Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Waspada


__ADS_3

Rangga dan Shanum terpaksa berangkat ke kantor kejaksaan tanpa mengisi perut dulu karena drama tragedi gagal tek dung membuat mood Shanum hancur.


Untunglah Rangga yang sebagai anak lelaki tertua di keluargannya sudah sedikit paham apa yang harus di lakukan untuk menghadapi emosi yang tidak stabil jika waktu tamu rutin bulanan seorang wanita datang.


Seperti saat ini, sejak pagi sang istri sudah sangat menguji kesabarannya.


Jika Hardy sudah lebih dulu berangkat, berbeda dengan kedua pasangan pengantin baru itu.


Perubahan hormon pada Shanum membuat emosinya sungguh sangat susah untuk di kendalikan.


Sedikit saja hal kecil yang menyinggung hatinya, Shanum akan langsung menangis penuh drama, lalu Rangga akan dengan sabar membujuk dan merayunya hingga suasana hatinya kembali membaik.


Bahkan Rangga memerintahkan seorang untuk membelikan coklat dan makanan manis untuk menjaga moodnya tetap stabil selama perjalanan ke kantor pengadilan.


Untuk meminimalisir terjadinya kesalahan, Rangga mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya dan membiarkan Shanum duduk memejamkan matanya.


Beberapa barang bukti dan saksi sudah lengkap untuk menyered Hendy dan komplotannya, namun jika ternyata Hendy tidak menerima keputusan dan akan naik banding, Rangga juga memiliki bukti-bukti lain yang cukup memberatkan.


Setelah beberapa jam menahan rasa tak nyaman di perutnya selama persidangan, akhirnya Shanum bisa bernafas lega.


Rangga memberinya segelas minuman sari buah kesukaannya.


"Bagaimana sayang, apa semua lancar?"tanya Rangga yang menunggu sidang di luar.


Shanum hanya mengangguk lesu, berada di ruangan yang begitu menegangkan, bahkan unyuk bernafas pun Shanum tak leluasa.


Rangga mengusap punggung Shanum dengan lembut.


Meski hatinya di liputi penasaran tentang hasilnya sidang, tapi Rangga lihat Shanum butuh waktu untuk menenangkan dirinya dulu.


"Kita istirahat dulu di hotel xx"ujar Rangga saat melihat keletihan di wajah istri kecilnya.


Rangga mencari keberadaan sang ayah mertuanya namun ternyata Hardy telah lebih dulu keluar dari gedung tanpa sepengetahuan mereka, informasi dari yang Rangga dapat dari pengawal yang di tugaskan untuk mengawal Shanum.


Rangga mengangguk setelah pengawal menyuruhnya beristirahat di hotel yang telah Hardy pilihkan.


"Ayo kita istirahat dulu, setelah itu baru kita pulang"ucap Rangga.


Shanum melangkah dengan tangan berada dalam genggaman erat sang suami.


Beberapa menit perjalanan akhirnya sampailah di hotel xx.


"Sayang kita makan dulu atau mau langsung ke kamar?"tanya Rangga yang perutnya sudah terasa keroncongan.


Shanum menggeleng dengan mata yang tampak loyo, lelah tubuhnya di tambah dengan kondisi perut yang terasa tak nyaman, membuatnya ingin segera membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kita makan di kamar saja ya"pinta Shanum.


Rangga mengangguk iba.


"Sayang, mana tas ku"Rangga melihat sekeliling yang ternyata sopir dan pengawal telah menuju ke parkiran tanpa menurunkan tas milik Shanum yang berisi perlengkapan khusus wanita.


Rangga melihat layar ponselnya dengan wajah panik, penjaga yang bertugas mengawal mereka tak mengangkat panggilan begitupun sang sopir.


"Sayang kau ke kamar saja dulu, aku akan menunggu tas mu di lobi, mungkin mereka belum sempat mengangkat panggilanku"ujar Rangga.


Shanum menghela nafas berat, badannya terasa gerah dan lengket, ingin segera ia membersihkan tubuhnya dan berbaring di ranjang.


"Aku akan menyusul secepatnya, dan akan ku minta pihak hotel untuk membawakan makanan ke kamar kita"Rangga mencoba menenangkan Shanum yang sudah terlihat gelisah.


Rangga terpaksa menunggu di front office.


Drrt drtt.


"Jaga, Shanum jangan sampai lengah, sidang tadi membuat Hendy murka, kita harus lebih waspada, minggu depan sidang lanjutan kembali di gelar" pesan Hardy ke Rangga membuat wajahnya seketika tampak pucat.


Setengah berlari, Rangga melangkah ke arah Lift dan memencet tombol lantai kamarnya.


Berkali-kali Rangga melihat tombol lift yang terasa begitu lama berganti.


Bodoh, kamu benar-benar suami yang bodoh Ngga, batin Rangga berucap geram.


Ting.


Tanpa menghiraukan pengunjung lain yang berada satu lift dengannya melihat dengan tatapan heran saat Rangga berlari menuju pintu kamarnya.


"Sayang, sayang di mana kau?"Rangga setengah berteriak saat pintu kamarnya berhasil terbuka.


"Hmmm, ada apa sayang, apa tas nya sudah ada"tanya Shanum dengan muka bantal tanpa dosa.


Greeepp.


Rangga berlari merengkuh tubuh Shanum dalam pelukannya.


Shanum tertegun melihat sikap suami yang tiba-tiba berubah aneh.


"Kenapa sayang, ada apa?"Shanum menepuk bahu Rangga lembut.


"Syukurlah kau tidak apa-apa, kita harus hati-hati, tuan Hendy merasa tak puas dan ayah menyuruh kita untuk waspada"ujar Rangga sambil menatap Shanum intens.


Shanum diam tak bersuara, hanya kedua matanya yang tajam menatap netra Rangga.

__ADS_1


"Tenanglah, kau tidak perlu cemas, ada aku di sini, ayah juga sudah menyuruh orang menjaga di sekitar kita"Rangga berusaha menenangkan Shanum yang terlihat masih shock mendengar apa yang Rangga katakan.


Krueeekkk kreeek.


Shanum memandang sumber bunyi yang ternyata keluar dari perut Rangga.


"He hee"Rangga tersenyum polos dan mengusap perutnya.


"Aku sudah memesan RC tapi sampai saat ini mereka belum juga mengirim makanan kita".ucap Shanum lesu.


"Kita tunggu sebentar lagi"ujar Rangga lalu duduk di sofa panjang, dengan perlahan di rebahkannya tubuh yang terasa penat dan kaku.


Teet.


"Ah itu makanan kita datang"Rangga berteriak girang menuju ke pintu hotel.


Namun senyumnya sontak sirna saat melihat dua pria ber jas berdiri di tengah pintu dengan tas Shanum di tangan salah satu pria bertubuh kekar itu.


"Maaf tuan, kami baru antar tas milik non Shanum"ucap satu pria yang memegang tas Shanum dengan kepala menunduk segan.


"Hmm, kalau punya hp sering-seringlah di cek, pesan tidak di baca, panggilan juga kalian tak angkat, huum begitu sibukkah kalian?"tanya Rangga sinis, membuat kedua pria berjas itu tertunduk dengan penuh rasa bersalah.


"Maaf tuan, mungkin kami sedang mengecek ban mobil yang ternyata bocor"ujar satu pria, sementara pria lain tertunduk lesu.


"Huum sudahlah, kalian boleh pergi, dan mulai sekarang hp harus kalian standby setiap saat, dan saya tidak mau ada kejadian seperti ini lagi"Rangga berucap dengan tegas.


"Baik tuan,"kedua pria ber jas itupun menunduk hormat lalu pergi.


"Tunggu, apa kalian sudah mendengar perinta dari ayah mertua?"tanya Rangga.


Kedua pria itupun saling pandang lalu mengangguk bersamaan.


"Kami di perintahkan untuk menjaga non Shanum dua puluh empat jam tuan"ujar mereka.


Rangga tersenyum puas.


"Bagus, laksanakan, dan jangan sampai kalian lengah, karena nyawa kalian taruhannya"Rangga berucap dingin namun tegas.


Kedua penjaga itu pun saling pandang di balik pintu sambil mengusap tengkuk mereka yang tiba-tiba meremang sempurna.


Meski terlihat ramah dan polos namun ternyata Rangga memiliki aura yang membuat mereka seketika menunduk patuh.


"Ciee ciee ternyata kau bisa seram juga sayang" ucap Shanum tersenyum melihat Rangga berubah garang dan berwibawa.


"Aku bisa semanis kucing dan bisa se garang singa, apalagi untuk melindungimu, nyawa pun akan aku pertaruhkan untuk melindungimu" ujar Rangga dengan nada kini berubah menjadi hangat.

__ADS_1


__ADS_2