
Rangga makan dengan lahap, wajahnya pun berseri, hatinya sedang berbunga dan kupu-kupu beterbangan warna warni.
Dahaganya kini sudah terobati, setelah kegiatan panas yang kedua di kamar mandi membuat tenaga Rangga seakan terkuras habis.
Meski enak tapi ternyata kegiatan ninu-ninu cukup membuat tubuh serasa remuk, dan Shanum kini hanya tersenyum masam saat Rangga yang terlihat tetap bugar setelah beberapa kali menggempurnya dengan serangan dahsyat.
"Sayang, makanlah yang banyak biar tenagamu cepat pulih,"bisik Rangga dengan senyum smirk di bibirnya.
Shanum hanya mencebikan bibirnya kesal, entah berasal dari mana tenaga yang Rangga miliki, setelah kegiatan panas di ranjang yang memporak porandakan mahkota nya.
Di susul saat di kamar mandi, Rangga kembali menyerangnya tanpa ampun meski kini kalimat maaf berkali-kali terucap dari bibirnya.
Rangga menuntun Shanum dengan begitu lembut, langkah Rangga tertahan saat sadar kini gerakan langkah kaki Shanum terlihat berubah.
"Sayang, kamu masih sakit"pertanyaan jujur namun terdengar sangat bodoh ditelinga Shanum.
Bagaimana mungkin Rangga masih bertanya dengan wajah tak berdosa setelah apa yang telah ia perbuat pada tubuhnya.
Shanum melangkah ke ranjangnya tanpa memperdulikan Rangga yang bersikap begitu manis padanya.
"Sayang, apa kau mau aku pijit"Tangan Rangga kini mulai melancarkan aksinya.
Usapan-usapan yang semula lembut, kini makin lama makin membuat tubuh shanum panas dingin.
"Sayang, tubuhku lelah, aku ingin tidur"rintih Shanum dengan tangan menahan gerakan Rangga agar menghentikan aksinya.
Melihat rona wajah memelas sang istri, membuat Rangga jatuh iba, di tariknya selimut lalu menutupkan ke tubuh sang istri.
Cupp.
"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah"ucap Rangga.
Merasa kantuk belum menyerangnya, Rangga akhirnya mengeluarkan laptop dan duduk di sofa empuk di sudut kamar.
Senyumnya mengembang saat di lihat layar laptopnya, situasi rumah barunya kini telah lengkap dengan bermacam perabotan yang sudah di pesannya.
Sesuai ekspektasi, gumam Rangga.
Sengaja Rangga memasang CCTV di setiap sudut rumahnya dan tersambung ke laptop miliknya, hingga Rangga lebih leluasa mengamati situasi dan ke amanan di rumahnya.
Kembali senyumnya terbit saat tiap pagi menjelang, orang suruhannya membersihkan rumah dengan rapih dan penuh ke tlatenan.
Tak sia-sia Rangga meminta bang Ujo untuk mencari orang yang dapat di percayanya untuk mengurus kebersihan tempatnya itu.
__ADS_1
Setelah puas melihat CCTV rumahnya, kini Rangga melihat email dan ternyata Hardy mengirimkan berkas data anak cabang Wijaya Corp.
Rupanya, Hardy mendapat temuan lain penyebab anak cabang perusahaannya jalan di tempat.
Dari orang suruhan yang Hardy kirim dan menyamar sebagai karyawan di sana, titik penyumbat terletak di Divisi produksi.
Terlihat perbedaan antara hasil produksi dan data yang mereka input.
Juga banyaknya barang reject yang terbuang percuma membuat dana produksi semakin membengkak namun tanpa hasil.
Rangga menghela nafas panjang, sungguh jika tidak di tangani secara cepat maka perusahaan itu akan hancur.
Setelah mengirimkan pesan permintaan pada mertuanya Rangga pun dengan cepat menghubungi asisten Harun.
Setelah memilih beberapa karyawan pilihan yang menurut Rangga pantas di percaya, iapun membentuk sebuah tim rahasia yang nantinya akan ia tugaskan di cabang Wijaya Corp.
Mereka akan Rangga perintahkan untuk menyamar sebagai karyawan dan sekaligus mata-mata yang akan di sebar ke berbagai divisi.
Tanpa bantuan asisten Harun, Rangga tak akan dapat dengan mudah memperoleh orang pilihan yang di butuhkan secara cepat.
Karena pengalaman Harun tentang seluk beluk para karyawan yang bekerja di Wijaya Corp sudah tentu Harun mengenal mereka yang pantas untuk di jadikan tangan kanan Rangga.
Dilihatnya jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas malam, Ranggapun menyudahi kegiatannya.
Setelah menyikat gigi dan membersihkan muka, Ranggapun naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping tubuh Shanum.
Leher jenjang nan putih, seakan melambai-lambai dan menariknya.
"Emmpph"Shanum berjingkat saat merasakan sentuhan-sentuhan halus nan lembut menjalar di leher dan tengkuknya.
Shanum mengibaskan tangan Rangga yang kini mulai nakal dan memainkan aksinya.
"Sstttt cup cup cup"Rangga menepuk pundak Shanum dengan lembut, berharap sang istri kembali pulas tidurnya.
Namun Shanum mengibaskan tangannya lagi dan lagi saat mimpinya kini terusik tangan jahil sang suami.
Cup, kecupan lembut mendarat di bibir mungil yang masih tertutup rapat.
"Isshhh"Shanum mengusap bibirnya kesal.
"Haha ha"tawa Rangga lepas meliha tingkah menggemaskan istri kecilnya.
Cup, kembali ke isengan Rangga membuat Shanum membuka matanya.
__ADS_1
Kedua mata mereka saling beradu, Shanum mengedipkan mata indahnya dengan cepat.
Cup, wangi nafas beraroma khas pria mendarat di pelipisnya.
"Kenapa kau belum tidur"tanya Shanum dengan suara berat namun terdengar sexy di telinga Rangga.
"Hu um, aku ingin memandang wajah bidadariku dengan puas sebelum tidur"jawab Rangga kini berada di atas dan mengukung tubuh Shanum.
Cup
Cup
Cup
Shanum memejamkan matanya saat Rangga menghujaninya ciuman bertubi-tubi ke seluruh wajahnya.
"Emphh"Shanum tak dapat melepaskan diri dari kungkungan tubuh Rangga.
Shanum memandang Rangga dengan wajah memelas, tak bisa di bayangkan jika tubuhnya yang masih terasa remuk harus kembali menerima serangan dari Rangga yang kian menuntut.
"Sstt tenanglah, kali ini biar aku yang bekerja sayang"bisikan Rangga meremang kan bulu halus di tengkuknya.
Meski Shanum berucap tidak namun tubuhnya tak menolak saat Rangga kembali menghujaninya ciuman panas.
Dan akhirnya malam dingin pun berubah menjadi malam syahdu nan panas, di balik selimut tebal kedua tubuh polos itu kini telah bermandi peluh, bahkan suara erangan halus berkali-kali lolos dari bibir Shanum yang tak kuasa menahan kenikmatan yang Rangga berikan.
Kedua tubuh yang masih menyatu itu pun meregang kuat saat pelepasan untuk kesekian kali, nafas keduanya saling berlomba berpacu kencang menikmati surga dunia yang tak akan ada habisnya untuk mereka nikmati.
Erangan halus keluar dari mulut Rangga saat Arjuna nya menyemburkan karva hangat dan memenuhi rahim Shanum.
"Bekerjalah dengan baik, dan tunjukan ke perkasaanmu, ayah menanti kedatanganmu anakku"bisik Rangga lembut sambil mengusap perut datar Shanum.
Cup.
Rangga tersenyum memandang perut yang masih rata milik sang istri.
Rasa puas dan bahagia saat melihat Shanum tampak terkulai lemas tak berdaya.
Entah sudah berapa kali Rangga menyerangnya dan membuatnya lunglai tak bertenaga, seakan tak ada esok hari bagi Rangga dan tak ada kata puas dalam kamus Arjunannya.
Shanum memejamkan matanya rapat, entah lah apakah esok hari ia mampu bangun dari tempat tidurnya.
"Sayang kau sudah tidur?"tanya Rangga dengan bibir menempel di pipi Shanum.
__ADS_1
Hening karena Shanum enggan menjawabnya karena Rangga pasti akan kembali menyerangnya jika mengetahui ia masih terjaga.
"Rupanya kau sudah tidur sayang, baiklah ayo kita tidur"ucap Rangga lalu menjatuhkan kepalanya di atas dua benda kenyal yang kini menjadi mainan favoritnya.