Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kau dan Aku Jauh Berbeda


__ADS_3

Rangga merangkul Shanum menuju kamarnya, pertama kalinya ia memasuki kamar yang begitu luas dan nyaman, mungkin jika di bandingkan dengan kamar di kontrakannya satu banding lima.


Ranjang berukuran luas, televisi lebar yang terpasang kokoh di dinding dengan sofa panjang nan nyaman.


"Kenapa sayang?"tanya Shanum yang merasa heran dengan tingkah suaminya.


"Ehm, kamarmu begitu luas dan nyaman, jabatanmu seorang CEO, harta kekayaanmu pun tak terhitung, membutaku jadi minder, apakah hidup bersamaku adalah keputusan yang tepat bagimu sayang?"ucap Rangga panjang, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Shanum mengerutkan kedua alisnya.


"Dari ukuran kamar kenapa bisa jadi ujungnya ke harta dan tahta?"tanya Shanum yang kini semakin di buat bingung.


"Bukan begitu, aku hanya merasa begitu tak berarti di depanmu sayang, ibarat kau adalah kasta brahmana dan aku kasta sudra, hanya cinta yang aku punya, sanggupkah kau hidup bersamaku setelah mengetahui keadaanku"Rangga menatap Shanum intens.


"Aku tak pernah memilih di mana aku di lahirkan, dan garis hiduplah yang membuatku sekarang berada di sini, menua bersamamu sampai akhir hayatku itulah inginki "ujar Shanum dengan senyum bijak.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"tanya Shanum melihat Rangga masih menatapnya dengan tajam.


"Tatap mataku, apa kau lihat kebohongan di sana?"Shanum membulatkan matanya tepat di hadapan Rangga.


Rangga merengkuh tubuh Shanum dalam pelukannya, sungguh impiannya kini telah menjadi nyata, ia bukan lagi seorang pungguk yang merindukan bulan, karena bulan itu kini telah berada dalam dekapan eratnya.


"Emmphh"Shanum menepuk punggung Rangga agar melonggarkan pelukannya karena bahunya yang masih terluka kini terasa berdenyut ringan.


"Ehmm, eh maaf, maaf sayang, apa aku menyakitimu"Rangga yang baru tersadar sontak segera melerai pelukannya dan mengusap bahu Shanum yang masih terbalut perban.


Shanum menggeleng pelan dan tersenyum.


"Sungguh lukamu tidak apa-apa?".


"Tidak sayang, tadi aku hanya reflek".


Dengan lembut Rangga mengusap bahu Shanum, jelas rona wajahnya kini penuh rasa sesal.


Cupp.


Di kecupnya bahu kecil sang istri lalu memandangnya intens.


"Kamu cepatlah sembuh, okey"bak seorang bocah yang sedang berbicara dengan boneka mainannya, Rangga mengusap dan mengecup lengan Shanum.


Tok tok.


"Non, Den, makan sudah siap, di tunggu tuan Hardy di ruang makan"ujar seorang pelayan dari balik pintu.


"Iya bi, bentar lagi"sahut Shanum.


"Aku mandi dulu sayang, gerah rasanya?"Shanum melangkah ke kamar mandi.


"Ngapain mandi, tar juga mandi lagi"ujar Rangga sambil mengedipkan satu matanya.


Shanum menautkan alisnya, tak mengerti arah mana yang di maksud Rangga.


"Udah sana cepetan mandinya, kasihan ayah sudah nunggu lama"Rangga menuntun Shanum ke kamar mandi.

__ADS_1


"Stop stop"ucap Shanum menghentikan langkahnya, membuat Rangga yang mendorongnya pelan pun akhirnya berhenti.


"Kenapa?"


"Aku mandi sendiri"Shanum mengurai tangan Rangga.


"Yakin?"tanya Rangga seakan tak percaya.


Shanum mengangguk pasti dan menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.


Rangga yang kini sendiri akhirnya duduk di sofa sambil garuk-garuk kepala.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Shanum keluar dari kamar mandi handuk kimononya.


Glek


"Sayang kenapa kau masih di sini?"tanya Shanum kaget.


Sementara Rangga yang kini perhatiannya terfokus pada leher jenjang putih Shanum tak menyahut apa yang Shanum tanyakan.


Leher putih mulis yang seakan menari melambai-lambaikan tangannya mengundang untuk menikmati sensasi kelembutannya di tambah dengan wangi sabun beraroma lavender yang sungguh memabukannya.


"Sayang aku mau ganti bajuku dulu"Shanum berujar sambil menyeret tangan Rangga agar keluar dari kamar.


"Kenapa aku harus keluar, aku ingin kita keluar sama-sama sayang, tak enak sama ayah nanti jika lihat kita tidak bareng makannya"Rangga tampak percaya diri dengan alasan logisnya.


Shanum pun terdiam mendengar penuturan Rangga.


Rangga pun menuruti apa yang Shanum minta.


Daleman bagian bawah sudah terpasang, begitupun baju bawahannya, kini tinggal kain penutup bagian dadanya yang belum, karena lengan Shanum masih terasa nyeri jika di gunakan untuk gerakan memutar.


"Udah sayang?"tanya Rangga karena sudah cukup lama ia membalikan tubuhnya menghadap jendela balkon.


"Ehhm"jawab Shanum bingung.


"Kenapa sayang, ada yang perlu aku bantu?"tanya Rangga tak sabar.


"Ehhm i anu .."


"Yaaaakkkh"teriak Shanum saat melihat Rangga membalikan tubuh ke arahnya.


"Tutup matamu!".


"Kamu kenapa sayang, sudah belum pakai bajunya, kasihan ayah lama nunggu kita"


"I iya aku sudah pakai, cuma ini belum terpasang"ujar Shanum panik.


"Oke kamu perlu bantuanku tidak?"tanya Rangga.


"Iya tapi kamu tutup matamu sayang"ujar Shanum dengan nada memelas.


Rangga tersenyum gemas pada istri cantiknya.

__ADS_1


Meski bergelimang harta, hidup lama di luar negri dan dua tahun menjalin tunangan, ternyata tak membuat kepolosannya hilang.


Rangga sungguh beruntung memikirkannya.


Paket lengkap yang ia dapatkan membuatnya berfikir, entah kebaikan apa yang telah di lakukan orang tuanya hingga ia bisa mendapatkan jodoh sesempurna Shanum.


"Sayang, bagaimana suamimu ini bisa menolongmu jika kau suruh aku untuk memejamkan kedua mataku"ujar Rangga lalu berjalan dengan tenang ke arah Shanum yang masih dengan penutup kain bagian dada belum terkancing sempurna.


Jika wajahnya terlihat tenang, namun debaran jantungnya tak pernah berbohong jika saat ini dadanya seakan ingin meledak.


Pemandangan indah di depan mata terpampang dengan jelas.


Glek.


"Sayang cepet"rengek Shanum.


"Ehmm hmm"dengan pelan Rangga menautkan kancing kain penyangga Shanum.


Meski tangannya bergetar hebat namun sekuat tenaga Rangga berusaha menutupi kegugupan hatinya.


"Huff" akhirnya lega rasanya, meski sudah terikat sah suami istri, Rangga tak akan meminta haknya jika Shanum ternyata belum siap.


Shanum tersenyum senang, asik rasanya mengerjai suami yang sok tenang dan dingin


"Kau jahat sayang"ucap Rangga lirih.


Shanum menatap lekat netra hitam suaminya.


Kenapa jadi berubah baper, batin Shanum panik.


"Aku jahat kenapa?".


"Kau selalu menggoda suamimu yang polos ini, sampai kapan aku bisa bertahan sayang, tak lihatkah kau di bawah sana, sang Arjuna yang sudah siap tempur mencari sarangnya?"kalimat frontal Rangga sontak membuat Shanum membeku.


Shanum mengikuti pandangan mata Rangga yang tertuju ke arah bawah tubuhnya, di mana terlihat jelas Arjuna nya sudah tampak mengeras sempurna.


Glek.


Shanum memalingkan wajahnya, dan menarik tangan Rangga menuju ke ruang makan.


"Sayang tunggu dulu"Rangga menahan tangan Shanum, lalu memejamkan matanya.


Dengan mengatur nafas dan melakukan lompatan-lompatan kecil akhirnya Rangga dapat menaklukan Arjunannya untuk kembali dalam mode tidur.


"Lain kali, kau harus bertanggung jawab jika Arjuna ku mengamuk"bisik Rangga lembut namun terdengar sangat mengerikan bagi Shanum.


"Tidak lama lagi sayang, aku dengan senang hati akan melayanimu dengan segenap cintaku, kita akan nikmati dan menghabiskan malam indah bersama"bisikan Shanum seakan sebuah air yang membasahi kerongkongannya yang di landa dahaga, wajah Rangga kembali ceria.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Dua kali gagal repiuw😭😭😭


Revisi ulang, maaf telat.

__ADS_1


__ADS_2