Aku mendengar suara orang mengobrol, sepertinya mereka tengah mulai mengobrol serius. Aku jadi sungkan untuk berbaur, karena aku pasti akan diminta keterangan juga. 


"Ria, susuin Kirei. Tadi susunya habis pas baru mulai ngajinya," seru mamah Dinda kala aku sudah melamum ke mana-mana. 


"Ya, Mah." Aku bergegas menutup makanan, kemudian keluar dari dalam dapur ini. 


Mereka semua tertawa geli, kala Kirei tengah menggosokkan wajahnya di dada Gavin. Kirei lucu sekali, bahkan Gavin sampai tergelak lepas. 


"Tak ada ASInya di Ayah sih, Dek." Bersamaan dengan ucapan Gavin, tawa mamah Dinda dan papah Adi lenyap sudah. 


Kedua orang tua tersebut saling memandang, kemudian mereka melirikku dan Gavin secara bergantian. Sudah pasti mereka mencurigai kami lebih jauh, karena Gavin menyebut dirinya 'ayah' pada Kirei. 


Aku duduk di sofa single, dengan apron yang sudah melingkar di bahu dan dadaku. Gavin langsung memberikan Kirei, dengan aku yang menyambutnya. Rengekan lirih Kirei terdengar manja, kami pun tak pernah membiarkannya kekurangan kasih sayang seperti yang bang Ken khawatirkan.


"Ketemuannya jangan di jalan, malu! Kan di rumah juga ketemu? Kenapa harus di jalan."


Yang menurut kami sepele, tapi tidak bisa dimaklumi oleh orang tua. Karena apa? Karena mereka orang terpandang, ditambah dengan mereka khawatir dengan kami. 


"Dek Ria, dengerin Papah…."


Aku langsung memandang lurus beliau. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2