Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Pemilik Balon


__ADS_3

Wajah pucatnya masih terlihat jelas, nyawa David seakan tinggal separuh.


Untung saja tugasnya mensurvei di kantor cabang telah selesai saat Harun memberikan informasi bahwa bosnya pingsang mendadak saat sedang meeting dengan pihak Testafood.


Rasa bersalah yang kini David rasakan.


Tiga puluh menit sudah Rangga terbaring pingsan, meski dokter mengatakan jika perutnya yang kosong di tambah tubuhnya yang lelah hingga menyebabkan ia jatuh pingsan, namun rasa bersalah David masih bercokol di dadanya.


"Euuhhhh" lenguhan lirih keluar dari mulut Rangga, matanya mengerjap, ruangan yang berwarna putih dan aroma obat yang tercium sudah di pastikan ia saat ini berada di ruangan kesehatan di kantornya.


"Pak, sudah sadar?" tanya dokter yang masih setia menunggunya.


Rangga memandang pria berusia lanjut dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Dokter, berapa lama saya di sini dok?"


"Lebih dari tiga puluh menit pak."


Dokter kembali meng ukur suhu tubuh dan tensi darah Rangga, perut dan semua organ vital di cek dengan seksama.


Karena tak ada lagi keluhan dokter berkaca mata itu pun pamit meninggalkan ruangan.


Rangga bangun dari ranjangnya, di tatapnya David yang masih tertunduk lesu di kursi tunggal yang berada di ruangan itu.


Senyum masam terbit di bibir Rangga.


Setelah membuatnya terkapar di ruangan bersama wanita separuh itu, kini David masih berani bertatap muka dengannya.


"Kenapa kau di sini Vid, bukannya kau sedang di kantor cabang heum? Apa kau meninggalkan sesuatu?" Rangga bertanya dengan nada sindiran yang menohok.


David mencelos.


Aku meninggalkan masalah untukmu bos.


Rangga melangkah pergi dari ruangan.


Ceklek.


Tepat di tengah pintu Rangga menghentikan langkahnya.


Meremang bulu halus di tengkuknya saat senyuman yang lebih mirip seringai srigala yang siap menerkam mangsanya, sudah menyambutnya keluar dari ruangan.


"Pak Rangga sudah siuman? bagaimana perut bapak, apa masih mual pak" Linda dengan antusias menyongsong Rangga.


Rangga tetap diam, untung satu gelas jus buah sudah mengisi perutnya hingga ia masih bisa menguasai diri saat keringat dingin mulai keluar dari pori kulitnya.


Tak ingin memperparah keadaannya, Rangga bergegas melangkah pergi tanpa menghiraukan Linda yang masih berusaha mengejar dan memanggilnya.


"Maaf bu Linda, biar saya yang akan melayani ibu, pak Rangga harus istirahat dulu" David menusul dan menawarkan diri sebagai bayaran atas rasa sesal yang menggelayuti dadanya.

__ADS_1


Linda akhirnya menyetujui permintaan David untuk menemuinya di ruang meeting.


Dengan penuh semangat Linda menjelaskan tentang kesalahan data yang telah di lakukan oleh asistennya, dan ia pun menyerahkan data asli yang telah di revisi pada David.


Dengan cermat David meneliti sedetail mungkin.


Berharap ada lagi kesalahan yang bisa di temuinya di data tersebut untuk di jadikan alasan untuk menolak ajuan kerja sama Testafood.


Namun David hanya bisa tersenyum getir, semua data yang tertulis di berkas adalah sesuai dengan kenyataan.


Glekk.


"Bagaimana pak David?" tanya Linda masih penasaran.


David hanya bisa mengutuk dirinya sendiri, sepanjang Linda yang menjelaskan tentang perusahannya, pandangan David beberapa kali melirik ke arah dada wanita itu.


Seorang gadis yang mempunyai dada seukuran ibu yang sedang menyusui, sungguh membuat otak David traveling jauh.


"Pak, pak David? Bagaimana penjelasan saya" Linda semakin memajukan badannya.


Sementara tatapan David dengan tak tahu dirinya terus menatap tonjolan besar yang semakin dekat ke arahnya.


"Ah i iya bu, saya sudah memeriksa semua, dan data yang ibu Linda bawa sudah sesuai dengan lapangan di perusahaan anda."


Fiuuuhhh, semakin lama berada dekat dengan pemilik dua balon besar ini semakin menyiksa batin, rutuk David.


Linda meninggakan ruangan dengan langkah yang gemulai.


Tatapan para karyawan yang berpapasan dengannya seakan terhipnotis dengan irama gerakan tubuhnya yang bergoyang seirama dengan langkah kakinya.


Linda adalah wanita yang penuh percaya diri, tatapan para lelaki seakan sudah biasa ia dapati, bahkan dengan santai ia memamerkan senyum manis menggodanya.


David melangkah dengan perasaan lega, akhirnya wanita pemilik balon sudah pergi, sekarang tinggal dia yang harus memohon maaf pada bosnya.


Karena telah tega meninggalkannya berdua dengan Linda.


Beberapa menit lagi pukul empat sore, dan saatnya para karyawan untuk pulang.


David mencari Rangga di ruangannya namun ternyata kosong, di pantry pun tetap tak ada, biasanya Rangga akan membuat minuman sendiri sesuai seleranya jika ia tak ada.


Apa mungkin bos sudah pulang, tak biasanya bos pulang tanpa pamit padanya, David membatin.


Sementara Rangga sudah berada di ruang lift, hari ini ia ingin pulang secepatnya dan mandi berendam di bathub agar tubuh dan otaknya rilex.


Ting.


Pintu lift terbuka, langkahnya bergegas ke ruang parkir, berada di lingkungan perusahaan bagi Rangga saat ini sudah tak aman lagi, Linda bagai memiliki ilmu muncul di suatu tempat secara tiba-tiba.


Tak ingin kejadian kemarin terulang, Rangga selalu meningkatkan kewaspadaan.

__ADS_1


"Pak Rangga tunggu.."


Rangga menoleh ke asal suara.


Ya salam, kenapa Kau siksa hambaMu dengan mengirimkan ondel-ondel seperti ini ya Tuhan.


Dan benar saja, kini Linda tengah berjalan mendekat ke arahnya.


"Kebetulan pak Rangga mau pulang, boleh saya numpang pak?" Linda dengan percaya diri meminta persetujuan untuk ikut satu mobil dengan Rangga.


Glek.


"Maaf bu Linda, apa bu Linda tidak membawa mobil?" tanya Rangga spontan.


"Ehm tidak pak mobil saya di bengkel, tadi pun saya berangkat di antar sopir pakai mobil asisten saya" jawab Linda lembut.


Rangga tak memiliki lagi cara untuk menolak perempuan itu, karena jalur mereka memang se arah.


"Ehm baiklah bu" ucap Rangga sedikit tertahan karena dalam hatinya sungguh tak ikhlas berada dekat dengannya.


Linda tersenyum puas.


Di sepanjang perjalanan Rangga hanya menjadi pendengar setia, hanya Linda yang tak henti memancing obrolan dengan berbagai cerita receh yang sedang viral di dunia maya.


Sesekali Rangga hanya menyahut singkat atau menimpali dengan anggukan.


Sengaja ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, agar segera berakhir deritanya.


"Ehm pak Rangga boleh pinjam ponsel anda? Ponsel saya lowbat, saya mau menghubungi orang buat jemput di gerbang depan."


Alasan logis yang Linda berikan membuat Rangga tak berkutik, ia pun merogoh ponsel di saku jasnya lalu menyerahkan pada Linda.


Tak lebih dari lima menit, Linda pun mengembalikannya kembali pada Rangga dengan senyum puas tersungging di bibirnya.


Binggo.


Dan hanya berjarak satu lemparan batu, Linda pun meminta Rangga menghentikan mobilnya.


"Terima kasih pak Rangga atas tumpangannya."


Linda membungkukan badannya dan merapihkan cardigan hitam yang di pakai.


Tentu saja cardigan berbahan lembut itu tak dapat menutupi volume dadanya yang tersembul menantang.


Rangga melirik sekilas dan menganggukan kepalanya.


Dari kaca spion samping, masih terlihat Linda melambai melepas kepergiannya.


Ish pait pait pait.

__ADS_1


Rangga mengibaskan tangannya menyapu jok mobil tempat Linda duduk.


__ADS_2