
Pesan author untuk kalian para readers, jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak di kolom komentar, atau pun like dan vote.
Jaga kesehatan kalian, happy readingππ
π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Shanum mengikuti langkah Rangga berkeliling taman mansion untuk sekedar bertegur sapa dengan para tamu undangan.
Tampak dari kejauhan Hardy melambai ke arah Shanum dan Rangga agar mendekat ke meja nya.
Terlihat beberapa pria paruh baya sedang terlibat pembicaraan ringan, mereka terlihat gembira dengan senyum mengembang saat saling bertukar cerita.
Hanya satu wajah yang sedikit senyum ia pamerkan, bahkan itupun hanya senyum masam.
Daren, putra Darmawan yang dengan terpaksa ikut bergabung dengan rekan sang ayah hanya bisa mendengar cerita yang menurutnya sama sekali tak bisa menghibur hatinya yang tengah hancur berkeping.
Karena permintaan sang ayah yang memintanya untuk tinggal sebentar lagi di pesta itu.
Daren hanya menunduk lesu, bibirnya tertutup rapat dengan tatapan kosong ke arah piring di hadapannya.
Hatinya kini terasa hampa, tak ada lagi harapan untuknya memiliki Shanum.
Gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu.
Andai kita lebih dulu berjumpa, mungkin saat ini kau sudah menjadi miliku.
Daren membatin lirih.
Datapan Daren kini tertuju pada sepasang pengantin yang tengah berjalan ke arah meja nya.
Shanum dengan senyum manis berjalan mendekat ke arah ayah Hardy yang masih asik bercengkerama dengan para sahabat lamanya.
Dengan tenang Shanum duduk di samping Daren yang kebetulan kosong, Rangga hanya dapat melirik tajam ke arah Daren lalu ikut duduk di sebelah Shanum.
Entah kenapa kini debaran jantung Daren begitu kencang melihat Shanum dengan senyum manis yang terus mengembang.
Sesekali anggukan kecil saat sapaan rekan Hardy menyebut namanya.
Rangga pun hanya beberapa kali menyahut sapaan rekan mertuanya itu, selebihnya ia hanya sebagai pendengar setia dan menyimak dengan mata yang sesekali menatap ke arah Daren, seakan tak ingin kecolongan karena Shanum bersebelahan dengan rivalnya itu.
"Kak Daren sedang sakit?"tanya Shanum pelan pada pria di sebelahnya.
Daren menggeleng pelan.
Piring dengan makanan yang masih tampak utuh bahkan wajahnya pun terlihat lesu.
"Lalu kenapa tidak makan?, apa masakannya tidak sesuai selera kakak" tanya Shanum lagi.
"Ehm tidak Sha, aku sudah kenyang" kalimat singkat akhirnya keluar juga dari mulut Daren.
"Ohh".
__ADS_1
Shanum hanya ber oh ria, namun sesekali masih melirik pria gagah di sampingnya.
Jangan lihat aku seperti itu Sha, sungguh itu sangat menyiksaku.
Batin Daren lirih.
Tak sanggup Daren melihat senyum manis Shanum yang kini telah menjadi milik pria lain.
Begitupun Rangga yang masih dengan senyum masam karena Shanum masih saja ramah pada Daren, pria yang hendak melamarnya tadi pagi.
Rahang Rangga beberapa kali mengembung keras, suasana pun kini terasa gerah.
Hardy yang melihat gelagat tak baik pada sang menantu, akhirnya memerintahkan Shanum untuk menyapa tamu lain agar segera meninggalkan meja yang terasa panas itu.
Rangga dapat bernafas lega setelah Shanum mengajaknya istirahat untuk melemaskan kakinya.
Dengan penuh perhatian Rangga menuntun Shanum yang tampak kesusahan karena gaun pengantin yang terasa berat.
"Hufff" Rangga menghempaskan tubuhnya di ranjang besar di dalam kamar.
Seluruh tubuhnya terasa kaku, seharian ia berdiri membuat kebas kedua betisnya.
Pandangannya tertuju pada Shanum yang meringis dengan tangan memijit-mijit kaki.
Perlahan Rangga menundukan badan dan meraih kaki Shanum lalu meletakan di atas pahanya.
Shanum tertegun namun hanya sesaat karena kini senyum terbit dari bibir manisnya saat Rangga dengan lembut memijit kedua betisnya dengan lembut.
Shanum mengangguk cepat.
"Ehm, kulihat kau tampak dekat dengan auditor muda itu?"sambung Rangga dengan tatapan tajam menelisik sang istri.
Shanum termenung sejenak.
"Oh, kak Daren.."
"Kak???"kalimat Shanum terpotong saat Rangga dengan wajah heran cenderung sinis bertanya perihal sebutan 'kak' yang Shanum sematkan pada Daren.
"Ehm aku baru pertama kali bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, saat ayah Hardy mengajaku makan malam" tanya Shanum santai tanpa menyadari kini mimik wajah Rangga berubah dingin.
"Baru pertama bertemu tapi kalian sudah tampak dekat" tanya Rangga sinis.
Shanum menatap Rangga dengan penuh tanda tanya, kenapa rona wajah sang suami menjadi sinis dan dingin.
"Kami t tidak d dekat, hanya aku merasa kak Daren memang ramah pada siapapun". terang shanum dengan suara terbata.
Dadanya berdebar kencang saat Rangga menatapnya dengan tajam.
"Ehm hmm" Rangga menggeser tubuhnya hingga kini posisinya sudah berjejer dengan Shanum.
"Mungkin memang harus aku jelaskan sekarang juga, agar kau tak lagi ber ramah tamah dengan pria genit itu".
__ADS_1
Ucapan Rangga sontak membuat Shanum menautkan kedua alisnya karena bingung.
Bagaimana mungkin suaminya menyebut Daren genit, pikir Shanum.
"Bagaimana bisa kau menyebutnya genit sayang" protes Shanum.
Kini semakin panas dada Rangga karena Shanum ternyata malah membela Daren.
"Tahu kah kau wahai istriku tersayang heum?" Rangga mencubit pipi Shanum dengan gemas.
"Pria bernama Daren, seorang auditor muda putra satu-satunya tuan Darmawan, pagi tadi berniat melamar putri dari tuan Hardy Wijaya, yang tak lain adalah istriku sendiri".
Shanum memandang Rangga tak mengerti.
Rangga pun berbalik menatap Shanum dengan intens.
"Rupanya istriku yang polos ini belum mengerti juga heum?".
Rangga semakin mengikis jarak wajahnya hingga membuat Shanum memundurkan kepalanya.
"Bisakah kau katakan dengan jelas padaku, hingga tak membuat kepalaku pusing"pinta Shanum polos.
Rangga menghela nafas panjang.
"Tadi pagi aku pergi di ajak ayah Hardy".
Shanum mengangguk pelan.
"Dan kami menemui tuan Darmawan bersama putranya yang berniat 'melamarmu', tanpa mengetahui jika kau sebenarnya sudah bersuami".
Rangga agak menekan kata 'melamar'pada kalimatnya.
Shanum memandang Rangga intens, namun ia melihat kejujuran di sana.
"B benarkah" kini Shanum sungguh merasa bersalah, kini ia paham apa arti tatapan dingin Rangga pada Daren.
Rangga menatap Shanum tajam.
"Setelah kau mengetahui lalu apa yang akan kau lakukan, padanya?" tanya Rangga sinis.
"A aku tidak akan lagi berhubungan dengannya"ucap shanum pasti.
Namun Rangga malah menatapnya intens.
"Kau tidak harus menjuh dari nya apalagi menghindar, cukup jangan terlalu dekat, karena aku tahu di masa depan kalian pasti akan saling berhubungan, karena pekerjaan kita harus tetap profesional" terang Rangga bijak.
Shanum tersenyum lalu memeluk Rangga, sungguh memiliki seorang suami yang begitu pengertian, dan selalu bersikap dewasa dalam menghadapi setiap masalah membuat Shanum semakin kagum.
"Aku akan selalu ingat pesanmu sayang, terima kasih untuk selalu mengerti aku" ucap Shanum lirih dalam dekapan dada bidang Rangga.
Dengan lembut Rangga mengusap punggung Shanum.
__ADS_1
Andai kau tahu, seluruh hidupku akan ku berikan untukmu dan hanya satu yang aku minta, jangan pernah berpaling dariku.