Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Pingsan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pelaksanaan audit di lakukan.


Shanum sudah mewanti pada semua kepala divisi untuk memeriksa semua bawahannya agar tak ada kesalahan data baik di lapangan maupun di data resmi Wijaya Corp.


Ketegangan meliputi seluruh Wijaya Corp.


"Sayang apa hari ini kau sudah mempersiapkan semua?" Rangga bertanya pada Shanum yang duduk di sebelahnya.


Terlihat rona ketegangan di wajah cantik itu.


Bahkan sesampainya di lobi gedung pun tangan Shanum masih saling remas, dengan sesekali ia menggigit bibir bawahnya.


"Sayang, jangan lakukan hal seperti itu."


Rangga begitu gemas dengan tingkah sang istri di saat ketegangan menghampirinya, andai saja saat ini ia sedang berdua di dalam kamar maka habislah bibir mungil Shanum pastinya.


Rangga meraih tangan Shanum yang terasa dingin.


"Sayang apakah kau begitu khawatir dengan audit hari ini, bukankah kau dekat dengan auditor itu?"


Shanum mengerti dengan arah pembicaraan Rangga.


"Aku kenal om Darmawan dari ayah, beliau adalah sosok yang terkenal dengan ketegasannya, bahkan karena sikapnya yang begitu gigih pada pendiriannya banyak para pengusaha yang merasa takut dengannya," terang Shanum.


"Selagi kita benar dan tak ada kebohongan yang kita sembunyikan buat apa kita takut padanya." ujar Rangga lagi.


Shanum pun mengangguk.


"Oiya, apakah kau sudah tahu asistenku sekarang?" Rangga mencairkan suasana.


Kembali Shanum menganggukan kepalanya.


"Ya aku bertemu kemarin saat dia ke ruanganku menyerahkan berkas."


"Heum, dia masih saudara dengan Danu dan Dika, dan dia juga seorang pemuda yang pintar dan bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaanya dengan cepat" terang Rangga.


Keduanya berpisah setelah Shanum mengurai genggaman Rangga.


Rangga memasuki ruangan dan wajahnya tersenyum saat melihat David sudah fokus dengan laptopnya, selain tampan dan pintar ternyata David juga sangat disiplin dengan waktu.


"Pagi pak" sapa pemuda itu sopan.


"Heum pagi Vid, apa berkas untuk minta tanda tangan CEO sudah kau cek?" tanya Rangga.


"Sudah pak, nanti akan saya serahkan begitu nona Shanum sudah datang" jawab David pasti.


"Dia sudah berada di ruangannya sekarang dan kau bisa membawa berkas itu padanya" titah Rangga.


"Oh baik pak, akan saya serahkan"


David membetulkan kemeja dan letak dasi nya, bahkan ia sempatkan ke kamar kecil dahulu untuk merapikan penampilannya.


"Wajah tampan dan sikap dingin, ternyata kau grogi juga heum" Rangga bermonolog sendiri.


Ceklek.


David keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar, rupanya di dalam ia membenarkan tatanan rambutnya hingga kini terlihat lebih rapih.


"Ehm hmm" David membetulkan posisi dasi nya.


"Ehm kau gugup Vid?" tanya Rangga dengan senyum smirk.


"Ehh sedikit pak " jawab David lalu menganggukan lepalanya dan melangkah keluar dari ruangan.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak.

__ADS_1


Emang bini gue singa, sampai bisa bikin lu grogi seperti itu Vid, gumam Rangga.


Ceklek.


Setelah beberapa menit akhirnya David kembali muncul dengan wajah berseri.


"Gimana, sudah kau dapatkan tanda tangannya?" tanya Rangga di jawab dengan anggukan pasti oleh David.


"Masih ada satu berkas lagi pak masih harus di periksa" ucap David.


Sementara itu, Shanum sudah bersiap karena kunjungan para auditor beberapa menit lagi di mulai.


Terlihat lima mobil sedang beriringan memasuki parkiran gedung Wijaya Corp.


Empat orang lelaki dan satu orang wanita.


Tiga orang lelaki paruh baya dan satunya terlihat masih muda.


Dari balik jendela di lantai ruangannya tatapan Rangga tak lepas dari salah satu auditor tersebut, yang tak lain adalah Daren.


Anggukan hormat dari karyawan yang kebetulan berpapasan dengan para auditor.


Sementara Shanum yang masih berada dalam ruangannya terlihat gelisah, dada nya dari beberapa menit yang lalu berdebar kencang, keringat dingin keluar dari pori-pori keningnya.


Sekuat tenaga Shanum melangkahkan kakinya ke ruang meeting di mana pada auditor berkumpul sebelum turun ke lapangan.


Sebagai pimpinan Shanum sudah tentu berkewajiban memberi penyambutan pada para tamu, meski hal itu bisa di wakilkan namun tak enak rasanya jika ia tak menemui sahabat dari ayah nya meski hanya sesaat.


Ceklek.


Shanum mengangguk hormat sesampainya di ruang meeting.


Dengan tangan gemetar Shanum menyalami satu persatu.


"Sha, apa kau baik-baik saja?" tanya Daren dengan sedikit berbisik.


"Ehm, aku baik-baik saja, mungkin aku belum sarapan tadi pagi " terang Shanum.


"Mana suamimu?" Daren semakin panik saat wajah Shanum semakin memucat.


"D dia..."


Kalimat Shanum menggantung saat tubuhnya tiba-tiba bagai melayang.


Beberapa jengkal lagi tubuh ramping itu menyentuh tanah, saat itulah dua tangan kekar berhasil menangkap Shanum hingga tubuhnya tak membentur lantai.


Darmawan yang melihat putri dari rekannya pingsan sontak membulatkan matanya.


"Shanum...." Pekik Darmawan.


Untunglah Daren dengan sigap segera membopongnya.


"Bawa ke ruangannya Ren" titah Darmawan.


Ruang meeting kini tampak gaduh, beberapa kepala direksi yang melihat kejadian itu pun terlihat panik.


Daren berlari cepat menuju ruangan CEO mengikuti David yang membimbing di depannya.


"Panggil dokter cepat !!" titah Daren pada David karena memang hanya ia karyawan yang berada di ruangan CEO.


Dengan tergopoh-gopoh David berlari menuju klinik pereusahaan.


"Ohh sh**"


David merutuki kebodohannya sendiri, untuk apa ia berlari ke arah klinik, bukankah ia bisa memanggil dokter dengan ponselnya, batin David.

__ADS_1


Daren yang terlihat begitu panik berusaha menyadarkan Shanum.


"Sha bangun Sha" panggil Daren dengan tangan menepuk ringan pipi Shanum.


Sementara itu David berlari ke rungannya, sisa berkas yang ia pegang sudah di tunggu Rangga sejak tadi.


Ceklek.


Rangga menatap David yang datang dengan keringat mengalir di pelipisnya.


"Kenapa Vid, habis senam lu?" tanya Rangga sarkas, karena berkas yang di tunggunya baru datang.


"Anu pak tadi habis ke klinik."


"Hah ke klinik? Ngapain?"


"Nona Shanum pingsan saat di ruang meeting dan itu pak auditor menyuruh saya memanggil dokter, mana nyuruhnya bentak-bentak lagi, kayak bini nya aja yang pingsan."


Rangga diam membeku otaknya seakan berhenti berjalan.


Untuk sesaat Rangga masih diam di atas kursinya dengan tatapan mata kosong.


"Pak, pak Rangga" panggil David dengan menggerak-gerakan tangannya di depan mata bosnya, agar terdasar dari mode bengong tanpa sebab.


"Bapak kena..." kalimat David terputus saat Rangga berlari keluar dari ruangan dengan cepat, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar ucapan asistenya itu.


Ceklek.


"Sayang kamu kenapa?" Rangga merangkul tubuh Shanum yang masih terbaring di atas sofa.


"Uhukk uhukk"


Rangga mengurai pelukannya saat mendengar suara kecil Shanum terbatuk.


"Aku tidak apa-apa sayang" ucapan Shanum terdengar lemah.


Rangga menatap ke sekeliling ruangan dimana masih terdapat dokter sedang meracik obat dan Daren yang berdiri di sudut ruangan.


"M maaf"


Rangga menatap wajah Shanum yang masih sedikit pucat.


"Bagaimana ke adaannya dokter?"


"Ehm Nyonya Shanum hanya terlalu letih, mungkin kurang istirahat dan banyak pikiran hingga membuat tubuhnya nge drop, dan pola makan yang kurang teratur juga bisa membuat tubuh lemas, tapi..." ucapan dokter menggantung membuat kepanikan kini semakin dalam di hati Rangga.


"Tapi apa dok?"


"Ehm saya tidak bisa menjelaskan secara detil karena itu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, dan saya sarankan Nyonya memeriksakan ke dokter ahli Obgyn."


Shanum dan Rangga saling pandang tak mengerti.


Rangga membenarkan letak tubuh Shanum agar lebih nyaman berbaring, Daren pun telah pamit untuk melanjutkan tugasnya di lapangan.


Sepeninggal dokter, sepasang suami istri itu masih terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Sayang, apa kita ke dokter sekarang?" tanya Rangga.


Shanum menggeleng " Aku sudah tidak pusing lagi, tadi dokter sudah memberi vitamin dan kepalaku juga sudah tak pusing lagi."


"Tapi dokter bilang kita harus segera memeriksa kesehatanmu di dokter Obgyn."


"Iya besok saja." tolak Shanum, merasa tak ada yang aneh dalam tubuhnya, sebenarnya Shanum enggan pergi ke rumah sakit.


"Tidak pokoknya hari ini kita harus ke rumah sakit, kau harus periksa sayang." Rangga tak ingin ada penolakan, baginya kesehatan sang istri adalah hal yang utama.

__ADS_1


"Tapi sayang, hari ini pasti audit akan selesai sampai malam." Shanum berucap dengan wajah memelas.


Rangga menggeleng pasti.


__ADS_2