Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Sesal Linda


__ADS_3

Sepanjang meeting berjalan, Linda tak henti melirik ke arah Rangga, seakan setiap moment tak ingin ia lepaskan.


David yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum masam, betapa keras hati wanita itu, yang masih saja berharap perasaannya akan terbalas oleh pak Rangga.


Seluruh peserta meeting keluar setelah acara usai.


Linda yang berada di belakang Rangga, berusaha mempercepat langkahnya untuk mengejar.


Namun terpaksa wanita sexy tersebut menelan pil kecewa saat panel lift tertutup sebelum dia sempat masuk.


Beberapa kali Linda menekan tombol lift tak sadar, hatinya sungguh geram saat lift tetap menutup rapat.


Sesampainya di lobi, Linda mengedarkan pandangannya, berharap sosok Rangga masih bisa di temuinya.


Matanya berbinar, Rangga ternyata sudah berada di area parkir dan sedang menunggu mobilnya.


"Pak...pak Rangga" pekiknya, beberapa pasang mata tampak memandang penuh selidik.


"Huff, pak Rangga tunggu sebentar, saya mau bicara" ucap Linda dengan nafas tersengal.


"Oh bu Linda, ada apa bu" jawab Rangga sopan.


"Saya mau minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu."


"Ehm kejadian yang mana ya bu?" tanya Rangga tak paham.


Linda menatap Rangga tajam, benarkah ia tak mengingat sedikitpun saat berada di apartemennya.


"Saya minta maaf karena, waktu itu tak ada pilihan lain selain membawa bapak ke apartemen saya, saya tak ingin bapak pulang dalam keadaan mabuk."


Rangga menatap Linda tajam, sebenarnya apa yang sedang ada dalam pikiran wanita di hadapannya itu.


"Saya juga terpaksa membiarkan bapak pulang bersama pak David asisten bapak, karena sebagai seorang wanita saya tak mungkin mengantar anda dalam keadaan tak sadar" jelasnya lagi


Rangga menghela nafas berat.


"Hmm sudah lah bu Linda, saya tidak apa-apa, toh di antara kita tidak terjadi hal-hal yang merugikan kita semua, dan terima kasih karena ibu masih mempertimbangkan efek dari kebodohan saya, he hee saya tidak pernah minum berkadar alkohol tinggi, jadi mungkin saya yang tak kuat hingga jatuh pingsan dan akhirnya merepotkan bu Linda, sekali lagi, terima kasih bu."


Linda mencelos, Rangga sama sekali tak menyimpan rasa seperti yang ia rasakan.


Tiiidd tiid.


"Ehm baiklah bu Linda, saya pamit dulu, asisten saya sudah datang."

__ADS_1


Rangga segera berlalu setelah membungkuk tanda perpisaha.


Senyum masam Linda melepas Rangga yang tega meninggalkannya seorang diri.


Dari kaca spion samping, David bisa melihat wajah Linda yang penuh kecewa.


Kapan kau sadar akan kesalahanmu bu Linda, sudahi niatmu untuk memiliki atasanku, karena aku tak akan membiarkan mereka hancur karena ulahmu.


"Huff, kita ke kantor dulu Vid, tasku ketinggalan."


David pun melaju ke arah Wijaya Corp.


Sampai di gedung Wijaya, suasana sudah tampak sepi, karena para karyawan sudah pulang.


"Itu bukannya bang Asep? Kenapa dia baru pulang" ujar Rangga saat melihat Asep baru keluar dari lobi.


"Bang, bang Asep...kenapa abang baru pulang, bukanya harusnya satu jam yang lalu?" Rangga membuka sebagian kaca mobil agar Asep melihat ke arahnya.


"Oh i iya pak, saya tadi membereskan peralatan dulu, biar besok pagi tinggal menggunakannya tanpa harus menyiapkan terlebih dahulu."


Rangga tertegun, pemuda di hadapannya sungguh sangat bertanggung jawab dengan tugas yang di serahkan padanya.


"Ohh, kalau begitu ayo pulang bareng kami saja, kita satu jurusan kan?" ajak Rangga.


Rangga menelan saliva yang terasa pahit, meski mereka hidup dalam serba kesederhanaan namun rasa cinta kasih mereka sungguh indah dan hangat, Asep begitu menyayangi Anah rasa sayang yang tulus dan abadi.


Kedua pria ber jas itu memandang punggung Asep yang menghilang di balik gerbang Wijaya Corp.


"Maaf Tuan, ini tasnya."


Satpam membungkuk hormat setelah memberikan tas pada Rangga.


"Hmm, berapa kali gue minta pada mereka untuk tak memanggil dengan sebutan 'Tuan' tetap saja memanggil seperti itu, memangnya gue 'Tuan Tanah' " rutuk Rangga kesal.


David hanya tersenyum ringan, dan mulai melajukan mobil menuju mansion dengan cepat, Rangga sedikit terkesiap saat David menginjak gas hingga tubuhnya menghentak ke sandaran kursi.


"Hei lu kira-kira Vid kalau bawa mobil, kalau mau ketemu sama malaikat mau nggak usah ngajak-ngajak gue!" umpat Rangga kesal.


"Ah maaf bos" sesal David lirih lalu mengurangi kecepatam mobilnya.


Rangga hanya bisa mengusap dada, sementara David merutuki kebodohannya di balik kemudi, tanpa sadar ia hendak melajukan mobil kembali menuju Texindo untuk melihat Linda, syukurlah ia kembali sadar saat umpatan bosnya terdengar di telinga.


"Nggak turun dulu lu Vid, kita makan dulu."

__ADS_1


"Maaf pak, terima kasih, saya masih ada urusan lain" David mengangguk menjalankan mobilnya.


Tak tok tak.


Langkah Rangga berhenti di ruang makan, indra penciumannya mengendus aroma harum masakan yang di kenalnya.


"Sayang akhirnya kau pulang, ayo kita makan bersama, lihatlah, ada seorang karyawan dari Testafood, salah satu klien Wijaya Corp mengirimi kita produk mereka" Shanum berucap girang.


Rangga menelan ludah kasar, sudah tentu ia adalah bu Linda.


"Baiklah sayang aku akan membersihkan tubuhku dulu."


"Cepatlah sayang aku sudah tak sabar, aroma masakan ini sudah sangat menggoda."


Rangga menarik kedua sudut bibirnya membentuk garis lengkung, Shanum duduk dengan kedua mata menagkap lekat ke hidangan yang bagai melambai ke arahnya.


"Sayang kau makanlah dulu, aku bisa menyusul."


"Mana bisa begitu."


Sementaara di tempat lain, Linda meremas kemudi dengan kencang.


Terbayang wajah cantik nan anggun dengan ramah menyambutnya, bahkan senyum hangat saat tangannya menyambut jabatan tangan Linda.


Perasaan sesal kini menghampiri hatinya, bagaimana mungkin ia tega mempunyai niat untuk menghancurkan kebahagian wanita cantik bak bidadari itu.


Segelas jae hangat bahkan ia suguhkan untuknya, minuman kesukaan Nona muda Shanum yang sengaja ibu mertuanya buat untuk persediaan jika cuaca sedang dingin, kata pembantu di mansion menyajikan kue ke Linda.


Bahkan sang mertuanya pun sangat menyayanginya, gumam Linda.


Linda seakan kehabisan kata-kata, Shanum begitu ramah dan hangat, hidup bergelimang harta dan pemilik sebuah perusahaan besar tak membuat jiwanya pongah.


Linda sama sekali tak melihat ke angkuhan di sikap Shanum, bahkan tutur katanya yang lembut membuat hati terasa sejuk mendengarnya.


Pantas saja pak Rangga memilih untuk menjadi pelabuhan terakhirnya, batin Linda lirih.


Linda menghentikan mobil di parkiran apartemennya.


Pesan dari Lefrant tak juga ia balas, bahkan panggilan pun tak di angkat.


Linda teringat saat sang kakak memberi peringatan keras padanya agar menjauhi pimpinan Wijaya Corp tersebut, dan segera menyudahi kekacauan yang di buatnya, bahkan Lefrant murka saat mengetahui sang adik berniat untuk memiliki Rangga saat ada seorang bidadari yang sudah memiliki hatinya.


Kau benar kak, aku tak ada artinya jika di banding dengan Nona Shanum.

__ADS_1


__ADS_2