Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Rumah kita


__ADS_3

Dengan tubuh yang segar dan wajah lebih ceria, Shanum menuju Ruang tengah mansion di mana Rangga tengah duduk menunggunya.


Dress rumahan sebatas lutut berlengan pendek berwarna mocca tampak serasi di pandang, tubuh Shanum yang berukuran proporsional selalu terlihat cocok memakai baju bermodel apapun, apalagi kulitnya yang putih sedang, membuat terkesan sexy dan tak membosankan.


Rangga menatapnya lekat, wajah cantik alami yang kini lebih segar dan hanya pewarna orange ringan yang teraplikasi di bibir mungilnya.


"Ehmm hmm" berkali-kali Rangga berusaha menelan salivanya, entah kenapa tatapan matannya tak bisa teralihkan dari bibir yang bagai magnet yang terus menariknya untuk merasakan hangat dan manisnya bibir lembut itu.


"Kenapa sayang?"tanya Shanum kini bertanya dengan embel-embel panggilan seperti yang Rangga pinta.


Sontak mata Rangga berbinar dengan senyum bahagia merekah.


"Kita makan di luar yuk?" ajak Rangga karena memang sejak pulang dari kantor, perutnya belum terisi, hanya minuman dan kue yang di sediakan oleh pelayan mansion.


"Tapi aku sudah makan" tolak Shanum dengan rona wajah sedikit menyesal.


Rangga terdiam, raut wajahnya pun berubah mendung.


Shanum yang menyadari perubahan Rangga kini mulai ikut resah, sungguh kejam rasanya jika dirinya membiarkan lelakinya kelaparan sedangkan ia sudah kenyang karena telah menghabiskan sepiring seafood bersama Joy.


"Ehm, mumpung belum terlalu malam, ayo sekalian kita kencan" tutur Shanum membuat Rangga kembali menerbitkan senyumnya.


"Ayo kita nikmati malam terakhir kita untuk berpacaran"ujar Rangga semangat, karena besok malam adalah malam mereka akan melakukan janji setia untuk bersama sehidup semati dalam ikatan pernikahan.


"Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dulu"Shanum hendak melangkah kembali ke kamarnya, namun dengan cepat Rangga meraih tanggannya dan menahan langkah Shanum.


"Tidak usah kau sudah cantik memakai baju itu" ujar Rangga.


" Tapi ini dress rumahan Sayang, apa kamu mau nanti di jalan ada orang bilang, kita pasangan yang kurang serasi, yang lelaki tampan tapi sang wanita malah kayak pembantu"Shanum berucap dengan mencebikan bibirnya.


"Kata siapa kau mirip pembantu, kau cantik meski hanya berbalut dress rumahan, malah aku yang nanti ke banting kalau kau pakai gaun indah sedangkan aku masih memakai baju yang ku pakai dari kantor" jawab Rangga.


"Iihh tapi setidaknya aku pakai baju yang serasi dengan baju kantormu itu dong ah"


Shanum merasa kesal karena Rangga tetap pada pendiriannya untuk tidak membiarkan Shanum berganti baju, bukannya ingin mengatur apa yang harus Shanum kenakan, Rangga hanya tak ingin membagi kecantikan calon istrinya itu bersama lelaki lain, jika dress sederhana saja sudah membuatnya begitu mempesona apa kabar nanti, jika ia berganti gaun yang lebih indah, tentu pesonanya akan mengobrak abrik semua lelaki yang menatapnya.


"Tidak, tidak boleh, kau hanya miliku Sha, tak ada yang boleh memandang keindahanmu selain aku"batin Rangga geram.

__ADS_1


Membayangkan saja sudah membuat ubun-ubun kepalanya terasa panas.


" Ayolah sayang semakin lama kita berdebat semakin kita membuang waktu percuma"Rangga memberi alasan logis.


Shanum diam dan berfikir sejenak.


"Ehmm baiklah, ayo kita berangkat sekarang"


"Iyess" Rangga girang bukan main, hatinya bersorak riang.


"Kamu kenapa ?"Shanum memandang Rangga dengan curiga.


"Nggak apa-apa ayo kita berangkat"Rangga meraih tangan Shanum.


"Eh tunggu, masa kita naik motor?"tanya Shanum terkejut.


Rangga menatapnya tak mengerti.


Shanum diam lalu memindai tubuhnya sendiri.


Glek


"Ayo bawa mobilku"ujar shanum sambil menggandeng tangan Rangga lalu melangkah menuju garasi mansion.


Meski memiliki harta melimpah namun Hardy selalu menerapkan kesederhanaan, iapun hanya memiliki dua mobil satu yang biasa di pakai Hardy dan satunya lagi untuk Shanum, itupun hanya di pakai saat ke kantor, selebihnya Shanum menggunakan motorsportnya karena ia lebih merasa nyaman dan lebih memangjas waktu, jika mengendarai kendaraan roda duanya itu.


Rangga perlahan menjalankan mobil, meski ia tak memiliki kereta besi namun Rangga sudah mahir mengendarainya, Hardy sering memintanya menyupir jika ia mengajaknya bertemu di luar daerah untuk urusan bisnis dan mengajak Rangga.


Agar Rangga lebih mudah ia mintai bantuan, Hardy pun membuatkan sim kendaraan roda empat untuk Ranga.


Karena sudah cukup malam, akhirnya Rangga memilih restoran sederhana yang terletak tak jauh dari mansion.


Meski esok adalah hari pernikahan tapi Shanum tak akan ijin libur karena meeting tahunan para investor akan di adakan dua hari lagi.


Dan esok malam acara akad akan di laksanakan setelah isya.


Karena sudah kenyang, Shanum hanya menemani rangga makan, dan seperti lelaki biasanya tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan satu porsi makan malamnya.

__ADS_1


Rangga pun kembali melajukan mobilnya, kali ini menuju ke suatu tempat yang sudah sejak lama ia rencanakan.


"Kemana kita,Ngga?"tanya Shanum melihat sekeliling jalan yang tampak asing baginya.


"Hmm rupanya calon istriku ini mau di cium yah, sudah ku bilang kau harus memanggilku s a y a n g"ujar Rangga tanpa menawab pertanyaan Shanum.


"Ehmm kita kemana sayang"


Rangga tersenyum puas, senang rasanya melihat Shanum kesal, karena seperti biasa jika merasa hatinya kesal Shanum akan memainkan bibirnya hingga terlihat begitu menggemaskan.


"Kita akan ke suatu tempat sayang"jawab Rangga.


"Sabarlah bentar lagi kita akan sampai ke tujuan"sambungnya lagi.


Benar saja, tak membutuhkan waktu lama akhirnya Rangga memperlambat laju mobilnya di sekitar perumahan yang terletak di pinggiran kota.


Memasuki gerbang perumahan Shanum melihat jika saat ini ia memasuki daerah perumahan, meski bukan perumahan elit tapi suasana masih terlihat sejuk, meski saat ini hanya cahaya rembulan dan beberapa titik bintang namun terlihat pohon berderet rapih di sepanjang jalan, tipe rumahnya pun tidak terlalu besar namun tertata indah dan artistik.


Rumah sederhana namun tampak elegan karena desain yang simple dan berbeda dari desain yang biasanya di gunakan oleh para developer untuk membangun rumahnya.


"Kita mau kemana sayang"Mimik wajah Shanum penuh tanda tanya besar.


Rangga hanya tersenyum manis, lalu menghentikam mobilnya perlahan di sebuah rumah kosong yang terletak diujung jalan perumahan itu.


"Ayo turun"ajaknya.


Shanum pun mengikuti langkah Rangga yang memasuki Rumah yang masih terlihat sepi.


"Sayang ini rumah siapa" bisik Shanum takut suaranya terdengar penghuni rumah.


"Tunggu sebentar"Rangga melangkah berbalik menuju ke mobil dan mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam tas kerjanya.


Shanum masih terdiam melihat apa yang tengah Rangga cari dari dalam tasnya.


Rangga mendekat ke arah Shanum setelah menemukan apa yang di carinya.


"Ini rumah kita"Rangga menyodorkan sebuah kunci pada Shanum.

__ADS_1


__ADS_2