Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD163. Drama Cali


__ADS_3

"Kan Mamah yang nyuruh Gavin antar aku!" Rasanya aku ingin menangis saja. 


"Ya memang, tapi pandai juga kau pepet." Mamah Dinda melirik sinis. 


"Mana ada!" Aku terus mengelak. 


"Ada, belum ketahuan aja. Tak ada skandal-skandal! Kalau tiba masanya, benar sama-sama suka, ngomong baik-baik! Rekam jejak kalian menakutkan! Gavin pun sama!" Beliau bertolak pinggang dan memasang wajah jahatnya. 


"Mamah sih gitu!" Aku sedih jika dituduh-tuduh terus. 


"Biarin!" Mamah Dinda berjalan menjauh dari mobil. 


Lihatlah, anak sulungnya tertawa lepas dari teras rumah. 


"Sukur! Dimarahin!" Tawanya amat membahana. 


Gavin muncul, ia membawakan celana panjang resmi untukku. Ah sudahlah, tak usah pakai span kali ini. Aku langsung menerima, meski gelak tawa masih begitu renyah. 


"Cepat salinnya, diantar lagi aja. Aku sekalian berangkat bawa Cali." Gavin berjalan menjauh dari mobil, kemudian ia mengambil Cali dengan drama penuh tangis. 


"Itu Ayah, Dek. Itu Ayahnya Cali." Bang Givan memeluk erat Cali yang histeris. 


"Awas ya kau, Dek! Nanti, Ayah tak kirimin mainan yang tak ada di sini lagi. Nanti, nanti, Ayah tak kirim uang untuk beli susu Adek," ancam Gavin. 


Entah, konsepnya bagaimana? Anak kecil kok diancam? 


Aku sudah berganti dengan celana kulot resmi, kemudian aku turun untuk membenahi tatanan pakaianku ini. Tak begitu buruk, oke saja untuk penampilan kerja ala kantoran. 


"Kau nih tak ada kebapakannya! Gimana kek gimana caranya!" Mamah Dinda mendekati keramaian teras itu. 


"Cali gitu terus, Mah. Masa aku harus stay di sini terus, aku mau jadi orang Lampung aja niatnya." Gavin masih terlihat seperti anak kecil. 


"Ya udah, terserah kau. Cali sih tetap sama aku." Mbak Canda ikut meramaikan perdebatan itu, persis seperti anak-anak yang tengah adu mulut. 


"Anak Gue." Bang Givan menciumi Cali. 


"Pada masuk dulu tuh, Cali kalau lagi asyik sendiri tuh ditinggal. Terus kau bujuk, Vin. Jangan paksa gitu, tambah takut sama kau nanti." Mamah Dinda menepis tangan Gavin yang terus mencoba menyentuh anaknya. 


Cali the next ratu drama titisan biyung Canda. 


"Lamanya." Gavin pura-pura menangis, kemudian mencium pipi anaknya. 

__ADS_1


Seperti burung galak, Cali langsung berisik saja dengan tangan kecilnya yang memberontak. 


"Anak Cendol, bikin gemas." Gavin langsung memasang taring, kemudian menggigit lengan anaknya. 


Bagaimana ya? Jelas Cali bertambah takut. Tangisnya malah lebih kencang dari sebelumnya. 


Bang Givan langsung mendorong kepala adiknya tersebut. "Anak kau takut, Bodoh! Agak gila kau ini rupanya, masa ke anak kecil begitu caranya?"


Gavin malah cengengesan saja. Ia tetap berusaha menyentuh Cali dari segala arah. 


Ia tidak menyebutkan bahwa Cali adalah anak Ajeng, ia malah menyebutkan bahwa Cali anak mbak Canda. Memang segitu kecewanya ia pada Ajeng kah? Apa sih permasalahannya, sampai ia tak mau membawa nama Ajeng di depan anaknya?


"Vin! Kau gemasnya aja, tapi tak usah kek gitu." Mamah Dinda sampai menarik anaknya. 


"Ke perempuan pun keknya kau begitu ya? Nakutin loh, Vin." Mbak Canda sampai memandang Gavin seolah ilfeel. 


Gavin malah tertawa geli. 


"Ayo cepet sih, Dek. Sekalian nganter Tante Ria itu." Gavin menoleh ke arahku dan menunjukku. 


Kirei ada di dekapan ibu. Anak bayiku memakai kerudung dan tengah memperhatikan kupu-kupu yang terbang di atas bunga melati. 


Memang sih, Gavin tidak kelihatan dewasa atau kebapakan. Ya dia seperti pemuda, yang gemas pada adik kecilnya. Padahal, ia sendiri yang membuat adik kecilnya. 


"Diletakan di bawah, Bang. Kalau dia lagi melongo, nanti aku langsung angkat." Gavin malah ingin menggunakan modus penculikan anak. 


"Biar Abang taruh di mobil kau aja. Cara kau, bikin anak kau makin trauma sama kau." Bang Givan berjalan ke arahku. 


Aku segera masuk kembali ke dalam mobil. Bang Givan duduk di ruang kemudi, ia membuat Cali kebingungan. Ditambah, Cali pun tidak akrab denganku. Ia terus menoleh ke arahku, tapi tidak mau pindah ke pangkuanku. 


"Sama Tante Ria dulu, Yayah mau ambil kunci mobilnya ya?" Senyum bang Givan begitu menenangkan. 


Apa anak satu tahun itu mengerti kalimat orang dewasa? Cali mengangguk, ia mau pindah ke pangkuanku. Ia memperhatikan bang Givan yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Bang Givan pun mengajak semua orang yang berada di teras rumah untuk masuk, hingga Gavin bergerak mendekat ke arah mobil. 


Cali memperhatikan wajahku, ia nampak bingung dan seolah bertanya-tanya siapa aku. Tidak ada kemiripan dengan Ajeng sama sekali, Cali benar-benar mirip kakeknya. Serius, cucu mereka yang dipindah asuhkan begini. Anak-anaknya malah mirip kakek dan neneknya, contohnya saja Key. Key kan anak kak Fira, tapi ia begitu mirip mamah Dinda. Zio anak kak Nadya, tapi begitu mirip dengan ibu. Padahal ibu jelas tak memiliki hubungan darah dengan Zio. 


"Kita jalan-jalan." Gavin langsung duduk dan menutup pintunya, dengan menaruh tas bayi di bangku belakang. 


Saat itu juga, tangis Cali kembali terdengar. Ia menoleh ke kiri dan kanan, seperti ingin meminta bantuan pada orang yang ada di sekitarnya. Sayangnya, halaman rumah ini memang sepi. 


"Jalan-jalan, Dek. Beli boneka untuk Adek." Aku mencoba menenangkan anak ini. 

__ADS_1


Anak kecil lebih sulit dibujuk ketimbang seumuran Bunga. Dulu pun, Bunga menangis waktu diambil dari ibunya. Tapi, Bunga bisa dibujuk dan diajak berbicara. Ia suka mengobrol, ia suka didengarkan ceritanya. Tapi bagaimana cara untuk membuat Cali teralihkan? 


YouTube. 


Oke, aku langsung mengeluarkan ponselku. Rupanya, cukup berhasil. Tangisnya mereda, dengan ia sendiri yang memegangi ponselku. 


"Yung…" Bibirnya sampai seperti burung pelatuk. 


Ia menempelkan ponselku ke telinganya. Ohh, ia tengah mencoba menghubungi biyungnya rupanya. Eh, anak satu tahun ada otak ya sepertinya? 


"Adek mau telpon biyung? Iya?" Gavin menoleh pada anaknya dengan senyumnya. 


Cali mengangguk. Ia melihat ke layar ponsel yang tengah memutar animasi anak-anak, kemudian ia menempelkan kembali ke telinganya. 


"Pakai HP aku aja nih, Kak. Nanti kau turun mobil, biar tak ada drama HP susah dikembalikan." Gavin memberikan ponselnya. 


"Pakai sidik jari ini." Aku kesulitan membuka kunci itu. 


"Ke mukain aku aja. Jalanan udah tak enak ini soalnya." Gavin berbelok ke arah jalan pabrik. Bukan dari ladang, tapi jalannya cukup buruk juga. Aspal telah rusak, karena mobil besar yang keluar masuk pabrik ya melewati jalanan ini. 


Sudah terbuka. Wallpaper ponselnya adalah dirinya sendiri yang tersenyum manis dan mengangkat gelas kopi. Gavin membahagiakan dirinya sendiri. 


"Ini YouTube nih, Dek." Aku langsung menukar ponselku dengan milik Gavin. 


Cali tidak masalah sepertinya, ia tetap manggut-manggut mengikuti irama lagu anak-anak ini. Ia pasti mengerti YouTube, tontonannya di rumah mbak Canda adalah televisi yang menggunakan mode untuk menonton YouTube. 


Mbak Canda malah senang anaknya anteng melongo menonton televisi. Dengan alasan, agar ia bisa sambil melipat baju atau menyetrika. Memang ada pengasuhnya, tapi bang Givan marah jika anaknya terus digendong-gendong. Alhasil, mereka sejak kecil hanya diawasi dan diurusi saja. Tidak begitu dimanjakan dengan gendongan atau dekapan. 


"Kalau kau turun, Cali nangis bisa bahaya. Aku tak bisa tenanginnya." Gavin melirikku sekilas. 


"Bisa, ada HP. Suruh main HP aja." Cali bisa mengganti video sendiri.


Memang bayi zaman now. 


Sampai tiba aku turun, anak ini malah bergantungan di leherku. Ia tidak mengizinkan aku turun, ia terlalu takut dengan ayahnya sendiri. 


"Ya ampun, Adek." Gavin tertawa geli dengan menaruh ponselnya di dashboard mobil. 


Wajahku sudah datar saja seperti ini, 😑. Karena Gavin malah terus tertawa, melihat anaknya seperti sesuatu yang pandai bergantungan. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2