
David hanya bisa pasrah namun hatinya girang bukan main, Linda meminta untuk menemaninya di apartemen karena takut jika malam tiba rasa nyeri perutnya akan kambuh dan tidak ada orang di dekatnya.
Nafas Linda mulai teratur dengan tubuh terbaring di ranjang besarnya, sementara David kini debaran hatinya yang mulai tidak teratur.
Rupanya Linda tipe orang yang suka tidur dengan berubah-rubah posisi, dan saat ini David harus menahana saliva kasar saat liukan tubuh sexy tersebut bergerak menggeliat.
Meski ia di sofa yang berjarak beberapa langkah namun tentu saja ia bisa menikmati pemandangan indah yang kini membuat celananya terasa sesak.
Perlahan David membuka pintu kamar menuju ke dapur, langkahnya menuju lemari pendingin yang berada di dekat jendela.
Senyum tipisnya terbit, rupanya Linda selalu menjaga kesehatan tubuhnya, terlihat dengan berbagai macam buah memenuhi rak kulkas.
Pantas saja kulitnya bersinar dan tubuhnya kencang dan sexy, batin David.
Pagi hari David pulang tanpa membangunkan Linda, hanya secarik kertas yang di tulisnya lalu di letakan di atas meja makan.
Linda membuka matanya perlahan, senyum tipisnya mengembang, belum pernah ia tidur se nyenyak ini, batinnya.
Li lihatnya sofa tempat David tertidur semalam sudah kosong, ia pun bergegas ke luar kamar, setidaknya ucapan terima kasih harus ia sampaikan pada pria yang sudah menjaga tidurnya.
Namun ternyata pria itu sudah pergi meninggalkan apartemen.
Langkah Linda kini gontai kembali ke kamarnya.
Setelah mandi dan memakai baju kantor ia pun berangkat, secarik kertas berisi agar Linda harus menjaga kesehatan lambungnya dengan makan teratur dan menghindari makanan yang memiliki cita rasa extrim, kalimat sederhana namun membuat hati Linda menghangat.
************
Seminggu sudah berlalu, sejak Linda yang di buat candu dengan aroma maskulin tubuh David dapat menyembuhkan perutnya.
Karena kesibukannya yang mendapat tugas dari Lefrant yang memintanya untuk segera mencari daerah penghasil ikan laut, Linda pun segera membuat tim dadakan untuk mengurusinya, Linda meminta para nelayan agar mau menjual hasil tangkapannya pada perusahaan Testafood.
Di tengah kesibukannya mengurusi persiapan kelanjutan ekspor yang akan di perluas, rasa pusing kepala Linda sering datang tiba-tiba.
Bahkan setelah menerapkan hidup sehat seperti anjuran David di kertas yang di tulisnya, tetap saja Linda sering merasa pusing hingga mulai mengganggu aktifitasnya yang padat.
Seperti siang ini, Lefrant yang untuk kesekian kali menjumpai Linda sedang duduk menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam erat dan keringat dingin membasahi dahi.
Di rabanya kening sang adik dengan lembut, Linda sampai terjingkat kaget, tak pernah kakaknya bersikap selembut itu.
"Kak, apa kau lakukan, bikin kaget saja" hardik Linda kesal.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini kau sering mengeluh pusing kepala,, apa kau sudah berobat ke dokter?" tanya Lefrant.
"Heum sudah" jawab Linda bohong.
"Lalu kenapa sampai sekarang kau masih sering merasa pusing?" tanyanya lagi.
"Entahlah kak, mungkin karena aku kurang tidur."
Bukannya kurang tidur, karena Linda bahkan sering merasa kantuk di setiap waktu, di apartement pun ia tidur di sembarang tempat, entah itu di sofa ataupun saat berendam di bathub, rasa kantuk selalu menyerangnya tak tahu tempat.
Lefrant hanya bisa menghela nafas berat, entah apalagi yang harus di lakukannya agar sang adik bisa bersikap lebih dewasa.
Sementara itu, di gedung Wijaya Corp, Rangga berkali-kali menatap asistennya dengan perasaan geram.
Tidak biasanya David melakukan kesalahan beruntun beberapa hari ini, dan saat ini pun Rangga mengatupkan giginya rapat.
Bisa-bisanya sang asisten melupakan bahwa hari ini ada meeting di salah satu perusahaannya namun David tak mencatatnya di buku agenda.
Hanya tatapan melas dan penuh sesal yang kini David lakukan, kesalahan yang fatal namun Rangga masih memakluminya karena waktu meeting baru akan di mulai kurang dari tiga puluh menit lagi.
Dan untuk menebus kesalahan yang di buatnya, David pun harus rela di utus Rangga untuk mewakili Wijaya Corp.
Menghadiri rapat rutin memang sudah biasa David lakukan jika memang Rangga berhalangan datang, namun kali ini ia sungguh sedang kurang enak badan.
Karena memang kesalahan yang di buat olehnya, David pun tak dapat menolak perintah sang atasan.
Dengan langkah gontai David memasuki banguan besar sebuah perusahaan di bidang spare part mobil, di mana meeting kali ini akan di adakan.
Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan penuh, David sampai dua menit sebelum acara di mulai.
David masuk setelah terlebih dahulu mengetuk pintu ruang meeting.
Semua peserta yang tampak sudah lengkap kini terfokus pada David.
Senyum masam mengembang dari bibirnya, dengan anggukan ramah mencoba menetralisir suasana hatinya yang tak menentu.
Buku agenda yang di bawanya di taruhnya di atas meja, lalu ia sandarkan tubuhnya sambil menunggu sang tuan rumah hadir membuka rapat.
Berkali-kali David menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya.
Perut mualnya semakin menjadi, apalagi ruang meeting yang tanpa ventilasi dengan udara ber AC.
__ADS_1
Puk puk puk.
David menepuk- nepuk perutnya sendiri, mungkin masuk angin, batinnya.
Setelah melewati lebih satu jam yang amat menyiksa, David kini merasa lega karena meeting telah usai.
Bergegas ia keluar dari ruang meeting berniat ke kamar kecil, namun niatnya tertahan saat di lihatnya sosok yang ia kenal yang membuat hatinya selalu berdebar kencang.
"Bu Linda" desisnya lirih.
Bergegas ia mengikuti pemimpin Testafood itu dari jarak aman, Linda melangkah dengan wajah tertunduk dengan tangan memegang pelipisnya.
Apakah ia sedang tidak sehat, batin David berkecamuk.
Dan darahnya terasa mendidih saat seorang pria dengan berani memapah tubuhnya menuju area parkir.
Dengan dada bergemuruh David melajukan mobil mengikuti Linda dan lelaki yang berani menyentuhnya.
Niat ke kamar kecil di urungkan David karena rasa mual perutnya seakan hilang berganti dengan rasa panas di dadanya.
Entah perasaan apa itu namun yang jelas David sungguh tak rela ada orang lain yang berdekatan apalagi sampai menyentuh tubuh wanita itu.
Kedua alis David menyatu saat mobil yang di ikutinya berhenti dan memasuki sebuah rumah sakit.
Tak ingin kehilangan jejak ia pun ikut membelokan laju mobilnya dan parkir di rumah sakit tersebut tak jauh dari mobil Linda.
David tak perduli saat pesan atasannya yang menyuruhnya segera datang ke perusahaan.
David keluar dari mobil setelah memakai kaca mata hitam yang tersimpan di laci mobil.
Langkahnya tertahan saat di lihatnya pria yang bersama Linda sedang duduk santai di kursi di sekitar area parkir.
kedua matanya mengedar ke kursi di ruang tunggu.
Rupanya Linda hendak memasuki ruang praktek setelah satu suster memanggil namanya.
Linda bergegas memasuki ruangan dengan sedikit menahan nafasnya, aroma ruangan yang sungguh tak ia sukai.
Langkahnya tertahan di depan pintu masuk dengan tangan memencet hidungnya.
Namun rasa mual tiba-tiba datang dengan hebat, perutnya bagai di aduk dengan hebat setelah aroma ruangan sempat memasuki rongga hidungnya.
__ADS_1
"Ghhoekk" Linda berusaha menutup mulutnya rapat.
Tubuhnya terhuyun ke samping hampir membentur pintu andai tidak ada satu sosok yang segera menangkap tubuhnya.tolong kasih imunnya dong biar outhos semangat lagi up nya makasih 😘😘😘