
Tok tok tok.
Rangga melangkah untuk membuka pintu kamarnya yang di ketuk.
Hardy berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.
"Apa yang terjadi dengan Shanum? Mana dia" tanya Hardy mencari keberadaan sang putri di balik tubuh Rangga.
"Ada Yah, dia sedang tidur" jawab Rangga dengan merendahkan suaranya agar tudur Shanum tak terganggu.
Hardy memasuki kamar dengan ayunan langkah yang ia buat se lembut mungkin.
Tak ingin sang putri yang tengah bersandar di sofa dengan mata terpejam terganggu, ia pun memandang Rangga dengan menaikkan alisnya, penuh tanya.
Hardy memandang tubuh Shanum, lalu melangkah kembali ke luar kamar.
Rangga mengikuti sang ayah mertua, keduanya berjalan ber iringan ke lantai bawah di ruang tengah.
Hardy duduk di ikuti Rangga.
"Ku dengar Shanum di larikan ke rumah sakit, apa yang terjadi?" Tanya Hardy cepat, karena baru mengetahui bahwa putrinya di bawa ke rumah sakit dari asisten Rangga.
"Iya Yah, Shanum merasa kram di perutnya dan kita sudah konsultasi dengan dokter dan.." kalimat Rangga menggantung.
"Dan apa Ngga, kenapa dengan Shanum?" Hardy tak dapat lagi menahan kepanikan hatinya.
Ingin rasanya Hardy bergegas pulang ke mansion setelah kabar dari asisten menantunya itu mengatakan Shanum di larikan ke rumah sakit.
Hati seorang ayah mana yang tak merasa cemas mendengar berita itu, sedangkan Shanum kini tengah mengandung bayinya.
Jika saja Hardy tak dapat menguasai kecemasannya ia tentu akan berlari untuk segera menyusul ke rumah sakit, namun ia harus tetap profesional, mana mungkin klien yang sedang meeting bersamanya di tinggalkan karena kepentingan pribadi nya.
Sekuat tenaga Hardy menahan rasa cemas yang menyelimuti hatinya.
Harun yang selalu mendampingi di ruang meeting pun merasa heran dengan sikap tuan nya itu.
Tak biasanya Hardy terlihat tak fokus dengan meeting kali ini, beberapa kali ia melihat je arah jam di pergelangan tangannya, respon pada klien pun terlihat datar dan tak berbobot, seakan isi kepala Hardy hilang separuh.
Dengan wajah yang jelas terlihat raut kecemasan, Hardy akhirnya meninggalkan ruang setelah menyelesaikan meeting secara patas.
Harun pun terpaksa mengemudikan mobil dengan kecepatan melebihi biasanya yang ia pakai setelah beberapa kali Hardy yang komplain karena laju mobilnya terasa lambat.
__ADS_1
Beberapa kali umpatan kasar keluar dari mulut pengguna jalan lain saat mobil yang di kendarai Harun melaju cepat hampir menggores body mobil milik mereka.
Hardy merasa dadanya sesak bagai palu besar menghantam tubuhnya.
Shanum sudah menahan sakit beberapa hari tanpa ada orang yang mengetahuinya.
Bahkan ia masih berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum meski menahan sakit.
Penyesalan Hardy semakin dalam saat ternyata Rangga pun sebagai seorang suami tak mengetahuinya.
Ceklek.
Kedua pria beda generasi itu sontak menoleh secara bersama ke arah pintu kamar Shanum di lantai dua.
Hardy berlari menuju Shanum, di rengkuhnya tubuh yang kini membuncit dan di peluknya erat.
Putri kecil yang amat di cintainya, buah cintanya dengan Paramitha, satu-satunya wanita yang telah mengisi hatinya.
"Maafkan ayah nak."
Pelukan pria paruh baya itu semakin erat, putri kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa, tumbuh tanpa kasih seorang ibu di sisinya, kejam dan kerasnya dunia membuat Shanum mau tak mau harus menerima keadaan, kehilangan kasih sayang seorang ibu kandung membuat hidup yang mendewasakannya di usia yang masih belia.
Shanum memandang Hardy dengan intens, pria tangguh dan selalu tegar itu kini menangis tersedu di pelukannya, mata Shanum mengerjap bingung, keadaan seperti apa yang membuat sang ayah begitu sedih? Bahkan isak tangisnya lirih terdengar olehnya.
Sementara Hardy semakin erat memeluknya, dadanya bergoncang keras, tanda ia menahan sesak di dadanya sekuat tenaga.
Perlahan Shanum menepuk ringan bahu sang ayah.
Tatapannya beralih pada Rangga yang kini berdiri membeku di belakang Hardy.
Kedua alis Shanum yang mengerut ke arah Rangga namun tak di respon olehnya, bahkan sang suami seakan menghindari tatapannya.
Kenapa dengan kedua pria terkasihnya itu, keduanya bersikap yang tak biasanya, Shanum membatin.
Suaminya pun seakan menghindar saat Shanum menatapnya mencari jawaban.
Setelah tak di rasa lagi guncangan tubuh ayahnya, Shanum pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Ayah, apa yang terjadi? Apa yang membuat ayah sedih?"
Shanum mencoba mengurai pelukan teguh sang ayah dan menatap mata yang kini tampak sembab.
__ADS_1
Sungguh tak pernah Shanum melihat wajah sang ayah se sedih ini.
"Yah, bisakah kita duduk? Kakiku terasa mulai kebas."
Sontak Hardy melepas pelukannya dan menuntun Shanum untuk duduk di sofa ruang tamu.
Dengan gugup Hardy mengusap sisa air mata dengan kemeja panjangnya.
Shanum tersenyum gemas, ayah yang biasa tenang dan tegas bahkan sikap yang dingin, kini menangis tersedu di hadapannya.
"Ayah, bolehkah aku tahu apa yang membuatmu sedih hingga air matamu jatuh membahasi pipi keriputmu itu?" kalimat yang di ucapkan dengan lembut bernada sindiran, bagai menghujam dada Hardy.
"Sha, maafkan ayah nak, ayahmu yang tak pernah memperhatikanmu, ayah yang selalu sibuk dengan dunianya hingga saat putri satu-satunya berada dalam bahaya pun ayah tak menyadarinya."
"Apa maksud Ayah?"Shanum menatap Hardy bingung.
"Kau saat ini sedang mengandung, saat di mana kau membutuhkan orang-orang terkasihmu untuk berada di sampingmu, namun kau selalu sendiri, selalu menahan sakit dan lelah karena kehamilanmu, maaf kan ayah nak, saat kau merasakan sakit pun tak kau ceritakan pada kami, dan bodohnya kami yang selalu melihat kau baik-baik saja, ternyata di balik senyum ceriamu, kau menahan sakit dan pintarnya kau menutupinya hingga tak kami sadari hal itu."
Shanum terdiam, ada rasa sesal di hatinya, bukan maksudnya untuk menyembunyikan rasa sakit yang menurutnya tak membuatnya tersiksa, bahkan ia merasa hal itu tak terlalu beresiko, namun ternyata selama ini ia salah besar, ia menahan sakit kram di perutnya yang tentunya beresiko tinggi dan fatal untuk dirinya juga janin yang ia kandung.
"Ayah, dan kau sayang..kalian tidak perlu se cemas itu padaku, tak percayakan kalian pada kekuatanku?"
Hardy dan Rangga salin memandang.
"Aku dan bayiku baik-baik saja, kalian tenanglah, dengan do'a dan kasih sayang dari kalian, kami akam selalu sehat dan kuat ."
Rangga mendekat dan merangkul tubuh Shanum dan ayah mertuanya, ketiganya kini bersatu saling memeluk erat seakan telah menyatu dengan ikatan tali kasih yang kokoh yang tak dapat di pisahkan.
Kedua mata Shanum kini pun ber kabut.
Dibalik sikap datar dan dingin ternyata mereka begitu menyayanginya, senang hatinya, bahkan getaran dada penuh kebahagiaan kini bercampur menjadi satu.
Bibi yang melihat dari pintu dapur mansion pun terlihat mengusap air mata yang mengalir secara tak sadar dan terisak penuh haru.
Begitupun Harun yang tampak mengalihkan pandangannya karena tak ingin terlihat bahwa kini ia pun ikut menangis terharu dan bahagia menjadi satu.
💦💦💦💦💦💦
Jangan lupa like, koment, dan vote ya..
Jaga kesehatan kalian 😘😘😘😘
__ADS_1
Happy new year 2023, semoga kita selalu di beri nikmat kesehatan dan di permudahkan segala urusannya aamiin 🤗🤗🤗🤗