Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kebodohan Hardy


__ADS_3

Menjelang hari H, membuat seluruh penghuni mansion begitu sibuk.


Jika para koki tengah sibuk dengan bumbu racikan yang mereka buat untuk masakan esok hari, maka para penjaga yang di perintahkan oleh Hardy agar menambah personil untuk menjaga ke amanan selama acara resepsi berlangsung, pun tengah di sibukan dengan mengatur para personil untuk di tempatkan pada posisinya masing-masing.


Tak ingin kejadian yang lalu terulang, Hardy memasang beberapa CCTV di setiap sudut mansion maupun taman yang akan di gunakan sebagai tempat acara berlangsung.


Beberapa personil keamanan sengaja Hardy datangkan untuk mengamankan jalannya acara.


Sesuai rencana, penerimaan para tamu akan di bagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pertama yaitu pukul lima sore sampai pukul tujuh.


Dan sesi kedua pukul delapan hingga pukul sepuluh.


Sengaja Hardy bagi menjadi dua bagian, karena ingin jalannya resepsi tetap teratur dan tertib dan keamanan semua dalam kendalinya.


"Sha apa kau sudah menyelesaikan semua urusanmu selama kau cuti esok?"tanya Hardy yang tetap tak ingin perusahaan terbengkalai karena pimpinan dan wakilnya cuti secara bersamaan.


Shanum mengangguk pasti "Sudah Yah, aku sudah mengatur semua dengan pasti, begitu juga dengan Rangga" terang shanum.


Entah sudah berapa kali Hardy menanyakan perihal urusan perusahaan pada Shanum, membuat Shanum menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidur lah Sha, esok kau harus menyambut para tamu yang tak sedikit, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu keras kau memforsirkan tenaga "ujar Hardy.


Shanum mengangguk lalu menyusul Rangga yang masih bergabung dengan para penata ruang.


Taman yang di sulap menjadi tempat nan cantik, di penuhi lampu-lampu hias dengan bunga warna-warni membuat taman terlihat begitu indah.


Tak henti Shanum memandang para pendekor yang lalu-lalang sibuk memasang hiasan di berbagai sudut.


"Belum selesai pun sudah tampak indah apalagi kalau udah finish"ucap Shanum takjub.


Rangga pun tersenyum senang.


Meski Merry terlihat biasa saja namun ternyata ia mempunyai talenta yang tak di miliki desainer lain.


Inspirasinya yang terkadang unik dan nyeleneh malah membuatnya kini menjadi pebisnis yang sulit untuk disaingi.


Selain butik dan MUA, Merry juga memiliki bisnis lain yaitu jasa WO dengan menyewakan tenda biru alias tenda pernikahan yang terbilang unik.


Dengan kejelian Merry, taman mansion kini di sulap bagai taman-taman indah bagai di negeri dongeng.


"Sayang, selera Merry keren juga ya?"tanya Shanum pada Rangga yang kini tengah memeluknya dari belakang.


"Heum" jawab Rangga singkat, sebenarnya enggan bagi Rangga untuk terus berhubungan dengan wanita kekar itu, apalagi setelah kejadian yang membuat perutnya mual itu.


Namun melihat wajah ceria sang istri, Rangga tak dapat berbuat apa-apa, dengan setengah terpaksa mereka masih akan berdekatan lagi dengan desainer antik itu.


"Ayo sayang kita istirahat, kita harus mempersiapkan tenaga ekstra untuk menyambut para tamu esok" ujar Rangga merangkul Shanum lalu mengajaknya pergi dari taman karena udara malam sudah semakin dingin.

__ADS_1


Mereka pun menuju kamar.


Shanum menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mencuci muka dan bersikat gigi lalu mengganti baju dengan baju tidurnya.


Sementara Rangga masih duduk di sofa dengan perhatian terfokus pada layar ponsel.


Kevin beberapa kali memanggilnya namun tak sempat terangkat oleh Rangga.


Rangga hanya menaikan kedua alisnya saat melihat pesan Kevin yang mengatakan bahwa Monik masih belum menerima keadaan bahwa Rangga kini sudah menjadi suami dari atasannya sendiri.


Tak mau ambil pusing dengan Monik.


"Biarkan saja, ajak dia besok datang ke mansion, agar bisa menyaksikan aku bersanding dengan Shanum".


Jawaban pesan Rangga.


"Apa tidak terlalu kejam Ngga?".jawab Kevin dengan emot menangis


"Biarlah, biar dia sadar bahwa semua yang di inginkannya tak harus semuanya tercapai".terang Rangga.


Rangga sudah penat dengan semua tingkah Monik, dengan halus ia menjelaskan keadaan yang sesungguhnya namun ternyata gadis itu menolak keras bahkan menyebar berita hoak tentangnya.


Ceklek.


Shanum keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan handuk melilit kepalanya.


Rangga mematikan ponsel lalu berjalan menuju kamar mandi.


Shanum memandangi punggung Rangga hingga menghilang di balik pintu.


Apa yang membuatnya tampak aneh, batin Shanum.


Rangga sungguh tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Monik.


Dengan tubuh proporsional dan wajah yang cantik tentu banyak kaum adam di luar sana yang mau menjadi kekasih bahkan pendamping hidupnya, tanpa harus merebut seorang pria dari kehidupan wanita lain.


Di depan kaca lemari Rangga memakai baju tidurnya, sekilas ia tatap jari tangan yang terdapat cincin tanda ikatan dengan Shanum, gadis yang telah mengisi hatinya sejak pertama kali bertemu dan tak akan ia lepaskan hingga maut memisahkannya.


Pandangannya beralih ke tubuh yang terbaring di atas ranjang, perlahan Rangga naik dan berbaring di samping Shanum.


Di raihnya tangan putih yang terdapat cincin kawin yang di sematkannya kala itu, lalu di kecupnya dengan lembut.


Kau lah pelita hatiku, dan kaulah separuh nafasku.


Cup


Tubuh Shanum menggeliat perlahan karena merasakan gerakan Rangga saat mengecup puncak kepalanya.

__ADS_1


"Sssshh sshh ssshh"Rangga menepuk punggung Shanum dengan lembut agar kembali lelap tidurnya.


Sementara di kamar lain, Hardy menatap layar ponselnya seakan tak percaya.


Berkali-kali ia mengerjapkan kedua matanya.


Keterlambatannya menjelaskan status Shanum pada Darmawan rupanya kini membuat Hardy harus menelan keresahan hatinya.


"Bisakah kita bertemu Har, putraku ingin mengutarakan niatnya untuk meminang putrimu".


Bagai di sambar petir di siang bolong saat Hardy membaca pesan dari Darmawan.


Pesan yang di kirim siang tadi, namun baru sempat ia buka.


Malam yang semakin larut, tak membuat Hardy merasakan kantuk di matanya.


Darmawan mengajaknya bertemu di restoran tempat mereka bertemu kemarin.


Kembali Hardy merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana mungkin ia melupakan hal yang begitu penting itu, ia lupa untuk mengatakan bahwa putrinya telah memiliki pendamping hidup, sejak pertama Hardy melihat gelagat aneh pada Daren, putra Darmawan yang selalu mencuri pandang ke arah Shanum.


Bagaimana mungkin Darmawan melamar Shanum yang kenyataannya sudah bersuami, sedangkan besok adalah hari pelaksanaan acara resepsi pernikahannya.


Hardy melangkah keluar dari kamarnya, langkahnya terhenti di dapur mansion saat berpapasan dengan Rangga.


Keduanya bersitatap.


"Belum tidur Yah" sapa Rangga yang juga hendak mengambil minuman di kulkas.


"Heum, rasanya malam ini terasa begitu gerah" Hardy mengangguk pelan lalu melangkah menuju lemari pendingin.


"Kau juga belum tidur Ngga?"tanya balik Hardy.


"Belum Yah, belum ngantuk".


Hardy mengangguk kecil dan melangkah kembali menuju kamarnya.


"Yah, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Rangga melihat wajah sang ayah mertua tampak bingung saat melangkah dengan ragu menuju kamarnya.


Hardy terdiam dan membalikan tubuhnya.


"Apa besok pagi bisa kau temani ayah Ngga?" tanya Hardy ragu.


Rangga menaikan alisnya, acara resepsi di mulai pukul lima sore, jika ia menemani ayah Hardy pagi hari maka ia masih punya banyak waktu untuk bersiap diri untum sore harinya.


"Baik yah"Rangga mengangguk pasti.

__ADS_1


Hardy tersenyum, mungkin inilah keputusan terbaik yang ia ambil, batin Hardy.


__ADS_2