Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Ponsel Jadul


__ADS_3

David tak ingin berfikir lebih lanjut dengan kalimat Asep.


Hamil? Mana mungkin, sedangkan saat ia menemuinya di apartemen dengan Peter, lelaki itu tak dapat menuntaskan hasratnya karena Linda sedang berhalangan.


Jadi rasanya tak mungkin kalau yang di katakan Asep bahwa Linda hamil.


"Pak, pak David mau di buatin minum?."


"Ah tidak bang, biar saya saja yang bikin sendiri" David tergagap karena kaget.


"Ooh, baik pak" Asep menyapu ruangan pantry dengan wajah tersenyum senang.


"Bang Asep kenapa senyam-senyum begitu?" David menelisik Asep yang kini berubah menjadi ceria setelah membuka ponsel jadul miliknya.


"He hee, ini ada pesan dari tetangga saya pak."


"Hah, bang Asep bahagia banget dapat pesan dari tetangganya, wah jangan-jangan bang Asep ada main nih" tanya David penuh selidik.


Asep tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak pak, tadi Anah nitip pesan pada tetangga saya yang punya hp, kata emak tukang urut janinnya cowok, soalnya gerakannya kuat."


Asep bertutur penuh antusias.


"Kenapa lewat tetangga, abang pesannya?" tanya David bingung.


"Karena kami hanya punya satu ponsel pak, dan saya suruh Anah kalau ada perlu penting, lewat hp tetangga saya saja, dan kebetulan tetangga juga sudah memberi ijin pak."


Andra menatap ponsel jadul satu-satunya yang di miliki Asep, ponsel yang hanya bisa untuk mengirim pesan atau pun sebuah panggilan, tanpa emot bermacam-macam stiker apalagi panggilan vidio.


"Bang Asep beli ponsel ini kapan bang?" tanya David yang masih excited, di jaman sudah canggih ternyata masih ada ponsel jadul yang masih bisa di gunakan.


"Ini beli saat kami baru nikah pak, dari hasil uang amplop dan hasil saya ngumpulin."


"M memang berapa harga ponsel ini waktu abang beli?"


"He hee murah pak, kalau tidak salah delapan ratus ribu, itu sudah sangat banyak bagi kami."


Asep menghela nafas panjang lalu menceritakan kisahnya, uang yang sejatinya di kumpulkan untuk tabungan, terpaksa mereka belikan hp sederhana, Anah yang tengah hamil muda sering sakit-sakitan, jadi Asep merasa tak tenang jika meninggalkannya saat pergi berdagang, atas kesepakatan bersama, mereka akhirnya membeli ponsel jadul untuk mereka mengirim pesan jika sedang darurat.


Andra memasuki ruang kerja dengan segelas orange juice, di bukanya laci meja kerjanya di mana tergeletak sebuah ponsel yang sudah tak pernah ia pakai karena menurutnya sudah ketinggalan jaman.


Senyum David mengembang saat ia berhasil menyalakan ponsel penghuni laci meja kerjanya.


Masih bisa berfungsi dengan baik, hanya perlu memasukan kartunya, gumamnya.


Bergegas langkah panjang David menuju pantry.


"Eh pak David, mau nambah lagi jus nya pak?"


"Tidak bang, ini saya ada ponsel jadul tidak terpakai, buat bang Asep saja."

__ADS_1


Asep memandang ponsel berlogo apel bekas di gigit dengan intens.


Ponsel jadul dari mana, batinnya miris.


"Ah tidak usah pak, saya pakai hp ini saja sudah cukup, hp itu terlalu bagus buat saya."


"Ini hp tidak terpakai bang...sudah lama ada di laci meja kerja saya, masih bagus kok, lumayan buat bang Asep atau istri abang pakai biar tidak usah harus lewat hp tetangga abang."


Asep menerima dengan tangan gemetar.


"Beneran ini hp tidak di pakai pak?"


"Ish beneran bang, aku sudah beli yang baru, ini tadinya mau ku buang, eh ternyata masih bisa nyala, dan ini carger nya sekalian bang, tinggal abang masukin kartu abang ke sini, atau abang beli kartu baru lagi, jadi abang dan istri bisa pegang hp masing-masing."


Asep terharu dengan membungkukan badannya berkali-kali sambil mengucap terima kasih tak henti.


Drrtt drrtt.


"Bang saya ke lapangan dulu, bos memanggil,nanti saya ajarin abang gunainnya, sekarang abang isi dulu daya baterai nya "


"Baik pak, sekali lagi terima kasih."


Andra menepuk pundak Asep sambil berlalu.


Pandangan David memindai ruang produksi di mana Rangga berada.


"Pad David cari siapa pak?" tanya salah satu karyawan yang melihat David kebingungan.


"Oh pak Rangga baru pergi beberapa menit yang lalu pak."


David pun keluar dari ruang produksi dan beralih ke ruangan lain mencari atasannya.


Beberapa karyawan wanita tampak memandang dengan kagum wajah tampan David bahkan di antara mereka sempat berbisik.


"Aku betah kerja di sini, CEO dan wakilnya ganteng-ganteng semua."


"Sst, kalau pak Rangga mah sudah beristri, lu mah nggak ada apa-apa nya di banding istrinya" jawab salah satu karyawan senior.


"Hhm memang secantik apa dia, gue jadi penasaran, apa ada yang melebihi gue."


Dua karyawan senior berdecak kesal.


"Wajah model remahan gorengan aja bangga" bisik karyawan senior sambil melangkah pergi.


"Kalau gue pilih pak David aja yang sudah tentu single, masih ada harapan" bisik karyawan lain.


Brakk.


"Hei kalian itu kerja yang benar, nggak usah sok-sok an ngincer atasan elu, ngaca sono biar lu tahu muka pas-pas an aja ke PeDe an naksir atasan, cih dasar kucing gatel."


Umpat salah satu kepala Regu yang kebetulan lewat.

__ADS_1


Suasana mendadak hening, tak ada lagi ocehan para karyawan usil.


Asep yang kebetulan lewat line produksi karena menggantikan salah satu OB yang ijin hari ini, pun tak luput dari sasaran ghibahan mereka.


"Eh psst psst, lihat tuh OB baru, lumayan juga" bisik si karyawan berbadan semok percaya diri.


"Dih elu seleranya rendah amat" rutuk karyawan sebelahnya.


"Ye gue mah ngaca, gue kalau mau nyari jodoh lihat bibit bebet dan bobot, gue dari kasta sudra, ya mana mungkin lah dapet dari kasta brahmana" jawabnya santai.


"Bang, bang Asep tunggu" teriakan si body semok membuat Asep menolehkan wajahnya.


"Ada apa mbak?"


"Ehm bang Asep pinjam ponselnya bang sebentar, punya saya lowbat, mau kirim pesan buat orang rumah"


Asep pun menyodorkan ponsel pemberian David.


"Ini mbak."


Si body semok tersenyum smirk, betapa lugunya di Office Boy tersebut, batinnya.


Tak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk memencet tombol nomer miliknya.


"Ini bang terima kasih" ucapnya lalu kembali bergabung ke line nya.


Asep menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menyimpan kembali ponsel ke kantung celananya.


David memasuki ruangan dengan wajah kesal, tenaganya terbuang percuma untuk mencari atasannya yang ternyata sudah berada di ruang kerjanya.


"Huff, pak tadi nyari saya, ada apa pak?"


"Ehm tidak ada apa-apa Vid, gue cuma mau pamit pulang lebih awal, takut lu nyari, gue mau anter Shanum potong rambut" jawab Rangga santai.


Glekk.


Ingin David mencekik atasannya saat ini juga, setelah membuatnya panik dan kelimpungan di ruang produksi, ternyata hanya ingin menyampaikan pamit lebih awal.


Kalau pecat atasan tidak durhaka, ingin rasanya ia memecat bosnya itu.


Drrt drrt.


Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruang pantry, terdengar nada getaran ponsel di saku celananya.


Panggilan dari nomor yang sama sekali tak Asep ketahui.


"Iya halo" nada ucapan Asep lembut.


"Halo bang Asep, save nomorku ya, Tria, yang tadi pinjam ponsel abang."


"Halo, halo mbak" Asep menatap layar ponselnya bingung karena sudah di matikan dari sebrang.

__ADS_1


Dari mana cewek tadi dapat nomor ponselnya, pikir Asep.


__ADS_2