
Semua para tamu undangan terlihat duduk tenang menunggu kedatangan petugas KUA .
Sementara Shanum masih berada di kamarnya karena miss Mery masih memoles wajahnya.
*
*
Joy duduk termenung dalam salah satu ruangan pribadi di salah satu restoran miliknya.
Kini hatinya begitu hampa, pesan yang baru di bukanya siang tadi, membuat duniannya seakan runtuh.
Salah satu anak buahnya melihat Shanum berada di butik ternama yang merupakan salah satu sahabat Maharani sang ibu, poto Shanum dengan gaun pernikahan yang cantik melekat di tubuhnya, di ambil saat fitting dan kemungkinan besar itu adalah gaun yang di persiapkan untuk pernikahannya, untuk meyakinkan berita itu, Joy pun memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa CCTV di sudut jalan yang mengarah ke butik itu, dan benar saja, Shanum datang bersama seorang pria yang saat itu bersamannya makan di restoran milik Joy.
Pria yang di anggapnya sebagai asisten Shanum ternyata adalah calon suaminya.
Dan setelah menginterogasi sang karyawan butik akhirnya Joy mendapat informasi bahwa malam ini lah pernikahan akan di langsungkan.
"Tuan,mau kemana Tuan?" tanya salah satu pelayan yang melihat kepergian Joy dengan tergesa-gesa dengan mata merah dan rahang mengembung tanda emosinya sedang tidak baik-baik saja.
Joy sama sekali tak menjawab pertanyaan karyawannya, bahkan langkahnya di percepat menuju mobil yang terparkir di sudut parkiran restoran.
Tanpa menghiraukan teriakan dan panggilan para karyawannya yang kini menjadi cemas karena melihat Joy mengendarai mobil dengan emosi tinggi.
Dengan kecepatan penuh Joy melajukan kereta besinya menuju ke mansion Hardy.
Meski mata Joy lurus ke arah jalan di depannya, namun hati dan pikiran berada di tempat lain.
Sebuah gerbang kokoh kini berada beberapa meter di depannya, Joy menghentikan laju mobilnya di bawah deretan pohon yang berjejer di pinggir jalan.
Matanya tajam mengarah ke gerbang yang tertutup rapat seakan ingin menembus pandangannya.
Joy memandang gerbang yang di jaga beberapa orang bertubuh kekar.
Dari dalam mobilnya Joy mengamati keadaan sekeliling.
Bangunan kokoh di kelilingi tembok tinggi membuat Joy tak mungkin mampu memasuki mansion.
__ADS_1
Di tengah otaknya yang sedang berfikir keras, terlihat sebuah mobil box terbuka dari arah belakang memperlambat lajunya, penjaga tampak membuka gerbang setelah sang sopir menunjukan kertas padanya.
Di sebuah keranjang kosong yang terletak di antara tumpukan keranjang berisi buah dan sayuran kini Joy berada.
Tubuhnya sedikit tersamar karena cuaca malam yang tanpa bulan dan bintang, hanya lampu taman yang sedikit mengarah pada mobil box terbuka tersebut.
Suasana di dalam mansion tampak sibuk, karena kegiatan inti berpusat di salah satu ruang utama yang terletak agak jauh dari parkiran.
Joy dengan seksama memperhatikan situasi, sementara sopir box dengan dua rekannya telah berada di dalam mansion membawa box pesanan sang penghuni mansion, Joy yang mendaoat kesemoatan pun dengan cepat berpindah dari tempat persembunyiannya.
Dengan cekatan para chef yang bertugas pun mengambil beberapa buah box yang berisi buah segar.
"Kenapa datangnya telat pak?"tanya salah satu pelayan pada sang supir.
"Ehm, maaf,tadi ada kendala ban kami bocor jadi harus mengganti dahulu"jawab sopir dengan membungkukan kepalanya.
Pelayan hanya mencebik kesal, waktu yang hanya tersisa beberapa menit lagi akhirnya mereka segera mengeksekusi buah segar itu menjadi potongan-potongan kecil dan cantik.
Joy masih memperhatikan dari tempat persembunyiannya.
Salah satu pelayan tergopoh menyambut sang pemilik mobil.
"Bagaiman asisten Han, apa pak penghulunya sudah datang" tanya pelayan dengan wajah cemas.
Pria paruh baya yang bertubuh tegap itu hanya menggeleng lesu.
"Kita tunggu sepuluh menit lagi"ujarnya lalu melangkah ke dalam mansion.
Sementara di dalam mansion suasana terlihat sedikit tegang, petugas dari KUA yang akan menikahkan Shanum dan Rangga belum juga terlihat, sementara waktu terus berjalan.
Rangga yang berada di barisan paling depan pun terlihat gelisah entah sudah beberapa kali matanya tertuju pada jam di dinding.
Hardy berusaha menenangkan hatinya, entah kenapa hatinya merasa begitu resah, persiapan yang sudah tersusun secara matang ternyata tak sesuai harapannya.
Tiga puluh menit sudah berlalu dari waktu yang telah di tentukan,Mery pun mencebikan bibirnya beberapa kali sambil menatap jam tangan mewahnya.
Meski riasan Shanum menggunakan make up berkualitas tinggi dan tak akan luntur, namun Mery terlihat beberapa kali memeriksa riasannya di wajah Shanum.
__ADS_1
Shanum yang tampak jengah pun berusaha menghindar, membuat Mery makin gemas.
"Ish diam donk say, bulu mata yei mau lepas, sini eike benerin dulu"ucap Merry yang selalu merasa riasannya masih kurang cetar membahana seantero maya pada.
Shanum yang tak terbiasa bermake up tebal pun tampak risih dengan bulu mata yang terasa mengganggu pandangannya.
"Udah copot aja miss, risih aku tuh, perasaan jadi berat dan ngantuk"bisik Shanum berharap Wanita berbahu tegap itu melepas bulu matanya.
"No sayang, kamu tahu, hari ini adalah hari istimewa dan hanya sekali seumur hidup yey, jadi harus tampil maksimal donk say"ujar Mery sambil membetulkan bulu mata Shanum.
"Ehm miss aku mau ke kamar mandi dulu, kebelet nih"bisik Shanum, lalu melangkah menuju kamar mandi yang berada di sebelah ruang utama, karena untuk ke kamar mandinya harus naik ke lantai atas dan itu membutuhkan waktu lebih lama.
"Heii pelankan langkahmu say, rusak ntar gaunnya"Mery dengan langkah cepat menyusul Shanum lalu memegang gaun yang menjuntai ke lantai.
Shanum pun memperlambat jalannya, dengan mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Sementara sepasang mata tampak memperhatikan tingkah sang pengantin wanita dengan senyum tersungging di wajahnya.
"Kenapa kau begitu menggemaskan, apakah aku harus membunuh rasa cinta yang kini sudah terlalu dalam berakar di hatiku"gumam batin Joy dengah hati perih.
Shanum terlihat begitu cantik dengan balutan gaun kebaya panjang berwarna putih, rambut yang bersanggul elegan membuat lehernya yang putih tampak semakin jenjang.
Joy masih terpaku di tempat bersembunyiannya.
Namun satu bayangan dengan gerakan cepat, melintas di sebelah mobil box.
Meski hanya dengan bantuan sinar temaram lampu taman namun Joy dapat melihat bahwa bayangan itu adalah sosok seorang pria dengan tubuh tegap dan cadar hitam menutup seluruh wajahnya.
Pandangan Joy kini beralih pada sosok yang tengah bersembunyi.
Jika di lihat dari arah datangnya bayangan itu, sudah di pastikan mobil box terbuka lah yang membawa sosok bercadar itu.
Kedua alis Joy mengerut saat melihat sosok hitam tersebut berjalan dengan berjingkat ke arah tumpukan kardus di depan dapur mansion.
Pandangan Joy pun mengikuti bayangan pria bercadar, kini perhatiannya terpecah, antara tetap melihat Shanum atau mengintai pria mencurigakan tersebut.
Entah apa yang akan di lakukan pria itu, dan untuk mengetahui apa yang di tuju maka Joy pun terpaksa mengalihkan perhatiannya, kini dengan gerakan perlahan dan penuh hati-hati Joy keluar dari box tempat persembunyiannya mendekati tamu tak di undang itu bersembunyi.
__ADS_1