Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Alih Profesi


__ADS_3

Senyum bahagia Shanum merekah, seluruh penghuni mansion suka dengan kue yang di beli dari penjual yang ditemuinya saat jalan santai sore tadi.


"Sayang jangan terlalu banyak kau makan kue manis tersebut, ingatlah...yang berlebihan itu tidak baik" ujar Rangga yang melihat Shanum sudah menghabiskan beberapa buah kue namun belum juga menyudahi makan camilannya tersebut.


Shanum menyandarkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah sambil mengusap perutnya, beberapa potong kue sudah masuk mengisi oeeurtnya yang buncit.


"Sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak" ucapnya.


Rangga tersenyum gemas, mengusap perut buncit sang istri.


"De, apa apa kau tidak rindu pada ayahmu ini nak?" bisiknya.


"Bilang pada ibumu, jangan dulu tidur, ayah ingin menjengukmu" mata Rangga melirik ke arah Shanum yang datar seakan menghindari tatapannya.


"Bi, tolong bawa kue ini ke dapur, istriku sudah ngantuk mau tidur katanya" titah Rangga tanpa persetujuan sang istri.


"T tapi aku masih ingin memakannya sayang" protes Shanum kesal.


"Besok abangnya masih akan datang ke mansion, dan kau bisa menikmati sepuasnya, sekarang gantian aku yang ingin memakanmu" ucap Rangga dengan nada pelan sambil tangan menarik pinggang Shanum untuk menuju ke kamarnya.


Penjual kue menolak pemberian uang dari Rangga dan Shanum dengan halus ia hanya menerima pemberian dari hasil keringatnya, maka tak ada cara lain, Shanum membeli dagangannya dengan jumlah banyak namun ia bisa mencicilnya dengan datang ke mansion setiap hari selama satu mingggu, dan membuat kue tersebut untuk seluruh penghuni mansion yang ternyata sangat menyukai kue tersebut.


Akibat kemarahan Shanum membuat Rangga beberapa hari tak bisa menikmati kehangatan tubuh sang istri, bagai sayur tanpa garam, begitulah dunia Rangga seakan menjadi hampa.


"Sayang ini masih sore, kenapa kita ke kamar?"


"Nanti akan aku pijit kakimu."


Tertegun Shanum di buatnya, tentu saja ia tak bisa menolak tawaran menggiurkan itu.


Lebih dari tiga puluh menit Rangga memijit kaki sang istri, rasa kantuk pun perlahan menghampiri wanita berperut buncit tersebut.


Namun niatnya perlahan sirna saat tangan jahil Rangga mulai beraksi dengan perlahan melepas satu persatu kancing baju tidur Shanum.


Ia pun tak dapat menolak hasrat sang suami yang beberapa hari tertahan akibat perang dingin mereka.


Tubuh Shanum yang memang merindukan belaian sang suami pun tak menolak bahkan respon hangat menyambut kecupan bibir Rangga yang kian menuntut, keduanya saling menyambut sesapan bibir mereka.


Dan Rangga pun akhirnya tersenyum puas saat niatnya menjenguk sang putra dalam perut Shanum telah terpenuhi.


Di kecupnya puncak kepala Shanum yang terkulai lemas di atasnya, tubuh sang istri yang semakin bervolume semakin sexy untuk di lihat, rasa ingin menikmati kehangatan lagi, dan lagi, semakin candu tubuh Shanum.

__ADS_1


"Sayang..ayo kita ke kamar mandi" ujarnya lembut, ia pun menyadari tubuh wanita hamil akan mudah merasa lelah, apalagi setelah ia menggempurna cukup lama.


Rangga seakan ingin membayar hasrat yang tertahan dalam tubuhnya yang tak tersalur selama beberapa hari.


Setelah terlebih dahulu Rangga membersihkan tubuhnya ia segera menyiapkan air hangat di bathub untuk sang istri, perlahan di gendongnya tubuh yang masih terkulai lemas masuk ke kamar mandi.


"Sayang, aku sangat lelah" bisik Shanum tak bertenaga, setelah Rangga menggempurnya habis-habisan kini tenaga dalam tubuhnya seakan habis terkuras.


"Tenanglah, kau duduk biar aku yang akan membersihkan tubuhmu."


Tak ada sisa tenaga lagi bagi Shanum untuk melayani kejahilan sang suami, ia hanya diam dengan mata terpejam menikmati usapan lembut tangan Rangga yang menyapu seluruh bagian tubuhnya.


Rangga hanya tersenyum puas, tak henti nya ia memandang tubuh putih halus bagai manekin yang kini polos terkulai di dalam bathub.


Sangat menggemaskan, andai saja Shanum masih memiliki tenaga untuk bermain lagi sudah pasti Rangga akan kembali menyerangnya bertubi-tubi.


Glek.


Rangga hanya dapat menelan saliva yang terasa pahit, segera ia menyudahi menggosok tubuh Shanum saat senjatanya sudah mulai tegak kembali.


Setelah selesai membersihkan tubuh Shanum, lalu ia menggendongnya ala bridel menuju kamar, dengan telaten ia keringkan tubuh dan rambut sang istri dengan handuk , dan merebahkannya di atas ranjang setelah memakaikannya baju tidur tanpa tambahan kain penutup dada berbentuk kacamata, karena kini sang istri memang tak lagi memakainya jika malam hari.


"Sayang minumlah susu ini dulu, agar tubuhmu kembali segar" ucap Rangga setelah membuatkan segelas susu hangat.


Glek glek.


Rangga tertegun, setelah meminum segelas susu, Shanum langsung merebahkan kembali tubuhnya bahkan matanya pun langsung terpejam rapat.


Apa aku terlalu berlebihan menggunakan kekuatanku sayang, kau tampak begitu lemas dan tak berdaya.


Rangga mengusap rambut hitam Shanum, dan keduanya pun terlelap ke alam mimpi, setelah kegiatan panas menguras tenaga keduanya.


"Aaakkhh" teriakan Shanum menggema di ruangan kamar, membuat Rangga sontak terbangun dengan dada berdegub kencang.


"Hah, ada apa sayang, kau kenapa, apa yang sakit?" pertanyaan beruntun sambil tangan membolak balikan tubuh sang istri mencari kalau ada tubuhnya yang lecet atau terluka.


"Aku tidak apa-apa sayang" terang Shanum cepat.


"Lalu kenapa kau berteriak" ujar Rangga dengan wajah melas karena jantungnya belum berhenti berdetak dengan kencang setelah mendengar jeritan Shanum.


"Lihatlah kita terlambat bangun" ucap Shanum panik.

__ADS_1


"Sstt sayang, tidak usah terlalu panik seperti itu, tak baik untuk anak kita" Rangga mengusap perut Shanum lembut.


Hanya helaan nafas panjang yang dapat Shanum lakukan, mengatur nafas, sedikit mengurangi rasa panik di dadanya.


"Kau diamlah dan duduk yang tenang dan tolong siapkan baju kantorku sementara aku mandi sebentar" Rangga berucap lembut dan tenang, tak ada tersirat rasa panik di raut wajahnya.


Shanum bergegas mengambil kemeja dan celana kantor Rangga.


"Sayang aku tunggu di ruang makan."


"Iya sayang."


Tak berapa lama Rangga muncul dengan baju sudah rapi.


"Sayang maaf aku tidak sempat sarapan mmuacch" Rangga mengecup puncak kepala sang istri ringan.


Langkahnya terhenti saat di lihatnya kue masa kecilnya sudah tersaji di atas piring di atas meja makan.


"Sayang apa abangnya sudah datang sepagi ini?" tanya Rangga heran.


Shanum mengangguk, abang penjual kue memang selalu berangkat sehabis subuh dan ia langsung menuju ke mansion untuk menyiapkan kue agar para penghuni mansion bisa menikmati sarapan pagi dengan kue tradisional yang masih hangat.


"Ehm kalau begitu tolong bi, bungkuskan semua kue ini, akan ku bawa untuk bekal sarapan di kantor" titah Rangga pada bibi.


Bergegas bibi membungkusnya ke dalam kotak makanan.


"Apa Den Rangga akan menghabiskannya semua Den?"


"Tentu saja tidak bi, akan ku bagikan pada karyawan lain" senyum Rangga.


Ke riuhan terjadi di front office gedung Wijaya Corp.


Sengaja Rangga menaruh kue jadul tersebut di atas meja dan menuliskan 'Kalau doyan ambil'.


Sontak para karyawan yang datang di belakang Rangga pun mengambil satu-satu, sebagian dari mereka yang memang mengenal kue jadul tersebut merasa sangat senang karena rasanya di ajak kembali mengenang masa kecil.


Tak lebih dari setengah jam kue tersebut habis tak tersisa.


Apa bos mau alih ptofesi menjadi pengusaha di bidang kuliner.


David membatin dengan senyum tak mengerti saat memasuki gedung dan melihat keriuhan karena ulah atasannya itu.

__ADS_1


__ADS_2