Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Prank Rangga


__ADS_3

Rangga menangkap kedua tangan Shanum yang masih berusaha memukulnya dengan kesal.


"Tega kau Ngga, aku begitu cemas melihat keadaanmu, tapi ternyata itu semua hanya akal bulusmu, dasar mesum ..mesum "teriak Shanum, meski kesal namun kini hatinya merasa lega, Rangga ternyata tidak pingsan.


Rangga hanya tersenyum sambil mencoba menenangkan Shanum yang masih memberontak di pelukannya.


"Diam Sha, jangan kau gerakan tubuhmu sembarangan, atau kau akan melihat hal yang belum waktunya kau lihat"ujar Rangga pelan, karena menahan gerakan Shanum yang tak beraturan, hingga menimbulkan bagian inti tubuhnya kini mulai mengeras.


Shanum menatap Rangga dengan mata merah, sungguh hatinya begitu cemas melihat Rangga yang tak berdaya, bahkan jantungnya seakan berhenti, namun ternyata Rangga hanya mempermainkannya.


"Kamu jahat hiks "isak Shanum akhirnya.


"Maaf, maafkan aku "Rangga kembali merengkuh tubuh kecil Shanum ke dalam pelukannya, hatinya begitu berbunga, melihat kecemasan di mata gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya itu.


"Hiks aku takut Ngga"ucap Shanum dengan pelan namun masih terdengar di telinga Rangga.


"Takut kenapa Sha.."Rangga melerai pelukannya lalu menatap lekat mata indah yang masih basah karena air mata itu.


"Aku takut kamu mati dan meninggalkan aku sendiri, seperti ibu meninggalkanku hiks"Isak tangis kembali terdengar, Rangga pun menarik kembali Shanum ke dalam pelukan haru.


Dengan lembut, di kecupnya puncak kepala Shanum, lalu mengusap rambut hitamnya yang terurai panjang.


"Cup cup ..maafkan aku, aku tak akan membuatmu cemas lagi"Rangga berucap lembut dan berkali-kali kecupan ringan mendarat di puncak kepala Shanum.

__ADS_1


"Ngga, kamu nggak kedinginan"tanya Shanum yang kini baru menyadari keadaan Rangga yang hanya memakai baju kimononya.


"Hmmm, aku kedinginan, maka itu aku memelukmu"jawab Rangga asal, membuat cubitan kecil dari shanum mendarat di pinggangnya


"Aw aww "geliat Rangga dengan suara manja minta di tabok.


"Dasar mesum, aku sudah meminta penjaga apartemen untuk membelikan baju untukmu"ujar Shanum.


"Malam-malam begini mana ada toko baju yang masih buka Sha".tanya Rangga yang protes karena menurutnya memakai baju kimono itu pun sudah cukup membuatnya hangat, meski kadang harus menahan gerakannya untuk tidak terlalu aktif, agar 'sang adik tetap tenang'.


"Masih Ada, butik milik temen dokter Vina tutup jam Sepuluh, tapi ada karyawan yang selalu berjaga dua puluh empat jam "jawab Shanum singkat.


Shanum tak ingin debaran jantungnya terdeteksi oleh Rangga saat matanya melihat tubuh berotot dengan perut sixpack yang sering terekspose karena belahan baju kimononya terbuka.


"Tunggulah di sini, akan ku buatkan minuman hangat"ujar Shanum melangkah menuju ke dapur.


Dengan terampil Rangga membuat minuman untuk menghangatkan tubuhnya.


Helaan nafas panjang saat melihat ke dalam kulkas yang hanya berisi makanan instan dan buah.


Tangan terampilnya kini mulai mengeluarkan berbagai bahan yang dapat di gunakan untuk membuat makanan pengganjal perutnya.


Shanum mengerutkan kedua alisnya saat hidungnya mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera.

__ADS_1


Dengan rasa penasaran Shanum melangkah perlahan mendekati Rangga yang masih fokus pada masakannya.


"Tetaplah duduk, sebentar lagi akan siap makanannya"ucap Rangga tanpa mengalihkan pandangannya saat menyadari Shanum mendekatinya, gadus itu hanya mencebikan bibirnya dengan kecal.


"Sssshhh"Rangga mendesis kesal saat sekilas dari sudut matanya kembali melihat bibir mungil yang mengerucut begitu menggodanya.


"Tahan, ini ujian Ngga"gumam hatinya.


Shanum menajamkan aroma penciumannya, saat kepulan asap beraroma wangi masakan memenuhi ruangan, tatapannya membulat tak percaya pada apa yang kini tersaji di atas meja.


Pizza dengan tampilan kearifan lokal kreasi Rangga, kini tersaji tampak begitu menggugah selera, mie instan dengan toping daging giling instan buatan Rangga.


Shanum memandang takjub pada Rangga yang kini tersenyum puas pada hasil karyanya.


"Maaf aku lapar, dan aku masak yang ada di kulkasmu"ucap Rangga menatap Shanum.


Senyum manis mengembang dari bibir mungil Shanum.


"Aku juga.."sahutnya lalu berdiri hendak mengambil peralatan untuknya makan.


"Buat apa kau mengambil piring lagi"tanya Rangga,membuat Shanum heran, apakah Rangga tak membolehkan dirinya mencoba hasil makanan yang baru di buatnya itu,pikir Shanum.


"Apa kau tak mau makan dengan satu piring dengan calon suamimu ini"Rangga bertanya dengan menatap tajam manik mata Shanum.

__ADS_1


"Ehmm bukan begitu aku.."ucapan Shanum terpotong karena Rangga telah menyuapinya dengan sendok yang di pegangnya.


"Ah calon istriku ini memang cantik, tapi juga cerewet"ujar Rangga dengan senyum manis sambil tanganya terus bergerak menyuap makanan ke mulut mungil Shanum, membuat gadis itu hanya terdiam dengan muka tampak kesal namun tetap mengunyah makanan lezat yang di masak Rangga.


__ADS_2