
Sebelum baca jangan lupa, jempolnya di goyang.
Like, koment, vote dan hadiahnya othor tunggu😘😘😘
Happy reading.
💦💦💦💦
Rangga dengan sumringah keluar dari ruangan sang istri, mood boosternya kini melonjak setelah mendapat asupan vitamin dari Shanum.
Langkahnya tegap dan pasti, menuju ke ruangannya.
Sementara Shanum segera ke kamar kecil untuk membetulkan lipstik di bibirnya.
Harun menunduk hormat ke arah Rangga.
"Tuan, pak Kevin sudah menunggu anda di ruangan anda"ujar Harun.
"Kevin"Rangga tersenyum senang.
Dari kemarin Rangga tak berjumpa dengan sahabat somplak satunya itu, rupanya Kevin ijin satu hari karena pulang kampung.
Ceklek.
Kevin menoleh ke arah pintu, senyumnya mengembang melihat kemunculan Rangga.
Keduanya saling berpelukan erat.
"Selamat bro, akhirnya lu bisa menjadi orang"ucap Kevin menepuk bahu Rangga.
"Sialan lu, emang selama ini gue setan"ujar Rangga menoyor jidat Kevin.
"Duduklah, dari mana lu tahu ruangan gue?".
"Hmmm siapa yang tidak kenal dengan wakil CEO yang baru di angkat tuan Hardy, sekaligus suami CEO Wijaya Corp,"kata Kevin sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Rangga tersenyum masam.
"Ehh tunggu, seperti ada yang aneh"Kevin menatap Rangga intens, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Rangga.
Rangga sontak memundurkan wajahnya saat Kevin semakin dekat dan memandang tajam ke arahnya.
"Waah wahhh, mentang-mentang sekarang jabatan naik kau bisa berbuat seenaknya humm"ucap Kevin sarkas dengan cibiran bibirnya.
"Apa maksud lu ah"Rangga menepiskan tangan Kevin yang menyentuh bibirnya seakan hendak mengusap sesuatu.
Kevin berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
Telunjuk yang baru di gunakan untuk mengusap bibir Rangga ia tunjukan.
__ADS_1
Glek.
Rangga tak dapat berkutik.
Rupanya kegiatan panas di ruang Shanum membuat Rangga tak menyadari ada sisa lipstik Shanum yang masih melekat di bibirnya.
"Ehh hmm, ya wajar lah kita kan sekarang sudah resmi"ujar Rangga mencoba menutupi ke gugupannya dengan mengambil tisu lalu membersihkan bibirnya.
"Ya se tidaknya lu bersihin dulu sebelum keluar dari ruangan itu, masih untung gue yang liat, coba kalau Danu dan Dika, mereka jomblo Ngga, apa lu nggak kasihan jika mereka cenat-cenut karena nggak ada pasangan"sambung Kevin.
"Aaahhh sudah-sudah, lu sebenarnya ke sini mau ngapain?"tanya Rangga.
"Gue ehmm,"ucapan Kevin terdengar ragu.
"Lu apa hah yang jelas kalau ngomong"Rangga kini merasa kesal dengan sikap Kevin yang penuh teka-teki.
"Sebenarnya Monik selalu nanyain elu ".
Rangga menautkan alisnya, ia sama sekali lupa akan hal itu.
Sebenarnya sudah lama Rangga berencana ingin mengatakan yang sesungguhnya pada gadis itu.
Rangga tak ingin membuat Monik terus berharap padanya.
"Sorry bro, gue lupa"sesal Rangga.
"Katakan padanya, dan ceritakan sejujur-jujurnya, jangan buat dia terus berharap padamu"ucap Kevin bijak.
Tentang kini dirinya yang telah menikah.
Meski akhirnya Monik akan tahu dengan sendirinya namun Rangga pun merasa harus menjelaskan secara pribadi.
"Tapi gue bingung gimana caranya gue jelasin ke Monik, tentu Shanum tak suka jika aku bertemu dengan gadis lain apalagi berdua"ucap Rangga.
"Ya lu ajak istri lu dong"jawab Kevin santai.
Rangga berbinar mendengar usul Kevin.
"Oke bro, thank's atas usul cemerlang lu"Rangga menepuk bahu Kevin.
"Udah kalau begitu gue mau ke ruangan gue".
"Oke".
Rangga melambaikan tangannya ke Kevin.
Kini Rangga harus memutar otak, bagaimana caranya mengajak Shanum untuk bersamanya menemui Monik.
Rangga sekilas melihat jam di dinding, waktu makan siang sebentar lagi mulai.
__ADS_1
Rangga melangkah keluar ruangan dengan tujuan ke ruangan Shanum.
"Pak Har, tunggu, apa nyonya Shanum ada di ruangannya?".
"Maaf tuan, nyonya baru saja berangkat untuk menemui klien untuk undangan makan siang".
Rangga menghela nafas berat.
Susahnya berjumpa dengan istri sendiri, meski ruangan saling bersebelahan,batin Rangga lirih.
Akhirnya Rangga melangkah menuju kantin yang terletak di lantai dua
Namun ia tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk ke kantin karena melihat Monik tengah berjalan menuju lift.
Dengan cepat Rangga berlari ke arah pintu lift yang beberapa saat lagi akan menutup.
"Huffff".
"Mon aku mau bicara"ucap Rangga di sebelah Monik.
Ruangan lift yang kosong membuat Rangga lebih leluasa bertanya pada Monik.
Gadis itu tersenyum senang, beberapa hari tak melihat wajah sang pujaan, membuatnya begitu bahagia melihat kehadiran Rangga saat ini.
"Aku mau beli buah di warung depan, kita ngobrol di sana aja"ujar Monik girang, baru pertama kali ini Rangga menyapanya dengan ramah.
Rangga pun mengangguk lalu mereka menuju ke sebuah toko yang menyediakan berbagai macam buah segar, tak jauh dari gedung Wijaya Corp.
Rupanya tak hanya buah, karena berbagai macam jus juga tersedia.
Di sebuah kursi panjang mereka duduk ber hadapan.
Monik tampak tak sabar dengan apa yang hendak Pria impiannya itu katakan.
"Beberapa hari tak bertemu bagaimana kabarmu Ngga?"tanya Monik tulus.
"Ehmm aku baik Nik, maaf tidak memberimu kabar"ucap Rangga lirih, tak tega rasanya ia harus membuat gadis di depannya terluka
Girang bukan main hati Monik.
Mungkinkah sekarang Rangga berubah, dan mau menerima cintanya, batin Monik girang.
Sementara Rangga tersenyum masam.
"Oiya Ngga, aku kemarin mendengar gosip tentangmu, apa kau sudah mendengar berita hoak itu, kau tahu saat ini kau sedang jadi bahan berita panas"Monik berucap dengan antusias.
"Hah gosip?gosip apa Nik?"Rangga bertanya dengan heran.
"Kau di beritakan bahwa sekarang sudah menikah dengan CEO kita, bukankah itu sungguh berita hoak yang luar biasa? Aku heran dari mana mereka bisa mengarang cerita seperti itu ha ha ha"kalimat Monik di iringi tawa renyah.
__ADS_1
Tengkuk Rangga meremang mendengar tuturan kalimat Monik.
"Ehm Nik, berita itu bukan hoak Nik, dan itu semua adalah benar"nada suara Rangga lirih dan terdengar tenang.