Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Malam Pertama


__ADS_3

Sepanjang perjalanan suasana tampak hening, berbeda dengan saat mereka berangkat tadi, di penuhi canda dan tawa, meski David tak dapat menutupi kegugupannya karena tegang.


Bukan hanya aura wajahnya saja yang menakutkan, kecepatan mengemudi Rangga pun membuat dua kembar merasa ketar-ketir, tak biasanya ia mengemudikan kendaraan dengan keceparan tinggi.


"Bos hati-hati bos" ucap Danu yang mengencangakan pegangan tangan di samping jok kiri dan kanannya.


Rangga hanya melirik sekilas, namun tak mengurangi kecepatan laju mobil.


"Bos apa sedang buru-buru? Kita bisa naik taxi saja" ujar Dika menimpali saudaranya.


Merasa sedikit tak enak hati Rangga pun mengurangi kecepatan mobilnya.


"Sorry, gue kebelet" ucap Rangga santai.


Danu hanya tersenyum masam, meski wajahnya tenang tapi Rangga tak pandai berbohong.


Raut wajahnya tak terlihat sedang menahan sesuatu.


Yang ada hanya emosi, yang jelas terlihat dari pancaran kedua matanya, dan Danu pun paham akan hal itu.


Jika dua kembar Danu dan Dika sedang ketar-ketir saat nyawanya sedang terancam karena ulah bosnya, David di kamar sedang asik memandangi Linda yang tengah tertidur wanita yang kini sudah sah menjadi istri.


Gaun pengantin kebaya yang tadi di kenakannya kini sudah berganti dengan baju tidur berbahan sutra berwarna merah muda.


Riasan di wajahnya pun sudah di hapus, hanya tampak bibirnya yang lembut dan kenyal karena pelembab yang di pakainya.


Baru kali ini David melihat wajah Linda tanpa polesan make up, terlihat segar dan lebih cantik.


Wajahnya tampak tenang dengan nafas teratur, David mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.


Cup.


Kecupan ringan mendarat di kening Linda, membuat tubuhnya menggeliat perlahan.


Linda termasuk orang yang sangat sensitif dengan gerakan, selembut apa pun gerakan yang di timbulkan, tubuhnya akan merasakannya.


Seperti saat ini, meski David begitu lembut mengecup keningnya namun ternyata dapat membangunkan tidur Linda.


"M maaf" ucap David terbata.


Linda mengerjapkan kedua matanya, senyumnya terbit, memandang David yang kini salah tingkah karena tertangkap basah telah mengecupnya.


"Apa pak Rangga dan kedua sepupumu sudah pulang" tanya Linda dengan suara serak.

__ADS_1


"Sudah, tinggal sahabat Kak Lefrant yang masih sedang berbincang dengan Kakakmu."


"Kak Daren" ucap Linda.


David tersenyum masam merutuki kebodohannya, ia baru menyadari bahwa sahabat Kakak iparnya itu adalah sang auditor yang pernah menolong nona muda Shanum saat ia pingsan di perusahaan.


"Ada hubungan apa antara Pak Daren dan Nona muda Shanum?" tanya David.


Linda menggeleng dengan menaikan kedua alisnya.


"Setahuku tak ada hubungan antara mereka, hanya kasih sepihak yang berakhir mengenaskan" ucap Linda polos.


Memang setahu dia, sahabat Kakaknya itu tak pernah menjalin hubungan dengan satu gadis pun, dan baru kemarin Kakaknya mengatakan bahwa Daren pernah mencintai seorang wanita namun ternyata ia terlambat karena wanita itu sudah memiliki suami.


Memang sebagai sesama wanita, ia pun mengagumi bu Shanum, wajahnya cantik natural, dengan kulit halus tanpa make up pun sungguh terlihat mempesona, batin Linda.


"Kenapa kau melamun" tanya David.


"Ah hm tidak, aku hanya merasa begitu rendah diri saat bersama dengan bu Shanum, ia sangat cantik, cerdas juga baik hati, sepertinya ia begitu sempurna, tak heran jika banyak pria yang begitu mengaguminya, bahkan Kakakku pun jatuh cinta pada pertama kali saat melihatnya" terang Linda jujur.


"Hah, apa! Kakakmu.." tanya David panik, jangan sampai Kakak iparnya itu bermaksud akan merebut Bu Shanum dari bos Rangga.


"Tenanglah, Kakakku tak akan berbuat yang akan merugikan kita semua, aku pun sudah memintanya untuk mengubur dalam-dalam perasannya yang salah itu" terang Linda.


David hanya bisa menghela nafas panjang, mungkin lelaki lain pun akan merasa terpesona dan jatuh cinta pada Bu Shanum, wanita dengan sejuta pesona, batin David.


"Ahkk" pekik David merasa terkejut.


"Apa kau pun sedang memikirkan Bu Shanum?"tanya Linda sinis.


"Hah, buat apa aku memikirkan wanita lain, sedangkan ada istriku yang cantik di depanku" ucap David cepat, tak ingin memperkeruh suasana, ia pun memeluk Linda dengan erat, lalu mencium bibir lembutnya.


Namun David mengurai pelukannya tiba-tiba, hingga ciuman mereka pun terlepas.


"Maaf, aku sebaiknya mandi dulu" ucap David buru-buru ke kamar mandi, tubuhnya terasa gerah dan lengket, ia tak ingin malam pertamanya terganggu karena tubuhnya yang bau, meski ini bukan malam pertama bagi mereka.


Linda tersenyum, tingkah David terlihat lucu baginya, meski mereka sudah pernah melakukan kegiatan panas namun ia masih terlihat begitu gugup.


Setelah tak lebih dari tiga puluh menit akhirnya David muncul dari kamar mandi dengan bathrobe berwarna merah muda milik Linda.


Linda terawa terbahak-bahak saat Savid keluar dari kamar mandi dengan bathrobe miliknya.


"Maaf, aku pakai milikmu karena bajuku basah" ucap David polos.

__ADS_1


"Tidak, aku yang harusnya minta maaf, tak menyediakan keperluanmu sebelumnya" sesal Linda.


David kini hanya bisa diam berdiri mematung, ia sama sekali tak membawa bajunya ke kamar, tas nya ia taruh di ruang tamu dan David belum sempat membawanya ke kamar Linda.


"Tunggulah akan ku suruh pelayan mengambil tas mu."


David mengangguk pelan, lalu duduk di sofa sudut di kamar Linda.


Linda ke luar kamar untuk mengambil minuman, ia menyadari suaminya saat ini masih gugup, apalagi ini baru pertama kali mereka akan tidur satu kamar dalam keadaan sadar sepenuhnya.


Tok tok tok.


"M masuk" ucap David tergagap dari dalam kamar.


"Maaf Tuan, ini tas dan koper Tuan" pelayan menyodorkan tas baju milik David.


"Terima kasih pak" tangan David pun segera mengambil tas dan mencari baju tidur untuk di pakainya.


Ceklek.


Linda memasuki kamar dengan dua gelas jus jeruk di tangannya.


"Minumlah" ujar Linda menyerahkan satu gelas ke David.


Glek glek.


David menaruh gelasnya di atas meja lalu berjalan ke ranjang besar dan berbaring dengan santainya tanpa menghiraukan Linda.


"Ayo kita tidur, sungguh penat rasa tubuhku" ucap David sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


Linda tertegun di tempatnya berdiri.


Pernikahan macam apa yang sedang di jalaninya, pikirnya.


Malam pertama yang selalu di nanti-nanti oleh para pasangan, ternyata tak ada bedanya dengan malam seperti biasanya bagi Linda.


Tak ada kemesraan, apalagi ******* hangat saling bersahutan saat berdua menikmati surga dunia.


Glek.


Linda menelan salivanya, lalu ia pun ikut tidur di samping suaminya.


Mungkin memang tubuhnya sangat lelah hingga hanya dalam waktu tak lebih dari lima menit, David sudah terbang ke alam mimpinya.

__ADS_1


Nafasnya yang teratur terlihat jelas dari gerakan punggungnya yang tidur membelakangi Linda.


Tak ingin hati kecilnya merasa lebih kecewa, Linda pun mulai memejamkan matanya dan berusaha untuk melupakan apa yang ada di angannya tentang indahnya malam pertama.


__ADS_2