
Shanum membetulkan letak kepalanya di headboard.
Sementara Rangga masih setia duduk di kursi di samping ranjang.
Melihat tubuh Shanum yang lemas dengan wajah pucat, membuat Rangga begitu panik, dengan perasaan tak menentu dibopongnya tubuh Shanum dari ruang CEO menuju ke mobil dan melarikannya ke rumah sakit.
Untunglah tuan Darmawan memaklumi keadaan Shanum dan ia pun memberi ijin pada Rangga untuk segera membawa sang istri ke rumah sakit.
Darmawan pun memaklumi kecemasan Rangga, dan ia hanya dapat menghela nafas berat saat netra nya memandang Daren yang tampak murung sejak kejadian itu.
Masih jelas terbayang di pelupuk matanya, Shanum terkulai lemas dalam dekapan Rangga yang dengan berlari kencang membopong Shanum ke dalam mobil.
Bahkan dadanya begitu sesak saat mendengar kabar dari sang ayah bahwa sahabatnya sebentar lagi akan memiliki seorang cucu.
Meski kabar itu adalah kabar bahagia namun tak dapat di pungkiri bahwa ada titik di dalam hatinya yang berdenyut nyeri.
Shanum menggeliatkan tubuhnya.
Setelah meminum obat yang di berikan oleh dokter Obgyn tadi, tubuhnya semakin membaik.
Rasa pusing di kepala pun jauh berkurang.
"Sayang, kau sudah bangun? Apa kau lapar?"
Shanum memandang netra Rangga dengan tajam.
Wajah sang suami terlihat begitu bahagia, dengan genggaman yang tak pernah lepas dari tangan kecil Shanum.
"Ada apa?" tanya Shanum polos.
Rangga menggelengkan kepalanya dengan tatapan lembut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, kau sekarang harus lebih hati-hati menjaga kesehatan tubuhmu, juga asupan makanan yang masuk ke dalam perut, karena kini ada satu nyawa lagi yang harus kau jaga sayang."
Shanum menautkan kedua alisnya penuh tanda tanya.
"Ada baby kita di sini." ujar Rangga dengan mengelus perut datar sang istri.
Gerakan usapan yang begitu lembut, di kecupnya ringan kulit Shanum yang terbungkus selimut hangat.
Masih terngiang pesan sang dokter.
Janin dalam umur tri mester pertama sangat rentan, perlu perhatian yang ekstra untuk menjaganya, terlebih kondisi kandungan Shanum yang tergolong lemah, jika lalai sedikit saja maka nyawa taruhannya.
Meremang bulu halus di tengkuk Rangga saat itu juga, mendengar menuturan dokter Obgyn tersebut bagai sebuah bom yang meledak di samping telinganya.
Tak ingin mempercayai namun itulah kenyataanya.
Shanum tersenyum lembut, kemudian mengusap perutnya.
Shanum menatap Rangga, hatinya tercekat saat melihat sudut mata sang suami yang tampak berair.
"Sayang kenapa kau menangis?"
Rangga dengan cepat mengerjapkan mata, menyembunyikan kabut yang sebentar lagi berubah menjadi air "Ehm aku menangis bahagia sayang, akhirnya aku bisa memenuhi keinginan ayah Hardy dan ibuku, mereka pasti akan bahagia mengetahui hal ini."
Dengan sekuat tenaga Rangga berusaha menutupi sesak di dada, mengetahui nyawa Shanum di ujung tanduk dengan buah hati dalam perutnya, sungguh hal yang amat mengerikan dalam hidupnya.
Tak ingin terus mendapat tatapan penuh rasa penasaran dari sang istri, Rangga melangkah ke dapur mansion.
Di ambilnya beberapa buah apel lalu di potongnya membentuk potongan sedang, agar pas di mulut Shanum, setangkai anggur hijau ia sisipkan di tepi irisan apel.
Indra peciuman Shanum saat ini sangat sensitif, wangi masakan sedikit saja tercium oleh hidungnya, maka perutnya akan langsung berontak dan memuntahkan semua yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Rangga tak ingin anak dan istrinya kekurangan nutrisi, dengan beberapa asupan buah dapat membantu menambah asupan sedikit nutrisi yang di butuhkan oleh Shanum dan buah cintanya, seiring berjalannya waktu dan bertambah nya usia kandungan dalam perutnya mungkin selera makan Shanum akan kembali normal.
"Makanlah sayang, setidaknya buah-buahan ini tidak mengeluarkan aroma yang membuat mual perutmu."
Shanum tersenyum senang, lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan potongan buah.
"Sayang kenapa kau tidak kembali ke kantor?" tanya Shanum di tengah kunyahannya.
"Ehm aku sudah ijin pada om Darmawan tadi, dan beliau mengijinkan aku untuk pulang dan merawatmu di rumah, dan ayah Hardy mungkin sudah sampi di sana, saat ini ia yang akan meng handle urusan perusahaan, selama kau sakit" terang Rangga panjang lebar.
"Tapi aku tidak sakit." protes Shanum.
"Iya kau tidak sakit, tapi kata dokter kau harus menjaga kondisi tubuhmu, umur kandungan tri mester pertama sangat rentan sayang, kau tidak boleh beraktifits terlalu keras" terang Rangga tegas.
Shanum hanya diam, menghadapi dua lelaki begitu keras kepala dan hati yang teguh pendirian, rasanya mustahil baginya untuk memenangkan perdebatan itu, pikir Shanum.
"Jadi berapa hari aku tidak boleh ke kantor?" tanya Shanum.
"Ehmmm" Rangga menjawab dengan gelengan kepala.
Shanum menatap sang suami tak mengerti.
"Berapa hari?" tanyanya lagi.
Dan Rangga pun menggeleng lagi.
"Maksud kamu apa sayang?" pekik Shanum tertahan dengan rasa kesal.
"Ssttt, kau tidak boleh teriak sayang" nada kalimat Rangga kini begitu lembut, namun tak dapat mengurangi rasa kesal Shanum.
"Ehmm, aku dan ayah sudah sepakat, mulai hari ini sampai anak kita lahir nanti, semua urusan Wijaya Corp, aku dan ayah yang akan mengurusnya."
__ADS_1
"Hah"