
Harun memperlambat laju mobilnya, padatnya kendaraan membuat lalu lintas berjalan merayap, beberapa mobil ambulan terlihat terparkir di pinggir jalan, rupanya terjadi kecelakaan sehingga menimbulkan kemacetan.
Rangga tampak gusar, begitupun harun.
"Duh bagaimana ini pak Har, kita harus cepat?"Wajah panik Rangga terlihat jelas.
Satu unit mobil DAMKAR sedang melakukan evakuasi korban yang terjepit body mobil, terlihat beberapa petugas DAMKAR sedang memotong beberapa bagian body mobil untuk mengeluarkan tubuh sang sopir yang sudah tak bernyawa.
"Huff, untunglah tidak terlalu lama kita terjebak kemacetan ini"ujar Harun setelah berhasil melewati titik kejadian.
"Tuan, ada apa tuan?"tanya Rahun yang melihat Rangga tiba-tiba terdiam dengan wajah tegang.
"Pak Har, tolong hentikan mobil ini di pinggir"perintah Rangga membuat Harun kebingungan.
"Tuan, tuan Rangga, mau kemana"tanya Harun yang kini berubah panik melihat Rangga keluar dari mobil dan berlari menuju ke tempat terjadinya kecelakaan yang membuat mereka terjebak macet.
Harun lari menyusul Rangga.
"Ada apa tuan?"Harun berhenti di samping Rangga yang tengah berdiri kaku di samping body mobil box terbuka yang telah hancur sebagian di bagian kap mobil.
Rangga tak menjawab, namun tatapannya nanar dan wajahnya kini memucat setelah pandangannya tertuju pada mobil box terbuka di hadapannya.
Harun yang tak mengertipun ikut melihat ke arah pandangan mata Rangga.
Kini Harun dengan mata membulat dan mulut pun menganga saat menyadari apa yang ada dalam benak Rangga.
"Tuan...mobil itu..bukankah mobil itu..."kalimat Harun terbata, tubuhnya kini terasa lemas bagai tak bertulang.
Rangga berlari menuju mobil ambulan yang hendak berjalan membawa sang korban karena sudah berhasil mengeluarkan sang sopir box terbuka tersebut.
"Pak, tunggu pak?" teriak Rangga ke sang sopir ambulan.
"Ada berapa korban di kecelakaan ini dan di bawa ke rumah sakit mana pak?"Rangga berusaha menguatkan debaran jantungnya yang berdebar semakin kencang.
"Menurut laporan semua ada empat korban, dua orang meninggal, satu luka ringan dan satu lagi luka parah dan semua di bawa ke rumah sakit x"jawab sopir ambulan lalu segera menjalankan ambulannya.
Rangga berlari menuju mobilnya kembali sementara Harun masih berdiri membeku di sisi jalan.
"Pak! Pak Harun, ayo kita berangkat"Rangga berteriak memanggil Harun, sontak pria paruh baya itu bagai tersadar dari lamunannya,lalu berlari menuju mobilnya.
__ADS_1
"Biar aku yang bawa pak, sepertinya bapak masih shock"ujar Rangga, meskipun dirinya juga diliputi kepanikan, namun rangga masih dapat menguasai tubuhnya, berbeda dengan Harun yang terlihat tegang dan tangan yang tremor dengan wajah pucat.
"Tuan, apa mobil itu?"kalimat Harun menggantung saat Rangga menjawab cepat sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Iya benar mobil itu yang membawa Shanum pak, sekarang kita ke rumas sakit X"ujar Rangga.
Harun terdiam dengan pikiran yang kalut.
"Apa kita harus menghubungi Tuan Hardy tuan?"tanya Harun yang masih ragu pada usulnya sendiri.
"Ya lakukanlah, tapi jangan buat ayah cemas, katakan padanya kita ke rumah sakit karena mobil yang membawa Shanum kecelakaan"jawab Rangga, Harun yang mendengar kalimat Rangga yang ambigu kini semakin kalut, bagaimana agar tidak membuat Hardy cemas sedangkan Rangga menyuruhnya mengatakan Shanum kecelakaan.
Tangan yang masih gemetar Harun paksakan untuk menelfon Hardy.
"A anu Tuan, Nona Muda belum di temukan, tapi kami melihat mobil dengan ciri-ciri yang di sebutkan pelayan mansion mengalami kecelakaan dan kami sedang menuju ke rumah sakit di mana para korban di bawa ke sana"entah kekuatan apa yang membuat Harun mengucapkan kalimat dengan lancar.
"Apa Shanum berada di mobil itu Run?"tanya Hardy di seberang.
"Kami akan memastikannya segera, dan kami sedang dalam perjalanan Tuan".
"Baik Tuan, akan kami kabari segera" Harun menutup ponselnya.
Sementara di ruang IGD.
Joy melangkah cepat ke arah dokter yang masih berseragam baju operasi.
"Istri tuan, mengalami luka yang cukup serius dan perlengkapan di rumah sakit ini kurang memadai, maka kami akan membawa istri tuan ke rumah sakit yang lebih lengkap"ujar sang dokter dengan wibawa.
Joy hanya mengangguk pelan.
Setelah mengirim pesan pada sang mommy, Joy pun ikut masuk ke dalam ambulan yang membawa Shanum, setelah perdebatan sengit dengan pihak rumah sakit yang tidak membolehkan selain pasien memasuki ambulan.
Hati Joy serasa teriris sembilu kala melihat pelipis yang terbalut perban dan beberapa peralatan medis melekat di tubuh mungil Shanum.
Tangan Joy mengusap punggung tangan kecil Shanum dengan lembut.
*
*
__ADS_1
Dengan langkah panjang Rangga dan Harun memasuki rumah sakit di mana korban kecelakaan di rawat.
"Suster, dimana korban kecelakaan mobil box di rawat?"tanya Rangga tergesa.
Suster lalu melihat daftar pasien.
"Satu di ruang Mawar nomor lima dan satu pasien lagi di rujuk ke rumah sakit Xx oleh suaminya".
"Suami?" Rangga dan Harun saling pandang, dan suster pun mengangguk, tak ingin membuang lebih banyak waktu, kedua pria beda generasi itu pun keluar dari rumah sakit dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit Xx seperti yang suster katakan.
Waktu menunjukan pukul satu dini hari.
"Tuan,sekarang biar saya yang gantian bawa mobilnya tuan"ujar Harun.
Rangga hanya mengangguk, hati dan pikirannya begitu kalut, rasa lelah tubuhnya tak di rasakan.
Beberapa menit perjalanan akhirnya rumah sakit yang di tuju telah sampai.
Dengan tergesa Rangga dan Harun menuju ruang resepsionis.
Rumah sakit terlihat sepi, karena malam kini telah menjelang pagi, sebagian pasien yang terlelap membuat Rangga menahan kakinya agar tidak mengeluarkan suara yang dapat membuat para pasien dan penjaga merasa terganggu.
Rumah sakit yang tergolong besar karena terdiri dari lima lantai, membuat Rangga dan Harun harus membutuhkan waktu lebih lama untuk menuju ke ruangan di mana Shanum di rawat.
Ternyata lantai paling atas adalah ruang khusus untuk pasien VVIP, semakin hati Rangga diliputi tanda tanya, siapa yang membawa Shanum ke rumah sakit megah ini, dan mengaku sebagai suaminya.
Meski geram, Rangga pun merasa bersyukur jika Shanum mendapat pertolongan dengan layanan istimewa.
Rangga terdiam di depan pintu suatu ruangan yang tertutup rapat, di balik kaca pintu, terlihat sosok pria duduk dengan memegang erat tangan Shanum, rahang Rangga mengembung keras, darahnya seketika mendidih melihat seorang lelaki dengan beraninya memegang tangan seorang wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Tok tok tok.
Tak ingin mengagetkan pria itu Rangga pun berinisiatif mengetuk pintu terlebih dahulu, seandainya saat ini bukan sedang berada di rumah sakit tentu ia akan menghajar pria lancang itu
Joy pun terbangun dari kantuknya setelah sesaat matanya terpejam saat duduk di samping brangkar Shanum, Joy melepas genggamannya saat melihat kedatangan Rangga.
Untuk beberapa detik kedua pria itu saling tatap.
Ada rasa iri di hati Joy melihat lelaki tampan di hadapannya, lelaki yang telah merebut wanita yang amat di cintainya.
__ADS_1
Rangga menatap pria manis berbulu mata lebat itu dengan tajam, sebagai sesama lelaki Rangga mengakui ketampanan pria bertampang babyface yang telah lancang mengaku sebagai suami Shanum dan berani memegang tangannya dengan erat.
"Eggghhh"