Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Mas Ganteng


__ADS_3

Beberapa menit perjalanan,akhirnya sampailah di parkiran Rumah Sakit.


Devon mengecup puncak kepala Vina dengan lembut, perhatian yang pria itu berikan beberapa hari ini membuat Vina terbuai dengan hayalan yang mengingatkannya pada masa di saat mereka masih merajut kasih.


Namun kini perhatian yang di berikan hanya menambah rasa sakit di hatinya,pria yang amat di cintainya kini telah mengikat janji dengan wanita lain.


Vina membalas lambaian tangan Devon saat mobil melaju meninggalkan parkiran Rumah Sakit.


Sementara di suatu tempat yang tersembunyi, sepasang mata memandang adegan tersebut dengan darah mendidih,tangannya mengepal hingga terlihat buku-buku jarinya memutih.


*


*


Shanum sibuk membereskan berkas yang sudah di tanda tanganinya di atas meja,senja telah datang bahkan matahari sedikit lagi tenggelam menuju peraduannya.


Langkahnya kini ia arahkan ke arah parkiran mobilnya,sudah beberapa hari ini Devon tak datang menjemputnya bahkan kabar pun tak ada.


Malam ini Shanum berniat untuk bermalam lagi di mansion ayah Hardy,rasa rindu pada sang pria cinta pertamanya itu seakan belum terobati karena kemarin sang ayah tak berada di mansion.


Shanum membalas anggukan hormat para penjaga gerbang mansion.


"Pak apa ayah sudah pulang?"tanya Shanum pada pria berbadan tegap yang sedang berdiri membukakan pintu mobilnya .


"Sudah Nona,Tuan Besar sudah tiba satu jam yang lalu"jawab nya dengan ramah.

__ADS_1


"Ehhmm ,terima kasih pak"ujar Shanum lalu mengangguk seraya tersenyum hangat.


"Beginilah nasib rakyat jelata,yang hanya bisa mengagumi pesonamu Nona ".


Langkah Shanum cepat menuju pintu utama.


"Ayah ...kapan datang"Shanum berlari memeluk pria yang berumur hampir setengah abad itu dengan erat.


"Ehhhm....putrikuuu "Hardy membalas pelukan putri satu-satunya itu dengan erat bahkan rasa rindu dan perih di hatinya membuatnya tak sadar saking kencang pelukannya di tubuh sang putri,hingga membuat shanum merasa sesak di dadanya.


"A ayahhh ..le lepasss"tepukan Shanum di punggung Hardy sontak menyadarkan lelaki paruh baya itu dan segera ia mengurai pelukan erat pada tubuh kecil putrinya itu.


Shanum menghirup nafas panjang seakan tembok yang menghimpitnya terlepas hingga dadanya kini bebas kembali bernafas.


"Tidak ayah ,tenanglah tubuhku kuat jadi kau tak perlu risau"Shanum berujar dengan senyum manis.


Hardy lalu kembali merangkul tubuh putrinya namun kali ini dengan lembut.


Tak biasanya Hardy memeluknya begitu erat seakan tak ingin berpisah dengannya.


Perilaku tak biasa itu tentu saja membuat tanda tanya di hati gadis itu.


"Ayah,maafkan putrimu ini yang belum bisa memberikan kebahagiaan di hari tuamu ".


Shanum bergumam lirih,Hardy berulangkali mengutarakan isi hatinya bahwa ia sudah ingin sekali menimang cucu,namun sampai detik ini ia belum juga dapat mengabulkan keinginan sang ayah.

__ADS_1


"Duduklah,ayo kita makan, ayah sudah meminta para bibi untuk memasak makanan kesukaanmu"Hardy berkata dengan memegang tangan Shanum,lalu menuntun putrinya ke meja makan.


"Tapi aku belum mandi ayah,badanku lengket"tolak Shanum dengan nada bagai seorang anak yang sedang merajuk.


"Ya sudah,kau mandilah dulu,ayah tunggu di meja makan"


"Oke ayah,putrimu ini tak akan menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit"jawab Shanum dengan mengedikan kedua alisnya lalu melangkah ke kamarnya.


Tok tok .


"Ya masuk"perintah Hardy.


"Maaf tuan,ada mas ....ganteng datang,katanya membawa obat Nona Muda yang ketinggalan di kantor"jawab seorang penjaga yang belum lama ini baru bekerja di mansion Hardy dan belum mengenal siapa tamu yang biasa para bibi panggil dengan mas ganteng.


"Ya suruh dia masuk"perintah Hardy yang masih tampak bingung siapa mas ganteng yang di maksud penjaga nya itu.


"Selamat malam tuan"netra Hardy memandang lekat ke arah sosok bertubuh tegap dengan rahang tegas hidung mancung alis tebal dan bulu mata lentik ,sungguh tak salah jika para pelayan dapur di mansion itu memanggilnya mas ganteng,senyumnya mengembang sempurna,rupanya seorang karyawan kebanggaannya yang tak lain adalah Rangga sang mas ganteng itu.


Hardy berdiri dan menyongsong pemuda yang baru saja menyapanya dengan hormat itu,lalu menepuk bahunya dengan lembut.


Rona wajah bahagia terlihat di matanya.


"Siapapun kau, jika kau dapat membahagiakan putriku,aku rela kaulah yang menjadi pendamping hidupnya,menggantikan lelaki brengsek itu".


Hardy bergumam lirih,teringat adegan yang tak sengaja di lihatnya sore tadi.

__ADS_1


__ADS_2