Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Ayah Absurd


__ADS_3

Rangga mencoba memejamkan matanya, berusaha menenangkan hatinya yang kesal.


Sementara Shanum masih tenang dengan tidur cantiknya.


Rangga menghela nafas panjang, jemari lentik sang istri berhias cincin permata perkawiannya tak membuat ia tampak terlihat sudah mempunyai seorang suami, hingga ada saja lelaki yang berniat hendak memilikinya.


Apa yang harus aku lakukan agar kau terlihat sudah bersuami.


Wajah cantik dengan kulit putih mulus tanpa noda, hidung mancung dengan bibir mungil merah alami, pria mana yang merasa tak tertarik jika menatapnya.


Tubuh yang ramping tentu saja membuatnya masih tampak seperti seorang gadis.


Cih seorang gadis, tapi aku lah yang sudah mendapatkan mahkotanya dan akulah yang setiap malam selalu memeluknya mencium, dan ...


Rangga menggelengkan kepalanya, membayangkan adegan panas yang selalu ia lakukan dengan Shanum begitu menggairahkan bahkan ******* dan erangan manja nya sudah menjadi nyanyian merdu yang akan bersenandung saat mereka melakukan aktifitas olah raga panas tiap malam.


Tangan Rangga perlahan menjulur ke wajah Shanum.


Telunjuknya menyapu permukaan wajah putih nan mulus di lengkapi puncak hidung yang tinggi bagai perosotan, gerakannya terhenti saat bibir mungil itu melenguh dengan tubuh menggeliat lembut.


Kenapa kau begitu menggemaskan, membuatku selalu ingin memakanmu, batin Rangga.


Cup.


Tak tahan akhirnya kecupan lembut ia daratkan di bibir sang istri.


Tak ingin membangunkan tidur Shanum, Rangga akhirnya ikut terlelap setelah puas melakukan aktifitas menyenangkan, yang membuat tubuh Shanum kini polos tanpa kain pada bagian atas.


Di tutupnya tubuh kecil yang semakin padat itu dengan selimut tebal.


Rangga melingkarkan tanganya di pinggang ramping Shanum.


Cuping hidungnya bergerak kembang kempis, di hirupnya aroma tubuh sang istri.


Aroma wangi yang memabukan otak dan jiwanya.

__ADS_1


Sebenarnya Shanum tak memakai parfum ataupun minyak wangi di tubuhnya, hanya sabun mandi dan wangi Shampo yang ia pakai.


Tapi entah mengapa indra penciuman Rangga merasa begitu nyaman saat menghirupnya, bahkan wangi aromateraphy seakan kalah oleh aroma khas tubuh Shanum.


Getaran alarm membangunkan Shanum, di raihnya ponsel yang berasa di atas headboard.


"Aaakhh" pekikan suara Shanum membuat Rangga terhenyak dari tidur dan membuka matanya.


"Ada apa sayang?" tanya Rangga dengan berat.


"Apa yang kau lakukan pada tubuhku, mana baju tidurku?" tanya Shanum panik dengan kedua tangan menutupi dada mulusnya.


Rangga tersenyum dengan tatapan tak beralih dari dada Shanum yang sebagian tersembul karena tak cukup tangan mungilnya menutupi seluruh asetnya yang kini semakin bervolume.


"Maaf aku lupa."Jawaban polos dengan wajah tanpa dosa membuat Shanum hanya bisa menghela nafas berat.


Shanum mengedarkan pandangannya ke seluruh ranjang, di lihatnya kimono tidur miliknya tergeletak di lantai kamar.


Shanum melangkah ke kamar mandi setelah memakai kimono dengan cepat, tanpa sempat memakai kain penutup dadanya kembali.


Panggilan alam yang sudah terasa di ujung membuatnya harus bergegas menuntaskannya.


Di tariknya selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.


Ceklek.


Shanum menatap jam dinding, masih terlalu pagi untuk mandi.


Bulu halus di tubuhnya meremang dan punggungnya pun terasa dingin bahkan setelah ia memakai kimononya.


Apa karena ulah sang suami yang semalam membiarkan tubuhnya polos tanpa kain penutub, pikir Shanum lalu melangkah kembali ke pembaringan.


Tidur sebentar lagi mungkin akan membuat tubuhnya membaik, batin Shanum lagi.


Lebih dari tiga puluh menit Shanum belum juga dapat memejamkan matanya.

__ADS_1


Meski mata terpejam tapi tangan Rangga terus saja memainkan puncak dada nya, membangkitkan gelenyar tubuhnya dan kini telah menyala.


Rangga tersenyum puas saat ******* lembut lolos dari bibir mungil sang istri.


Berhasil juga tak-tik ku, batin Rangga dengan senyum licik.


Erangan halus kini semakin terdengar, bahkan tubuh Shanum menggelinjang bagai belut tersiram garam karena tak tahan dengan sentuhan, remasan dan gerakan memilin yang tangan Rangga lakuakn di bagian atas tubuhnya.


Tangan dan bibir Rangga kini sibuk memainkan peran secara bergantian.


Dan Shanum pun ikut terhanyut dengan akal jitu sang suami.


Pagi yang dingin akhirnya terlewati dengan tubuh keduanya yang bermandi peluh.


Erangan panjang saling bersahutan mengakhiri permainan panjang setelah Rangga berhasil menuntaskan permainanya.


Senyum puas tersungging dari bibi Rangga.


Di kecupnya bibir mungil sang istri lalu sentuhan bibirnya berhenti di perut Shanum yang rata.


Di usapnya dengan lembut kulit halus permukaannya.


Sayang segera hadirlah, dan lindungi ibumu, agar tak ada lagi yang berani mendekatinya.


Shanum menggeliat perlahan, tubuh yang terasa remuk, bahkan Rangga kini asik mengusap-usap perutnya dengan bibir berkomat-kamit entah apa yang ia rapalkan.


"Ish sayang kau menindih tubuhku, aku bisa mati karena sesak nafas."


Shanum mendorong Rangga agar menyingkirkan tubuhnya.


"Sstt bentar lagi sayang," Rangga menahan tubuh Shanum, kali ini hanya dengan satu tangannya.


Shanum tersenyum gemas saat sang suami masih berkomat-kamit bagai sedang bercengkerama dengan perutnya.


"Sayang apa yang kau lakukan dengan perutku?" Shanum menggeliatkan tubuhnya karena rasa geli yang oerutnya rasakan.

__ADS_1


"Sstt, biarkan seperti ini dulu sebentar, aku sedang berbicara dengan jagoankua." Rangga berbisik dengan telunjuk di depan mulutnya.


"Semoga kau kelak memaklumi tingkah absurd ayahmu nak."


__ADS_2