Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Terlambat pulang


__ADS_3

Menikmati makanan di restoran mewah namun rasa makanan kalah jauh dengan produk yang di hasilkan oleh perusahaannya sendiri, membuat Linda menarik sudut bibirnya.


"Bagaimana pak, makanan di restoran ini" tanya Linda penuh selidik.


"Ehm cukup enak" jawab Rangga biasa, tak tahu apa yang ada dalam benak Linda.


"Kalau dengan produk kami lebih unggul mana menurut bapak?"


Rangga menatap wanita itu lekat sambil mulai mencari rasa di setiap kunyahan giginya.


"Hmm, kalau menurut saya, produk dari Testafood lebih unggul."


Linda tersenyum puas.


Tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan hidangan makan malam kali ini, karena memang Rangga tak ingin terlalu lama membuat sang istri menunggunya pulang, dan kini pun entah kenapa kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing.


"Maaf bu Linda, sebaiknya kita pulang sekarang, malam sudah mulai larut" ucap Rangga sambil memijit pelipisnya.


"Ahh baik pak, ayo"


Keduanya pun keluar dari restoran setelah Linda membayar lebih dulu.


Beberapa kali Rangga mendesis saat denyutan kepalanya mulai semakin terasa.


"Pak Rangga kenapa?" tanya Linda yang melihat beberapa kali Rangga memijit pelipisnya.


"Ah t tidak apa-apa bu hanya sedikit pusing kepala saya."


"Apa sebaiknya kita ke dokter saja pak, kita bisa mampir ke rumah sakit yang berada di sekitar sini."


"Tidak usah bu, kita langsung pulang saja, mungkin jika istirahat sebentar pusing ini akan berkurang."


Namun ternyata pusing kepala Rangga semakin menjadi, bahkan kini penglihatannya pun terasa berputar.


"Akkh" Rangga terduduk di kemudinya dengan kepalanya bersandar di kursi.


"Biar saya saja yang nyetir pak, bahaya jika bapak tetap menyetir."


"Baiklah bu, maaf kalau sudah merepotkan."


Keduanya kini saling bertukar tempak duduk.


"Bapak tidur saja biar saya akan antar bapak."


Rangga yang kini memejamkan matanya pun sudah tak mendengar kalimat Linda.


Seringai lebar terbit dari bibir Linda dan mobil pun ia lajukan menuju apartemen miliknya.


"John, cepat ke parkiran apartemen ku, aku butuh bantuan" pesan yang Linda kirim ke anak buah kepercayaannya.


Sesampainya di parkiran apartemen bersamaan dengan John yang rupanya sudah lebih dulu tiba di sana.


"Ada apa bos."


"Bawa dia ke kamarku"


John mengintip ke kaca mobil, di lihatnya seorang pria duduk bersandar dengan kedua mata terpejam.


"Mati bos?"

__ADS_1


"Huss, ngaco kamu?"


John tersenyum lalu meraih tubuh Rangga agar memudahkannya untuk menggedongnya di atas tubuhnya.


Pandanga dari beberapa orang di lobi tak di hiraukan John.


Tiing.


Pintu lift terbuka, dengan tertatih John memapah tubuh kekar Rangga lalu membaringkan di atas sofa panjang di apartemen Linda.


"Huff" John merebahkan tubuh Rangga dengan sedikit keras.


"John pelan-pelan, sialan kau, awas kalau dia sampai terluka, ku cincang tubuhmu."


Cih sayang sekali kau padanya bos, geram John dalam hati, lalu ia duduk di samping tubuh Rangga.


"Bos tampan sekali dia" ucapnya dengan senyum sinis.


Pantas saja bosnya yang sexy itu tergila-gila pada lelaki ini, batin John.


"Baiklah kau teruskan saja urusanmu yang lain John, terima kasih atas bantuanmu."


"E ahh baik bos" ucapnya ragu, setekah tenaganya terkuras karena menggotong tubuh kekar Rangga, ingin sebenarnya John meminta segelas air dingin untuk melepas dahaganya.


Dengan hati gondok John melangkah meninggalkan apartement.


Linda tersenyum bahagia, iapun duduk di sisi sofa dengan mata tak lepas menatap wajah tampan Rangga.


Jeraminya lembut menelusuri permukaan wajah lelaki yang nasih terpejam itu.


Baru minum setengah sudah membuatmu tak sadar pak, Linda bermonolog lirih di depan Rangga yang masih terpejam.


Nafas Rangga yang teratur membuat gerakan irama dada bidangnya tampak jelas, satu persatu Linda melepas kancing baju lelaki yang masih terpejam di hadapannya.


Dada bidang dengan perut sixpack kini terpampang nyata di depan Linda.


Glek.


Linda menelan saliva yang bagai keluar dari sudut bibirnya.


Tangan lentiknya mengusap permukaan perut yang rata tanpa lemak itu, membayangkan berada dalam dekapannya sungguh terasa damai hidup ini, batin wanita sexy yang kini semakin merapatkan tubuhnya hingga mengikis jarak dengan tubuh Rangga.


Cup.


Di kecupnya lembut dada bidang Rangga.


Sementara itu Shanum yang kini sudah berapa puluh kali melihat jam di dinding tampak panik, hatinya resah dan gelisah, sang suami belum pulang tak ada kabar berita.


Ponselnya non aktif sedangkan David sang asisten pun ia hubungi tak membalas.


Drrtt drrtt.


"Ya halo Vid." Shanum girang karena David kini menghubunginya.


"Maaf bu, baru buka ponsel karena ketinggalan tadi di tas dan saya di bengkel."


"Ohh apa kalian sudah makan?"


"Hah, kalian? oh maaf bu saya tidak bersama bapak Rangga tadi saya habis meeting dengan klien mewakili pak Rangga."

__ADS_1


"Lalu sekarang bapak di mana ya Vid, jam segini belum pulang, ponselnya pun tidak aktif" Shanum tak dapat menyembunyikan kecemasannya.


"Tenang bu, nanti akan saya cari pak Rangga."


"Tolong hubungi saya secepatnya kalau sudah bertemu suami saya ya Vid, terimakasih."


"Baik bu sama-sama."


David tertegun, tak pernah bosnya bertingkah aneh seperti ini, hilang tanpa kabar.


Pihak kantor pun ternyata memberi kabar bahwa Rangga sudah pulang beberapa jam yang lalu.


"Ahh"


Mata David berbinar saat ia ingat bahwa pihak personalia pasti tahu di mana atasannya sekarang berada.


Rahangnya mengembung kera, tangannya pun mengepal kencang.


Apa yang sedang kau rencanakan bu Linda, batinnya geram.


Menurut informasi dari pihak personalia, atasannya pergi bersama pemimpin dari perusahaan Testafood dan mereka pulang lebih dari dua jam yang lalu.


Beruntunglah mobil sudah usai di perbaiki, David pun meluncurkan mobil ke alamat mansion di mana Lefrant tinggal yang tentunya pasti bersama Linda, pikir David.


Namun di tengah perjalanan David masih belum mempunyai alasan untuk memasuki mansion.


Di depan gerbang David menghentikan mobilnya.


"Permisi pak, apa bu Linda sudah pulang,saya dari Wijaya Corp, membawa berkas untuk di berikan pada bu Linda" David berusaha bersikap tenang agar penjaga gerbang tak curiga dengan alasan yang ia katakan.


"Bu Linda belum pulang, dan sudah beberapa hari beliau tidak tinggal di mansion, mungkin di apartemennya?"


"Ehm kalau boleh tahu di mana alamat apartemen beliau pak, karena berkas ini harus sampai di tangannya malam ini juga" David memperlihatkan rona wajah dengan mimik serius.


"Apartemen xx lantai 13 no 22..."


David mengangguk pasti.


"Terima kasih pak."


Sementara itu di apartemen, Rangga mulai menggeliatkan tubuhnya, dengan cepat Linda pergi menjauh tanpa suara.


"Aaaahhhhh" Rangga memijit pelipisnya, kepalanya begitu berat.


Linda tampak gugup dan cepat meraih ponselnya.


"Lu cepat ke sini sekarang juga" bisiknya pada orang di ujung telfon.


John yang baru saja menikmati segelas orange juice meremas ponsel di tangannya setelah sang bos memanggil.


Di usir pergi dari apartemen dalam kehausan dan kini belum habis minuman di gelasnya sang bos sudah kembali menghubunginya.


Dasar bos sialan, kalau nggak ingat dosa udah gue makan dari dulu, batinnya Geram lalu meraih kunci mobilnya.


Letak apartemen yang hanya berjarak lima belas menit perjalanan.


Teet


Ceklek.

__ADS_1


"Cepat masuk" bisik Linda pada pria bertubuh tinggi besar tersebut.


__ADS_2