
Pesan othor, jaga kesehatan dan jangan bosan goyang jempolnya ya, like sama koment juga vote, sama kopi π π
Maaf kalau othor maruk, happy readingπππ
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Rangga menuju kantor menggunakan mobil milik Shanum, sebenarnya ayah Hardy sudah menyuruhnya untuk memakai mobil mana pun yang Rangga suka di garasi mansion.
Itulah orang kaya, ada empat kendaraan roda empat yang berjejer di garasi mansion, satu mobil yang biasa Hardy pakai, satu nya lagi mobil kesayangan Shanum, dan dua lagi hanya di pakai jika ada keperluan darurat, dan ada satu motor yang di pakai Shanum jika sedang tak ingin terjebak macet.
Shanum melambaikan tangan melepas keberangkatan Rangga.
Hari ini ia akan menghabiskan sisa cutinya dengan istirahat, agar tubuhnya yang sempat drop dapat segera kembali pulih.
Mata indah Shanum berubah ceria saat melihat ke arah ruangan tengah yang masih di penuhi dengan kado berbagai ukuran belum satu pun ia buka.
Langkahnya bergegas menuju dapur mansion, matanya menyisir dapur luas yang jarang ia masuki.
"Cari apa non?"tanya salah satu pelayan.
Shanum pun tersenyum girang, berbekal sebuah pisau dan gunting yang ia dapat dari pelayan di dapur mansion, Shanum menuju ke ruang tengah.
Sementara itu Rangga yang duduk di kursi kebesarannya tengah di landa stress tingkat tinggi, kepalanya seakan mau pecah, setumpuk berkas di meja nya sudah melambai-lambai untuk ia periksa, meminta bantuan asisten Harun rasanya tak mungkin.
Karena dia pun sibuk mewakili Shanum untuk menghadiri meeting di beberapa perusahaan kolega bisnis Shanum.
Mungkin aku butuh seorang asisten untuk membantuku, pikir Rangga.
Karena waktu yang hanya sedikit maka Rangga pun lebih memilih untuk memesan makanan lewat aplikasi untuk makan siangnya.
Hari telah beranjak sore, para karyawan sebagian besar telah pulang, hanya ada beberapa yang masih tetap di ruangannya menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan.
Jadwal audit memang membuat para petinggi Wijaya Corp harus bekerja lebih ekstra jika tak ingin posisi nyaman mereka tergantikan oleh karyawan lain yang memiliki hasil kinerja lebih baik.
Itu adalah konsekuensi yang di terapkan pada semua karyawan di Wijaya Corp.
Baik dari karyawan lapangan maupun bagi mereka yang sudah mempunyai posisi nyaman.
Semua bersaing dengan ketat.
Dan berbagai bonus menggiurkan telah di siapkan oleh pihak perusahaan demi kelancaran dan hasil yang tidak mengecewakan saat audit nanti.
"Huff" Rangga akhirnya dapat meregangkan otot tubuhnya.
Setelah membereskan semua berkas dan file di atas mejanya ia pun melangkah menuju area parkir perusahaan.
Pintu mansion terbuka, rasa penat yang tubuhnya rasakan kini seakan hilang setelah melihat wajah Shanum yang tengah menunggunya dengan senyuman manis.
Di peluknya erat tubuh ramping sang istri, sehari saja tak melihatnya, dada Rangga seakan sesak penuh dengan kerinduan.
__ADS_1
"Aaww"pekikan Shanum membuat Rangga mengurai pelukannya.
"He hee, maaf".
"Mau makan atau mandi dulu" tanya Shanum.
"Ehm badanku lengket dan gerah, aku tak ingin istri cantiku jadi ilfi" Rangga menoel puncak hidung Shanum.
Ceklek.
Rangga membulatkan matanya.
Kamarnya yang luas kini telah penuh dengan berbagai macam barang yang tentu saja membuat Rangga berdecak heran.
"Sayang, kau membeli barang sebanyak ini?".
Shanum hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bukan sayang, ini semua kado dadi para tamu kemarin" terang Shanum.
Rangga mengembuskan nafas lega" Lalu kenapa kau taruh di kamar kita sayang" tanya nya lagi.
"Di kamar tamu sudah penuh sayang, ini pun hanya beberapa kado yang sudah kupilih".
Rangga berjalan memutari gunungan berbagai barang ber merk yang memenuhi sudut kamar.
"Lalu barang sebanyak ini mau di simpan di mana sayang?".
Shanum menggeleng bingung.
"Ahaaa" senyum Shanum terbit saat mengingat satu tempat yang di rasa tepat untuk menaruhnya.
Rangga hanya mengangguk pasrah.
Rumah baru nya memang belum banyak ter isi perabotan.
Dari beberapa barang dari para tamu, ada juga berbagai hiasan dinding juga perabotan dan alat elektronik untuk kebutuhan rumah tangga.
Dari pada harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli yang baru maka gunakan apa yang sudah ada, pikir Shanum.
Rangga hanya mengangguk pasrah lalu melangkah menuju kamar mandi, namun langkahnya tertahan dan segera ia membalikkan tubuhnya.
Tiba-tiba hatinya tergelitik dengan rasa penasaran pada pemberian dari seseorang.
Pandangannya menyisir semua benda yang berada di sudut kamar.
"Apa yang kau cari sayang?" tanya Shanum.
Namun Rangga tak menjawab hanya tangannya kini sibuk memindahkan tumpukan dan memeriksa satu persatu benda yang menurutnya paling mahal dan menarik.
__ADS_1
Hampir satu jam Rangga mencari barang yang mencurigakan, namun tak ada yang aneh di matanya.
Rangga melangkah ke kamar mandi, tak ingin rasa penasarannya membuat harga dirinya hilang.
Bagaimana mungkin ia mencurigai Shanum telah menyimpan hadiah dari Daren yang pastinya istimewa.
Setelah memakai baju tidurnya, Rangga menyusul Shanum yang sudah bersiap di ruang makan.
Indra penciuman Rangga bergerak kembang- kempis, aroma cake yang begitu harum semerbak menyebar ke seluruh ruangan.
Keduanya pun menikmati cake lembut yang beraroma khas hingga perut Rangga terasa begah.
"Sayang aku ngantuk, aku tak bisa lagi menahan rasa kantukku"ujar Shanum dengan mata yang memang sudah tampak sayu.
"Heum tidurlah dulu, ada sedikit lagi pekerjaan yang harus ku selesaikan" ucap Rangga meraih kepala Shanum lalu mencium puncak kepala sang istri dengan lembut.
Shanum melangkah dengan gontai menuju lantai atas kamarnya.
Rangga lalu membersihkan tangannya dengan sabun agar aroma cake itu tak tertinggal.
Tunggu beberapa menit lagi pasti dia sudah terlelap, batin Rangga dengan satu sudut bibirnya naik keatas.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
"Semoga perhitunganku tepat" Rangga bermonolog pelan sambil melangkah ke kamarnya di lantai atas.
Ceklek.
Senyum Smirk Rangga terbit.
Tubuh yang terbaring di ranjang dengan selimut tebal menutup sebagian tubuhnya, nafasnya pun sudah teratur.
"Ehm hmm" suara batuk tertahan, sengaja Rangga lakukan di dekat telinga Shanum.
Shanum tak bergerak.
Aman, pikir Rangga.
Ceklek.
Setelah menyikat gigi Rangga melangkah menuju ranjang, namun tatapannya kini kembali beralih pada sudut kamar.
Perlahan langkahnya ia ayunkan, rasa penasaran yang masih menggelitik hatinya agar meneruskan pencariannya yang gagal tadi.
Apa sebenarnya yang telah pria itu berikan sebagai hadiah untuk istriku.
__ADS_1