
Setelah makan bersama, Hardy memanggil Shanum dan Rangga untuk berkumpul di ruang tengah.
Asisten Harun pun rupanya ikut bergabung dengan mereka, atas perintah Hardy.
Beberapa berkas yang berisi data saham dan harta yang menjadi hak Rangga sudah berada di atas meja.
Dengan tangan gemetar Rangga melihat berkas yang Hardy tunjukan.
"Setelah kau lihat data itu, ku harap kau tidak merasa berkecil hati jika aku mengangkatmu menjadi wakil CEO, selain saham yang kau miliki, kecerdasanmu pun merupakan modal utama yang di butuhkan oleh seorang pemimpin"ujar Hardy bijak.
"Jika kau ragu pada ucapanku, cobalah kau tanyakan Harun, ia tak akan menyembunyikan cela setitikpun".
Lanjutnya lagi.
Harun yang tadi bersikap tenang, tentu saja berubah panik.
Bagaimana mungkin Hardy meminta pendapatnya tentang keputusan besar yang Hardy pilih.
Rangga menatap asisten Harun dengan pandangan ia buat selembut mungkin agar Harun tidak merasa terintimidasi olehnya.
Harun celingak-celinguk salah tingkah.
"Bagaimana menurut asisten Harun, apakah aku pantas jika menjabat sebagai wakil CEO?"tanya Rangga dengan sungguh-sungguh.
Untuk sesaat suasana menjadi hening.
"Kalau menurut saya, tuan Rangga sangat pantas mendapat jabatan tersebut"ucapan Harun tampak terbata dan pelan.
"Benarkah?"Rangga bertanya tak percaya.
Harun mengangguk pasti, berharap tak ada lagi pertanyaan yang di lontarkan padanya.
"Ehm, apa yang membuat asisten Harun mempercayai ku?"Rangga kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Harun mencelos, karena kali ini ternyata ia masih belum aman.
Harun tampak gugup.
"Karena..."
"Karena apa Run, katakan agar menantuku ini tak ada lagi keraguan di hatinya"Hardy menimpali.
"Karena memang tuan Rangga sangat cerdas dan selalu dapat mengatasi situasi dengan kepala dingin"ucapan Harun kali ini terdengar lancar, membuat Hardy tersenyum puas.
Hardy meng angguk-anggukan kepalanya, hatinya semakin mantap dengan keputuasn yang di ambilnya.
"Baiklah, tak ada lagi yang harus di pertimbangkan, kau harus siap, dua hari lagi akan di laksanakan pengangkatan jabatanmu, juga sekaligus peresmian pernikahan kalian, sudah waktunya mereka tahu siapa sebenarnya suami CEO mereka".
Ujar Hardy panjang kali lebar.
"Sekarang istirahatlah kalian, kau juga Sha, jaga kesehatanmu jangan sampai karena suasana hati dan pikiranmu terganggu bisa mempengaruhi pula kesehatan tubuhmu"pesan Hardy tegas.
__ADS_1
"Baik ayah".
"Ayah"tiba-tiba Rangga memanggil ayah mertuanya.
"Aku mau ijin mau ajak Shanum keluar"Rangga menatap sang ayah mertua dengan harap-harap cemas.
Hardy tersenyum.
"Pergilah, dan hati-hati"pesan Hardy lembut.
"Terima kasih ayah"senyum Rangga terbit dengan perasaan lega, meski mereka sudah menikah dan tinggal bersama namun Rangga merasa segan jika pergi tanpa pamit dahulu pada ayah mertuanya.
Rangga pun menuntun Shanum ke dalam kamar untuk bersiap, sementara Shanum tampak bingung karena Rangga tidak mengatakan bahwa mereka akan pergi ke luar.
"Memangnya kita mau kemana sayang?"tanya Shanum saat sudah berada di dalam kamar.
Rangga tersenyum penuh arti.
"Malam ini kita kencan"bisik Rangga di telinga Shanum.
"Kencan?"Shanum terlihat bingung dengan apa yang di katakan suaminya.
"Iya kita kencan, bukankah selama ini kita tidak pernah merasakan kencan?"
Shanum menggeleng perlahan, memang selama ini mereka tidak pernah merasakan apa yang pasangan lain lakukan yaitu pergi berdua menikmati masa pacaran.
Mereka tidak pernah menikmati pergi berdua dengan bebas karena identitas Shanum saat itu harus selalu tersembunyi.
Shanum tersenyum gembira saat baru menyadari apa yang ada dalam pikiran suaminya.
Dengan cepat ia pun bergegas menuju lemari pakaian untuk berganti baju.
Rangga kini sibuk dengan ponsel mencari tempat menarik yang menjadi tujuan pasangan muda saat kencan.
"Sayang bagaimana penampilanku"Shanum muncul dengan gaun panjang sebatas mata kaki dengan potongan leher terbuka yang memperlihatkan kulit putih mulus lehernya.
"Sayang, kita mau kencan, bukan pergi ke pesta di gedung mewah"ucap Rangga membuat Shanum mencebikan bibirnya lalu kembali mencari baju lain di lemari besar miliknya.
Beberapa menit.
"Kalau ini?"tanya Shanum yang kini sudah mengganti bajunya dengan dres sebatas lutut dengan model lengan panjang, sementara rambuh hitamnya ia biarkan tergerai lurus.
Untuk kali ini belahan lehernya lebih tertutup hingga membuat Rangga tersenyum puas.
Kedua jempolnya terangkat.
"Sempurna"Shanum tersenyum simpul mendengar sanjungan Rangga.
Namun beberapa detik kemudian senyum itu lenyap dari bibir Rangga.
__ADS_1
"Kenapa?"kini Shanum yang di liputi tanda tanya.
Rangga menatao Shanum namun menggelengkan kepalanya.
"Kau terlalu cantik, tapi aku tak ingin membaginya dengan orang lain"ucapan Rangga dengan nada sungguh-sungguh.
Shanum menautkan kedua alisnya heran.
Rangga melangkah ke depan lemari Shanum yang masih terbuka.
Matanya memindai ke seluruh baju yang tergantung.
Matanya berbinar pada satu stel baju yang berwarna gelap.
Celana jeans tiga perempat dengan dengan atasan kaos putih polos.
Shanum membulatkan matanya dengan mata memandang tajam ke suaminya tak percaya.
Rangga tersenyum melihat wajah kesal Shanum yang protes.
Dengan pasti Rangga mengangguk cepat.
"Itu yang paling cocok untuk istriku yang cantik"ucap Rangga lembut lalu menuntun Shanum untuk mengganti baju yang di pakainya dengan baju yang di pilihnya.
Shanum menggeleng kesal dan ingin berontak.
"Ayolah sayang, cepatlah kau ganti bajunya, nanti acara kencan kita terlambat"ujar Rangga lembut sambil mengusap rambut Shanum.
Dengan langkah gontai Shanum melangkah ke kamar mandi, langkahnya di hentakan ke lantai hingga langkahnya terdengar berderap keras.
Rangga tersenyum gemas melihat tingkah lucu istri kecilnya.
Beberapa menit akhirnya Shanum keluar dengan celana jeans tiga per empat dan kaos putih polos seperti yang di pilihkan Rangga, namun Shanum menutup lagi tubuhnya dengan auter sebatas paha.
"Apa-apaan ini "ucap Rangga tak terima, jika tadi Rangga meminta Shanum mengganti bajunya karena tak terima melihat Shanum yang tampak begitu mempesona.
Tapi kini setelah mengganti baju yang ia pilih bahkan membuatnya semakin manis dan imut, apalagi dengan rambut yang ia kuncir ekor kuda dengan topi bulat menutupi sebagian wajahnya membuat Shanum terlihat seperti gadis imut yang masih sekolah.
"Apalagi, apa sebaiknya kita batalkan saja acara kencan kita malam ini"ucap Shanum kesal.
Rangga bernafas panjang, beginilah nasib memiliki istri yang cantik, meski di pakaikan baju model bebegih sawah pun masih terlihat begitu mempesona.
Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menggandeng tangan Shanum menuju ke pintu kamar.
"Kita berangkat sayang, kita jadi kencan, tapi jangan sampai kau lepaskan tanganmu dari genggamanku"ucapan Rangga bernada mengancam membuat Shanum mencebikan bibirnya.
Rangga tersenyum gemas dan mencubit pipi lembut sang istri.
π¦π¦π¦π¦π¦
__ADS_1
Maaf up lambat, badan lagi kurang vitππ