Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Jangan Mendekat


__ADS_3

Rona wajah kesal Rangga masih terbawa sampai ke mansion.


Hana hapal dengan sikap putra sulungnya.


Ia akan diam seribu basa jika hatinya sedang begitu kesal.


Shanum pun tak berani untuk kembali memintanya untuk memberi pijatan relaksasi di telapak kakinya.


"Nak, susul lah suamimu, ibu kira ia saat ini membutuhkan perhatianmu" bisik Hana pada Shanum.


Shanum pun sebenarnya merasa sedikit bersalah, setelah berjanji akan memberinya upah, ternyata ia tertidur tanpa ia sadari.


Ceklek.


Rangga terlihat duduk di kursi depan balkon kamarnya yang terbuka.


Tatapannya fokus pada berkas yang berada di tangannya.


Shanum langsung melangkah ke dalam kamar mandi.


Rangga masih dengan posisi yang sama, Shanum tak bermaksud ingin mengganggu pekerjaannya dan langsung naik ke atas ranjang meninggalkan Rangga.


Perlahan dan dengan gerakan lembut Shanum mencoba mempraktekkan sendiri gerakan memijit telapak kakinya.


Setelah beberapa menit kakinya mulai terasa nyaman, bahkan matanya pun kini terasa berat.


Entah sejak kapan Shanum sudah terlelap, saat Rangga mengakhiri kegiatannya terdengar nafasnya yang sudah teratur.


Rangga menarik selimut Dan bergabung dengan sang istri yang lebih dahulu terbang ke alam mimpinya.


Shanum membuka matanya pukul tiga dini hari, dekapan hangat Rangga membuat paginya tak terlalu dingin.


Gerimis kecil yang turun tengah malam tadi, masih menyisakan hawa dingin menusuk tulang.


Shanum menggeser tubuhnya perlahan berharap sang suami tak terganggu karena gerakannya.


"Heeuum, jangan pergi dulu, masih terlalu pagi" nada suara Rangga terdengar berat karena matanya pun masih terpejam.


Shanum tak menyahut namun ia kembali berbaring dalam dekapan Rangga.


Jam dinding kini menunjuk ke angka empat, Shanum belum juga teroejam kembali.


Tengkuk Shanum terasa meremang saat sentuhan lembut bibir Rangga menyentuh kulitnya.


"Heeuuumm, kenapa kau begitu wangi sayang." Rangga semakin memperluas wilayah sapuan bibirnya.


Shanum menggerakan pundaknya, gesekan bibir Rangga kian tak terkendali.


"Sayang shhh" Shanum pun akhirnya tak dapat lagi menahan gelenyar yang kian menyala karena sentuhan bibir bahkan kini tangan jahil Rangga pun mulai beraksi.


Sungguh lihai Rangga membangunkan hasrat Shanum.


Hingga acara meneruskan tidur pun kini berubah menjadi olah raga pagi yang menggairahkan.


Suasana dingin yang menusuk tulang kini berubah menghangat seiring ******* keduanya yang saling bersahutan memenuhi ruang kamar.


Rangga seakan ingin menagih pembayaran hutang janji yang Shanum tawarkan kemarin malam.


Shanum yang kini mulai terbiasa dan nyaman dengan permainan Rangga saat perutnya yang kian membuncit.


Shanum yang memimpin permainan pun di buat terbuai dengan gerakan dan sentuhan Rangga tanpa menganggu area perut.

__ADS_1


Keduanya akhirnya mencapai puncak penyatuan saat terdengar lenguhan panjang dari Rangga.


Shanum yang memimpin permainan seakan di bawa terbang ke langit.


Sungguh Rangga begitu memanjakannya.


Kepuasan yang di rasakan Shanum begitu bergelora, permainan Rangga benar-benar luar biasa.


Rangga mendekap tubuh Shanum yang berada di pangkuan, di kecupnya puncak kepala sang istri yang terkulai lemas.


Olah raga panas di pagi hari sungguh menyehatkan jasmani dan rohani.


Terbukti kini wajah Rangga berubah cerah, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


Rasa penasaran beberapa hari tak menggauli sang istri kini terobati sudah.


Hana yang melihat perubahan sang putra pun kini merasa lega.


Melihat kedatangan sang bos dengan wajah cerah, membuat David sedikit berkurang rasa cemas di dadanya.


"Pagi pak, sepertinya bapak sedang bahagia padi ini." David menyapa dengan mengulas senyum penuh misteri.


Seorang lelaki akan bersinar wajahnya jika sudah tersalurkan hasrat yang terbenam dalam dadanya.


Membayangkan adegan panas dua puluh satu plus-plus yang sering di tontonnya lewat laptop membuat wajah David bersemu merah.


Sialan, pagi-pagi otak sudah traveling, geram hati David.


"Kenapa lu gelengkan kepala seperti itu Vid?"


"Ah ehm a anu pak, kepala saya sedikit pusing."


David tersenyum masam dan menggaruk kepala yang tak gatal.


Yang pusing kepala bawah pak.


Rangga memeriksa setumpuk map di meja kerjanya.


Hari ini ada acara penyerahan simbolis Surat Keputusan untuk karyawannya.


"Apa semua sudah siap Vid?"


"Sudah pak, semua sudah menunggu kedatangan bapak."


Keduanya memasuki ruangan tempat di adakannya kegiatan penyerahan SK secara simbolis.


Rona wajah bahagia terpancar dari para karyawan yang kini sudah mendapat surat resmi.


Rangga pun keluar dari ruangan setelah memberi sambutan singkat .


"Pak siang ini ada tiga klien yang hendak datang ke Wijaya Corp."


"Hm mau apa?"


"Dua klien merupakan pertemuan rutin bulanan dan satu lagi, klien yang menanyakan kelanjutan meeting kemarin pak" David berani mengatakan terus terang bahwa klien tersebut adalah wakil dari Testafood.


Perusahaan yang sangat ia hindari untuk bertemu dengan wakilnya, untunglah perhatian Rangga terfokus pada laptopnya.


Setelah kejadian kemarin David sudah di wanti-wanti, untuk tak mengikut serta kan Rangga dalam berurusan dengan perusahaan Testafood.


Suasana siang yang terik sungguh menguras tenaga dan fikiran Rangga apalagi setelah olah raga panas yang di lakukannya pagi ini.

__ADS_1


Kedua meeting berjalan lancar, dan tinggal satu meeting lagi yang harus di lakukan.


Rangga tak ambil perduli, ia pikir klien ini sama seperti klien Wijaya yang lain.


Namun ternyata salah.


Sosok yang sangat di hindarinya kini sudah berada di dalam ruangannya dan menatapnya dengan penuh menggoda.


Glekk.


Sialan David, beraninya dia lepas tangan, mau ku mutasi kau ke kantor cabang hah.


Rahang Rangga mengembung keras, emosi bahkan hampir naik ke ubun-ubunnya.


Mulutnya terdiam seakan terkunci rapat namun hatinya sungguh tidak seperti itu.


Umpatan panjang pendek, bahkan seluruh penghuni kebun binatang sudah Rangga tujukan pada David.


Sayangnya asistennya itu sudah berada di kota lain di anak cabang Wijaya Corp.


Hardy menugaskannya untuk mensurvei salah satu Divisi yang sedang bermasalah.


Rangga tak mengetahui hal itu tentu saja.


Andai saja Rangga tahu jika klien yang menunggu jawaban adalah dari Testafood tentulah lebih baik ia yang pergi ke kantor cabang tersebut.


Dan biarkan David yang menangani wanita campuran itu, campuran antara wanita nyata dan tak kasat mata.


"Selamat sore pak Rangga?" suara yang terdengar cempreng bagai kaleng rombeng mengagetkan Rangga yang masih fokus dengan berkasnya.


"S sore." Rangga menjawab Singkat, sungguh saat ini Rangga masih mengeluarkan sumpah serapah untuk asisten kurang ajarnya yang melarikan diri.


"Ini data yang benar pak, kemarin asisten saya salah membawa berkas, jadi ada banyak kesalahan yang belum di revisi." Linda menjelaskan dengan bibir yang ia basahi hingga semakin terlihat mengkilap bagai habis ngegado minyak goreng.


Linda menyerahkan berkas dengan gerakan melambai lembut.


Jari jemarinya yang memakai kutek merah menyala semakin serasi dengan warna bibirnya yang tebal menggoda.


"Ghoeekkk" entah kenapa tiba-tiba rasa mual menyerang perut Rangga.


Linda yang terkejut pun sontak melangkah memutari kursinya bermaksud memijit tengkuk CEO di depannya.


Namun tangan Rangga menahannya.


"Berhenti, jangan mendekat." Rangga berucap dengan tangan tertahan di udara.


Tapi rupanya itu tak menghentikan Linda.


"Tapi pak biarkan saya memijit tengkuk anda."


"J jangan, ghoekk."


Nafas Rangga panjang pendek, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori keningnya.


Linda mengambil sapu tangan dari tas selempangnya, lalu menjulurkan tangan ke Rangga.


"Tahan ghoeekkh, ghoeekk" sungguh Linda semakin panik, keringat bahkan semakin deras mengucur dari kening Rangga dan..


Bruuggg.


Pagi hari Rangga berangkat tanpa sopir.

__ADS_1


__ADS_2