Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Tujuh Bulanan


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul satu malam, mata Linda sama sekali tak bisa terpejam.


Rasa sesal kini menggelayuti dadanya.


Pagi pun terbit, cahaya mentari menerobos kain horden jendela apartemen Linda.


Tubuhnya menggeliat di balik selimut, kepalanya terasa sedikit berat, mungkin karena waktu tidurnya yang sedikit, pikirnya.


Setelah mandi dan memakai baju kerja Linda bergegas berangkat ke kantor.


Polesan bedak dan lipstik merah terang membantu wajah pucatnya terlihat segar kembali.


Langkahnya panjang dan penuh semangat memasuki gedung Testafood, anggukan para karyawan di sambut senyum manisnya.


"Pagi bu Linda."


"Pagi pak, apa kakakku sudah berangkat?" sapa Linda pada satpam gerbang front office.


"Ah sudah bu, baru beberapa menit yang lalu" jawabnya ramah.


"Hm tumben kau berangkat pagi-pagi" sapa Lefrant dingin menatap sang adik yang muncul dari pintu masuk.


"Ah hari ini aku ingin melihat apakah proses ekspor kita berjalan dengan baik."


"Hmm lihatlah" Lefrant menyodorkan laptop pada sang adik.


Linda memperhatikan dengan seksama, senyumnya terbit, seperti dugaannya, makanan produk Testafood memang pantas untuk bersaing di pasar internasional.


Respon yang sangat luar biasa mereka dapatkan saat peluncuran pertama produk Testafood keluar di pasaran.


"Mungkin kita harus memperluas wilayah tujuan kita kak, kalau hanya dua negara, keuntungan yang kita dapat tidak akan terlalu memuaskan, kita harus mulai memperkenalkan produk kita pada negara lain."


Lefrant memandang layar monitor dengan seksama, memang keuntungan tidak terlalu signifikan jika mereka hanya mengekspor tujuan dua negara.


"Hm kita harus memikirkan lebih matang, juga bahan baku pun harus kita cari lebih banyak."


Linda mengangguk senang.


"Aku akan mencari lagi daerah sumber hasil laut yang melimpah agar kita bisa segera meng ordernya."


"Baiklah, kau tugaskan beberapa orang untuk mengurusi hal itu."


******************


"Vid lu pesen berapa porsi?" tanya Rangga saat satpam mengantarkan tiga bungkus makanan ke ruangannya.


David mengedikan dagunya ke arah Asep yang masih memegang kemoceng dan kain lap yang masih bertengger manis di pundaknya.


Rangga tersenyum haru, rupanya asistennya pun memiliki belas asih pada Asep, pemuda pekerja keras yang jujur.


"Bang, bang Asep, ayo makan, sudah waktu istirahat bang, berhenti dulu" ujar David.


Asep tergopoh membenahi peralatannya.


"Bang Asep mau kemana?" tanya David kaget karena Asep hendak bergegas keluar ruangan.

__ADS_1


"Ehm saya mau ke kantin pak."


"Tidak usah bang, ini saya tadi sudah pesan tiga porsi, buat kita makan bareng" ujar David lagi.


"Ah t terima kasih pak, tapi biar saya makan di kantin saja pak, nggak enak saya sama karyawan lain kalau makan satu ruang dengan pak Rangga dan pak David."


"Halah ngapain mikir mereka, udah kita makan sekarang bang, hari ini kita di traktir pak Rangga, hari ini beliau sedang ulang tahun bang."


Rangga menatap David yang mengedip ke arahnya.


"I iya bang, hari ini saya ulang tahun, ayo kita makan."


Rangga pun akhirnya mengikuti sandiwara yang David ciptakan.


David tersenyum senang, Asep tak akan mau menerima hadiah dengan cuma-cuma, ia berprinsip, hanya akan menikmati hasil keringatnya sendiri.


Ketiganya pun menikmati makan siang dengan lahap.


Asep yang baru pertama makan lezat tampak begitu menikmati hidangannya.


Hari ini ia tak terlalu memikirkan Anah, karena mereka pasti sedang masak untuk persiapan acara selamatan tujuh bulanan kehamilannya, jadi jika ia makan enak di kantor, Anah pun bisa makan daging ayam di rumah, pikirnya.


Asep membersihkan tempat makannya ia harus menyelesaikan tugasnya agar pulang tak terlalu lambat agar ia bisa segera mengundang para tetangga untuk mengikuti acara selamatan di rumahnya.


"Bang, istirahat dulu bang, duduklah sebentar, toh masih ada sisa banyak waktu istirahatnya" ujar Rangga.


"Ah he hee maaf pak, saya ingin pekerjaan saya cepat selesai agar saya bisa pulang lebih awal."


"Kenapa memangnya mau pulang lebih awal bang?" David menimpali.


"Hari ini kami mau mengadakan acara selamatan tujuh bulanan istri saya pak."


"Kalau begitu bang Asep sekarang pun boleh pulang bang, agar bisa membantu istri abang mempersiapkan acara nanti."


"Ah tidak perlu pak, di rumah sudah banyak tetangga yang membantu Anah" jawab Asep sopan.


"Tidak boleh begitu bang, ini kan acara abang dan ini adalah anak pertama bang Asep jadi abang harus mempersiapkan se istimewa mungkin, saya yakin istri abang pun mengharap abang ikut membantunya" tutur Rangga lagi.


Asep tampak ragu.


"Sudah lah bang, pulanglah, toh tugas abang sudah selesai, nanti kalau pak Rangga butuh sesuatu, saya yang akan menyiapkannya" David berucap tegas, memastikan Asep untuk pulang segera.


Asep pun mengangguk haru lalu menyalami kedua pria baik hati tersebut.


"Terima kasih pak, kalau begitu saya pamit dulu."


"Bang Asep, kira-kira ada berapa yang akan ikut acara selamatan nanti malam bang?" tanya Rangga tiba-tiba.


"Ah hanya sedikit pak para tetangga sekitar rumah saja, mungkin sekitar lima puluh orang pak" jawab Asep.


Rangga menghela nafas panjang, sepeninggal Asep ruangan menjadi hening.


"Vid lu tolong pesenin nasi box di rumah makan di ujung jalan lalu kau kirim ke alamat ini" Rangga menulis alamat lalu menyerahkan ke asistennya.


"Dan tolong minta mereka untuk mengantarkan sebelum maghrib" sambungnya lagi.

__ADS_1


David tertegun,ia memandang secarik kertas berisi alamat tempat Office Boy itu tinggal.


Sore pun tiba Rangga bergegas membereskan berkas dan file di mejanya.


"Kita pulang sekarang Vid."


"Siap bos."


Satu jam perjalanan mobilpun sampai di mansion.


Senyum Rangga terbit, Shanum menyambutnya di depan pintu mansion.


David mengangguk ke arah istri atasannya itu lalu melajukan mobilnya perlahan.


"Vid, vid" panggil Rangga keras.


David menghentukan mobil dan melongokan kepalanya keluar kaca pintu mobil.


"Lu udah pastiin pesenan sampai?"


David mengacungkan jempol.


"Semua ok."


"Siip" ujar Rangga.


"Pesanan apa sayang?" tanya Shanum sambil melangkah ke mansion mengikuti Rangga.


"Ehm hari ini istri Asep mau mengadakan acara selamatan tujuh bulanan, dan aku suruh David memesan nasi box di rumah makan untuk di kirimkan ke rumah Asep" jawab Rangga.


"Ohh, lalu apakah kita tidak ke akan ikut hadir?" tanya Shanum lagi.


"Ehm ku kira tidak perlu, Asep pun tidak mengundangku."


Bukan tak ingin datang, Rangga hanya tak ingin melihat Asep sungkan padanya.


"Ehm mau kondangan kemana Non?" tanya bibi yang menangkap pembicaraan Nona mudanya.


"Oh itu bi, bang Asep mau ngadain acara tujuh bulanan malam ini."


Bibi membulatkan matanya.


"Wah nujuh bulan, pasti ada rujaknya" ujar bibi antusias.


"Rujak? Rujak apa bi?" tanya Shanum.


"Itu non, kalau acara nujuh bulanan pasti ada satu makanan khas yang terbuat dari buah-buahan segar yang di parud lalu di campur dengan bumbu cabe dan gula merah rasanya pedas, manis dan asam, ah membayangakan saja sudah membuat air liur bibi serasa mau tumpah" bibi tertawa sambil menutup mulutnya.


"Rujak buah" Shanum berucap lirih.


Dalam bayangannya ia mengingat tukang petis yang suka di pinggir jalan, seperti itukah rujak buah, pikirnya.


Glek.


Shanum menelan air liur yang tiba-tiba serasa penuh di mulutnya.

__ADS_1


"Sayang ayo kita ke rumah bang Asep."


"Hah"


__ADS_2