Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Buah Cinta


__ADS_3

Linda tertegun dengan mata terpejam, aroma maskulin yang sangat di rindukannya kini jelas memasuki indra penciumannya.


"Bu Linda, ayo kita ke dalam" bisik David yang masih menopang tubuh Linda di tengah pintu masuk.


Sepersekian detik Linda terkejut dan menatap David intens.


Kenapa tiba-tiba pria itu di dekatnya, apakah ini hanya mimpi, tapi aromanya sungguh terasa jelas bahkan rasa pusing kepalanya semakin berkurang.


"Pak David, kenapa bapak ada di sini?" Linda tercekat lalu mengurai tangan David yang masih memeluknya.


Wajah nya kini merona merah.


"Kebetulan saya juga mau berobat bu, dan saya lihat bu Linda tampak sedang kesakitan, lalu saya mendekat" jawab David mencoba untuk tetap tenang.


"Terima kasih Pak." ujar Linda dengan mengangguk pelan.


"Ehmm hmm, sama-sama bu."


"Ibu dan bapak kami persilahkan masuk ruangan" ujar Suster yang mengira dua orang tersebut adalah pasutri.


"Ah baik Sus" ucap Linda lalu spontan menarik David untuk ikut bersamanya memasuki ruangan.


Mana mungkin Linda membiarkan David meninggalkannya setelah insiden pelukan hangat mereka menjadi tontonan pasien lain yang sedang mengantri.


David hanya diam mengikuti tangan Linda, "Saya minta tolong pak David untuk berpura-pura menjadi pasangan saya" bisiknya lirih.


Dan David hanya menganggukan kepalanya untuk meng iya kan.


Dokter yang kebetulan seorang wanita cantik paruh baya memandang pasangan muda tersebut sambil tersenyum ramah.


"Dengan ibu siapa bu, dan apa keluhan yang ibu alami?" tanya dokter lembut.


"Saya Linda Dok, saya merasa pusing kepala yang selalu datang setiap hari tapi hilang dengan sendirinya Dok, juga akhir-akhir ini saya sering mengantuk bahkan tak tahu tempat" terang Linda.


Dokter pun tersenyum" mari silahkan ibu tiduran di ranjang, akan saya cek tubuh bu Linda."


Linda pun menurut dengan membaringkan tubuhnya di ranjang pasien.


Senyum dokter itu mengembang saat sudah memeriksa tensi darah Linda juga jantungnya dengan stetoskop.


"Bu Linda hanya perlu istirahat, dan minum vitamin, dan menurut hasil pemeriksaan mungkin ibu dan bapak sebentar lagi akan mendapat momongan, tapi untuk lebih jelasnya silahkan Bu Linda konsultasi ke Dokter Obgyn untuk memastikannya."


Jederr.


"Anak."


"Momongan."


Ucap keduanya bersamaan.


Dokter hanya tersenyum simpul dan mengangguk, ia mengira pasangan tersebut syock karena terlalu gembira mendapat kabar bahagai ini.

__ADS_1


David dan Linda melangkah perlahan meninggalkan ruang dokter dengan wajah bingung.


David dengan seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya.


Sedangkan Linda masih belum bisa mencerna ucapan Dokter tersebut.


Mendengar kalimat yang dokter itu ucapkan David kembali teringat malam panasnya dengan Linda di hotel.


Andaikan dia hamil, apakah itu anaknya karena dialah orang pertama kali yang merusak mahkota wanita itu, bahkan ia melakukannya berulangkali sampai Linda benar-benar terbebas dari pengaruh obat laknat tersebut, pikir David.


Namun jika benar kata dokter bahwa Linda hamil, kenapa saat Peter akan melecehkannya ia urungkan karena melihat Linda memakai pengaman tambahan di bagian inti butuhnya yang berarti ia sedang berhalangan.


David terus melangkah dengan tangan di tuntun Linda.


Ting.


David tersentak dan sadar dari lamunanya.


"Bu Linda kenapa kita ke area parkir? " tanya David bingung.


Bukannya Dokter tadi menyuruhnya ke Dokter bagian Obgyn untuk mengetahui lebih jelas kecurigaan Dokter tersebut apakah benar atau salah.


"Ehm mungkin besok saja" jawab Linda cepat.


Linda sungguh kalut, jangankan untuk meneruskan cek up nya ke dokter Obgyn, melangkah ke luar ruangan dokter tadi pun kaki Linda sudah terasa lemas.


"Bu Linda, ibu pusing lagi?"


"Tapi kenapa tangan bu Linda dingin sekali?" ucap David panik.


"Di mana mobil pak David?" tanya Linda gugup, tenaganya seakan kini habis jika di gunakan untuk melangkah ke mobilnya dan harus menunggu sang sopir.


David menunjuk mobil yang tak jauh dari saat ini mereka berada.


Tanpa berkata-kata lagi, Linda pun masuk ke mobil David.


Dengan kebisuan yang menyelimuti mereka, kereta besi itupun melaju kencang membelah kota.


Dan Linda sama sekali tak prores saat David melaju ke apartemennya.


Keduanya kini sama-sama terdiam saling berhadapan di ruang apartemen Linda.


"Bu Linda, apakah ibu bisa menjelaskan apa yang Dokter tadi katakan?" tanya David.


"Entahlah aku pun bingung" jawab Linda dengan meremas rambutnya.


"Bagaimana ibu bisa mengatakan bingung, bukankah tubuh bu Linda sendiri yang merasakannya" tanya David kesal, mana ada seorang wanita yang tak menyadari bahwa dirinya tengah hamil.


"Aku pun bingung pak David karena memang bulan kemarin aku tidak datang bulan, sedangkan untuk memeriksakan ke dokter kandungan, aku takut hiks" tangis Linda pecah, dirinya sungguh merasa terpojok.


"Tidak datang bulan?" tanya David penuh tanda tanya.

__ADS_1


Linda mengangguk pasti.


"T tapi bagaimana mungkin?" David pun terpaksa menceritakan kejadian saat Peter mengantar Linda ke apartement dan bermaksud melecehkannya namun gagal setelah mengetahui bahwa Linda sedang datang bulan.


"Brengsek.." ucap Linda dengan meremat tangannya.


"A apa bu, siapa yang brengsek?" tanya David panik, tentu saja ia pun merasa ikut andil karena ia juga berada di partemen saat itu bahkan ia yang mengganti baju Linda karena terkena muntahan di bajunya.


"A anu, ehm"


"Maaf kan saya bu, saya tak bermaksud berbuat tak senonoh pada ibu, itu semua saya lakukan karena terpaksa, saya takut jika baju bu Linda tidak di ganti akan masuk angin" ucap David polos.


"Tidak saya yang seharusnya berterima kasih pada pak David yang sudah menyelamatkan saya, andai saja tak ada pak David tak tahu bagaimana nasib saya."


Linda kenal bagaimana casanova nya Peter yang dengan mudah bergonta ganti wanita.


Glek.


David tersenyum masam, "Bukan saya yang menyelamatkan ibu, tapi pembalut yang bu Linda pakai lah yang membuat pria itu mengurungkan niat jahatnya." ucap David dengan polos.


Linda tersenyum hangat, lalu menceritakan tentang kebiasannya memakai kain penutup tambahan yang di pakainya untuk melindungi dirinya jika sedang dalam terdesak atau tak sadar.


Dan ternyata memang sangat tepat dan efektif untuk melindungi dirinya.


David menatap Linda intens, cara yang anti mainstream, batinnya takjub.


"Jadi saat itu Bu Linda tidak benar-benar sedang dalam masa periode rutin?"


Linda menggeleng.


"Lalu apakah yang di perkiraan Dokter tadi benar?"


Kali ini Linda menggeleng pelan.


"Saya belum menge ceknya."


David menghela nafas bimbang.


"Lalu bagaimana jika ternyata memang Bu Linda benar-benar h a m i l?"


Linda menggeleng pelan, kali ini benar-benar bingung.


David meraih tangan Linda lembut.


"Aku akan bertanggung jawab jika memang apa yang telah kita lakukan, kini telah membuahkan hasil" ucap David sungguh-sungguh.


"T tapi aku takut hiks" isak Linda pecah.


"Apa yang kau takutkan, kita telah sama-sama dewasa, dan itu semua terjadi bukan di sengaja, namun aku akan tetap mempertanggung jawabkan perbuatanku" David mulai berucap dengan sebutan 'aku kamu'.


Tubuhnya luruh di hadapan Linda, bertumpu pada kedua lututnya David mengusap perut datar Linda dengan lembut.

__ADS_1


"Jika kau memang sudah ada di sini, ayah akan menunggu kedatanganmu dengan sabar nak, tumbuhlah dengan sehat, muuaach" kecupan ringan David membuat Linda menghangat.


__ADS_2