
Tok tok tok.
Rangga menatap Shanum tajam, siapa yang sedang ia tunggu, dan kenapa bertamu malam-malam seperti ini, pikir Rangga.
Shanum melangkah menuju ke pintu lalu membukanya.
Ceklek.
"Maaf nona, saya mengantarkan baju yang anda pesan"ucap sang penjaga.
"Yah, terima kasih pak".
Penjaga bertubuh kekar itupun melangkah setelah menundukan kepala hormat pada Shanum, dari sudut matanya ia sempat melihat sekilas, keberadaan seorang pemuda tampan tengah berdiri memandang lekat ke arahnya, namun yang menjadi perhatian adalah, baju yang di kenakannya yaitu baju tidur model kimono.
Tak biasanya Nona Shanum menerima tamu seorang pria, apalagi malam sudah larut seperti saat ini, dan baju kimono yang di pakai pun seperti model untuk perempuan, andai benar mereka memiliki hubungan, betapa beruntungnya pria itu, pikir sang penjaga sambil melangkah pergi.
Rangga mengamati baju kemeja lengan pendek dan celana Jeans panjang, sungguh pas dengan ukuran tubuhnya, matanya kini membulat sempurna saat ternyata tak hanya kemeja dan celana jeans, C*****d****,b**** juga ada dan itupun seukuran dengan miliknya.
Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Darimana Shanum tahu ukuran tubuh bahkan sampai baju dalamnya.
"Dokter Vina meminta pada temannya baju yang seukuran dengan tubuh Devon, karena tubuhmu tak beda jauh dengannya"ujar Shanum mengetahui kebingungan Rangga.
"Tapi ukuran c***** d**** ini sedikit sempit untuku"gumam hati Rangga,namun kini wajahnya berubah tersenyum .
"Berarti 'milikku' lebih besar darinya" Rangga tersenyum bangga, namun segera memandang Shanum dan ia pun menghela nafas lega, karena Shanum tak menyadari mimik wajahnya.
Rangga kini duduk menikmati teh hangat yang di buatnya setelah berganti baju di kamar mandi, sementara Shanum mengecek beberapa email yang masuk, karena makan malam dengan Joy sore tadi,terpaksa tugas kantornya belum di selesaikannya.
__ADS_1
"Sha, apa kerjaanmu tak bisa di selesaikan di kantor"tanya Rangga yang kini merasa terabaikan oleh Shanum, ia tak terima jika gadis yang amat di rindukan itu mengacuhkannya.
"Apa hanya aku yang merindukanmu Sha?"Rangga menghela nafas panjang.
"Ehmm, tinggal sedikit lagi Ngga, aku hanya perlu mengeceknya sebelum ku kirim ke divisi produksi agar besok tinggal mereka input"jawab Shanum.
Rangga hanya mengedikkan bahunya.
"Kenapa Ngga?"Shanum melirik Rangga yang terlihat sedikit berubah rona wajahnya.
"Tidak, hanya ada sesuatu hal yang mengganjal hatiku"ucapan Rangga tampak menggantung.
"Hmm, boleh aku tahu apa itu?"
"Sepertinya disini hanya aku yang sedang merindukanmu "Rangga memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah jendela balkon apartemen, entah kenapa hatinya ngilu, sungguh ia tak ingin memiliki cinta yang hanya sepihak, untuk kali ini Rangga ingin egois sekali saja, ia ingin Shanum hanya memikirkannya, dan hanya mencintainya.
Shanum terdiam membisu dan gerakan tangannya yang sedang mengetik pun terhenti, tak menyangka Rangga yang terlihat tegar, datar dan dingin di segala situasi kini bisa se melow ini.
"Hmmm, pantas tiba-tiba Hercules jadi Romeo"gumam Shanum saat menyadari Rangga rupanya terbawa suasana setelah memandang tetesan air hujan yang membasahi jendela balkon.
"Ngga, jangan menatap hujan, nanti kamu baper" perintah Shanum dengan senyum lucu melihat tingkah Rangga yang terlihat seperti layaknya ABG yang sedang kasmaran.
"Lalu aku harus menatap apa, sedangkan kau terlaku asik dengan laptopmu, apa wajah tampanku ini masih kalah sama layar laptopmu Sha?"Shanum menutup mulutnya yang tak kuasa hendak tertawa mendengar jawaban Rangga yang tiba-tiba berubah puitis cenderung narsis.
Shanum pun segera mematika laptopnya karena tugas kantornya telah selesai, lalu berjalan ke arah Rangga.
"Ngga, kau tahu, aku ini seorang CEO dan kau juga paham pekerjaan seorang CEO seperti apa, tak seperti di cerita novel online, CEO yang selalu tinggal ongkang-ongkang kaki, lalu foya-foya dan bahagia, aku tak ingin mengecewakan ayahku Ngga, aku harus meneruskan keinginanya yaitu membuat Wijaya Corp menjadi perusahaan besar yang di segani perusahaan lain agar mereka tak memandang remeh padaku, apalagi memandang sebelah mata hanya karena aku ini seorang wanita, aku ingin mereka menghargai kerja kerasku Ngga"kalimat Shanum seakan menghujam ulu hati Rangga.
Kini Rangga menatap mata Shanum dengan perasaan penuh sesal.
__ADS_1
Karena rasa egoisnya ia tak memikirkan usaha Shanum yang begitu gigih mempertahankan posisi CEO yang di peroleh dari sang ayah karena hasil keringat, darah, bahkan nyawa sang ibu yang telah meninggal karena keserakahan para saudaranya.
"Sha..maaf"Rangga berbata.
"Yakinlah Ngga, meski aku tak pernah menunjukan perasaan isi hatiku, tapi kaulah satu-satunya lelaki yang telah mencuri hatiku, lelaki yang menjadi harapanku, pelindungku, dan pendampingku di saat aku menutup mata di akhir hayatku"kalimat Shanum sungguh membuat Rangga tertegun, tak pernah hatinya sebahagia ini, jantungnya bagai berhenti berdetak, debaran dadanya kini semakin keras.
Rangga merengkuh Shanum ke dalam pelukannya, hatinya begitu haru.
"Maafkan aku yang terlalu mencintaimu Sha"
Rangga melerai pelukannya.
"Hujan telah reda, aku harus pulang"ucap Rangga.
"Apa kau tak tidur di sini Ngga?"tanya Shanum polos, maksudnya ia hanya merasa was-was melepas Rangga pulang sedangkan malam telah larut.
Rangga sontak memandang Shanum.
"Apa kau memintaku untuk menginap di apartemenmu ini ?"tanya Rangga penuh harap.
"Bu bukan begitu, aku hanya tak mau kau kedinginan lagi, dan ini sudah tengah malam, apa akan aman di jalan?"jawab Shanum gugup.
Rangga tersenyum melihat wajah polos Shanum yang kini tengah salah tingkah.
"Tenanglah, ada mantel hujan di motorku, aku tak ingin membuat pemilik pintu surgaku merasa cemas karena menungguku pulang, ibu ada di kontrakan saat ini Sha"ujar Rangga.
Shanum berbinar saat mengetahui sang calon mertua kini berada di rumah kontrakan Rangga.
"Kapan ibu datang Ngga, apa akan lama di sini, aku mau bertemu"ucap Shanum antusias, berada dekat dengan wanita calon mertuanya itu begitu menyenangkan, ia seperti dekat dengan sang ibu yang telah tiada.
__ADS_1
"Besok kami akan datang untuk melamarmu secara resmi".