Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Mantan Rival


__ADS_3

"Sah."


"Sah."


Akhirnya pengucapan ijab kabul secara lantang dengan satu tarikan nafas selesai dilakukan oleh David.


Semua tamu undangan dan para pelayan mansion mengucap syukur setelah petugas KUA memanjatkan do'a.


Lefrant tak kuasa meneteskan air mata saat sang adik keluar dari ruang kamar tamu untuk bersalaman dengan semua tamu.


Dengan kebaya putih sederhana juga riasan yang tak terlalu mencolok namun terkesan anggun dan elegan membuat Linda terlihat mempesona.


Senyumnya mengembang tipis saat mencium punggung tangan David yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Sementara pandangan sebagian tamu tertuju pada pasangan pengantin namun ada sepasang mata yang ternyata fokus pada wanita sang pendamping pengantin.


Dengan dress panjang berwarna nude dan pita di pinggangnya membuat perut buncit Shanum sedikit tersamarkan, membuat penampilannya begitu manis dan mempesona.


Rambut hitam sebatas bahu, memperlihatkan leher jenjangnya membuat sepasang nata tajam tersebut menelan saliva yang terasa pahit.


Shanum sungguh terlihat semakin manis dan cantik dengan potongan rambut sebahu tersebut


Kedatangannya yang terlambat membuat sebagian para tamu tak menyadari keberadaannya.


Namun Daren tak ambil pusing dengan orang lain, ia datang menghadiri pernikahan adik sahabatnya karena ada tujuan lain.


Ia ingin mengobati rasa rindunya, rindu pada wanita yang tak dapat di milikinya.


Untuk saat ini yang dapat ia lakukan hanyalah memandang dari kejauhan, itu pun sudah membuat hatinya bahagia, dan rasa rindunya sedikit terobati.


Daren tak melepas pandangannya sedetikpun dari Shanum, tatapannya tajam penuh rasa kerinduan.


Upacara berakhir dengan khidmat, petugas KUA pun segera pamit setelah sebelumnya menikmati hidangan makan malam yang di siapkan para pelayan mansion.


Jamuan serba lezat dan menggugah selera, sudah di persiapan para koki mansion.


Sementara Daren hanya mengambil se gelas minuman dingin untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Daren? ternyata memang benar ini kau" Hardy datang mendekat ke arah Daren yang sedang menyendiri di ujung ruangan.


"Iya Om, saya datang karena Lefrant mengundang saya untuk menghadiri pernikahan adiknya."


"Oh kau ternyata bersahabat dengan Lefrant?"


"Iya om, kami bersahabat sejak di bangku kuliah."


"Bagaimaan kabar Ayahmu?"


"Baik Om, sekarang sedang ke xx untuk menghadiri pertemuan rutin dengan sahabat-sahabatnya."


"Oiya sampaikan salam ku nanti untuk Ayah mu Ren."


"Baik Om."

__ADS_1


Daren mengangguk hormat, dan niatnya untuk berpamitan pada Lefrant ia urungkan, langkahnya tiba-tiba terhenti, badannya kaku.


Beberapa langkah di depannya Shanum tengah berdiri mematung memandang ke arahnya.


Mata indah itu sedang menatapnya tajam, mata yang begitu ia rindukan, ingin rasanya Daren berlari dan memeluknya saat itu juga.


Memeluk dan mendekapnya dengan erat, ahh andai saja ia bisa memutar kembali waktu, saat di mana ia pertama kali bertemu dengannya, di saat ia yakin Shanum belum bertemu dengan Rangga.


Ia baru menyadari perasannya pada Shanum yang ternyata telah terlambat, di hatinya sudah ada nama Rangga.


Sungguh sesak dada Daren saat itu, hancur berkeping-keping hatinya.


"Kak Daren?" satu suara yang amat ia rindukan.


"A i iya Sha, apa kabarmu?" ucap Daren gugup, lalu menyalami Shanum.


"Baik kak, apa Kak Daren datang dengan Om Darmawan?"


Daren menggeleng pelan.


"Tidak, aku datang sendiri atas undangan Lefrant, dia sahabatku."


"Oh.."


Shabum ber oh ria dengan wajah yang begitu menggemaskan di mata Daren.


"Maaf Kak, aku pergi dulu, Ayah sudah menunggu di mobil."


"A i iya Sha" berat hari Daren untuk melepas wanita itu pergi, suara hatinya menyuruhnya berlari mengejar, namun otaknya berfikir jika itu adalah salah.


Matanya mengedar ke seluruh ruangan, di mana Rangga, kenapa Shanum sendiri, pikirnya.


Sementara itu mansion yang mulai sepi karena para tamu sudah pulang, tinggal dua kembar Danu dan Dika serta Rangga.


Rupanya Rangga sengaja pulang bersama si kembar Danu dan Dika.


Sementara Linda sudah terlebih dahulu ke kamarnya di lantai atas.


Kini ruangan itu hanya tinggal para lelaki yang masih duduk santai.


Lefrant mendekati Daren, keduanya duduk di dekat jendela yang menghadap ke taman dan sedikit ber jarak agak jauh dari yang lain.


"Bagaimana bro, sudah tenang kan Elu, adik satu-satunya sudah mempunyai seseorang yang akan menggantikan mu untuk menjaganya."


Lefrant menghela nafas panjang.


"Ya, aku hanya bisa berharap mereka akan hidup bahagia" jawab Lefrant berat.


"Sorry bro, gue datang terlambat."


"It's okay" Lefrant menepuk pundak Daren.


Ia pun sebenarnya paham jika kedatangan Daren ke mansion bukan hanya ingin menghadiri pernikahan Linda, namun ada satu sosok yang amat di rindukannya dan hingga kini masih menguasai hatinya.

__ADS_1


Lefrant memindai ruangan mencari keberadaan wanita cantik pemimpin Wijaya Corp.


Daren tersenyum masam, mengetahui apa di benak sahabatnya itu.


"Dia sudah balik" ucapnya singkat.


Lefrant menaikan alisnya.


"Balik? Sama siapa?" tanyanya heran karena di lihatnya Rangga masih bersama adik iparnya.


"Bareng sama Ayahnya" ucap Daren lalu menyalakan sebatang rokok yang di simpan di saku jas nya.


"Hei hei, sejak kapan Elu balik lagi sama si pembuat penyakit itu" tanya Lefrant terkejut, ia sangat tahu gaya hidup Daren yang begitu menjaga kesehatan tubuhnya.


Daren tersenyum masam, memang sejak hatinya hancur berkeping-keping karena Shanum, hanya rokok lah temannya di kala sendiri.


Kepulan asap putih pekat keluar dari hidung dan mulut Daren.


Bahkan bola-bola asap kecil dengan bentuk sempurna keluar dari mulutnya.


"Whoaa, rupanya sekarang kau sudah ahli" Lefrant tertawa kecil.


Begitu hancurkah hati sahabatnya itu hingga ia kini merasa tak perduli lagi dengan tubuhnya, batin Lefrant miris.


"Lu ada acara besok weekend" tanya Lefrant.


"Hmm tidak."


"Oke gue jemput Elu sabtu sore?"


"Kemana?"


"Ah nanti Lu bakal tahu."


Lefrant ingin menikmati kebersamaan dengan sahabatnya, ia tahu hati Daren masih terluka dan ia ingin menghibur sahabatnya itu.


Sementara itu Rangga, Danu dan Dika pun sudah menyudahi obrolan mereka.


"Bro gue pamit, udah malam, Lu juga jangan buat bini Lu lama nunggu di kamar" ucap Rangga santai.


Mereka saling bersalaman pamit.


"Kakak ipar Lu mana Vid?" tanya Rangga yang tak menjumpai Lefrant di ruang tengah mansion.


Rangga melihat ke arah yang David tunjuk.


"Daren" ucapnya lirih.


Sejak kapan Auditor itu sudah berada di ruangan ini, dan apa hubungannya dengan Lefrant, lalu apakah dia juga berjumpa dengan Shanum?.


Benak Rangga di hantui banyak pertanyaan, apakah pria itu sempat bertemu tatap dengan istrinya.


Dan hal itu membuat dadanya berdenyut karena kesal, masih ingat saat di hari pernikahan mereka ternyata Daren berniat hendak melamar Shanum.

__ADS_1


Rangga melangkah mendekati Lefrant dan mantan rivalnya itu, begitupun Danu dan Dika yang mengikutinya di belakang.


Dua kembar bersaudara itu saling pandang tak mengerti, tak biasanya sahabat sekaligus atasannya itu bersikap sedikit arogan pada Daren.


__ADS_2