
Rangga masih belum dapat memejamkan matanya, entah sudah berapa kali Shanum keluar masuk kamar mandi untuk menyikat giginya.
Ceklek.
"Sayang kau belum tidur?"tanya Shanum kaget saat melihat Rangga masih terjaga.
"Nunggu kamu sayang, aku nggak bisa tidur"jawab Rangga menggeserkan tubuhnya agar lebih luas tempat untuk istrinya berbaring.
"Kenapa nggak bisa tidur? Kamarku kurang nyaman yah?"tanya Shanum lagi.
Rangga menggeleng pelan.
"Sini, tidurlah"Rangga menepuk tempat di sebelahnya yang kosong.
"Ehmm, tapi aku masih bau"jawab Shanum sambil menutup mulutnya.
"Bukankah kau sudah membersihkan mulutmu bahkan berkali-kali"ujar Rangga bangun dan mendekati Shanum yang masih terlihat ragu mendekatinya.
"Coba buka tanganmu"Rangga mengurai tangan Shanum yang menutupi mulutnya.
Cupp.
Shanum membukatkan matannya dan kembali menutup mulutnya kali ini dengan kedua tangannya, sungguh Shanum merasa amat risih dengan aroma kancing levis yang masih terasa di mulutnya bahkan setelah beberapa kali ia menggosok giginya.
"Tidak kok, bahkan mulutmu wangi dan segar"ujar Rangga.
Dengan pelan Rangga melerai kedua tangan Shanum.
Di kecupnya kembali benda kenyal nan lembut itu, tak ada sama sekali bau seperti yang Shanum katakan, bahkan segar aroma mint terasa di lidah Rangga.
Meski tak begitu menuntut namun cukup membuat Shanum merona merah, saat Rangga melepas pagutannya.
"Sayang, kenapa kau malu pada suamimu ini, aku sama sekali tak merasa terganggu, dan aroma khas jengkol itu sudah hilang sama sekali dari mulutmu sayang"Rangga berkata dengan sungguh-sungguh.
"Sekarang berhentilah mondar mandir ke kamar mandi, sekarang kita tidur, aku sudah ngantuk, besok aku harus bekerja"ucap Rangga meraih bahu sang istri lalu menuntunnya ke ranjang.
Shanum diam, Rangga masih memeluk tubuhnya erat, andai malam ini ia akan meminta hak nya maka Shanum pun telah siap.
Beberapa saat pun berlalu, terdengar nafas Rangga mulai teratur bahkan dengkuran halus keluar dari mulutnya, Shanum memutarkan badannya, memang benar kini suaminya sudah terlelap dan terbang ke alam mimpi.
Entah kenapa Shanum sedikit kecewa, apakah karena harapannya yang ternyata salah.
Apa karena Rangga tak meminta haknya malam ini membuat hatinya merasa hampa.
Setelah beberapa saat kantuk pun menyerang Shanum, berada dalam dekapan suami dan mendengar dengkuran halus membuat hati dan pikirannya terasa nyaman.
Bahkan Arjuna yang kemarin terlihat jelas kegagahannya kini tampak ikut terlelap dalam sangkar nyamannya.
Shanum tersenyum dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Cupp
Pagipun menjelang saat kecupan lembut terasa mendarat di puncak kepalannya, rupanya Rangga sudah bersiap ke kantor.
"Selamat pagi sayang, aku berangkat dulu ya"sapaan lembut membuat Shanum membulatkan matanya.
"Sayang, kenapa kau tidak membangunkanku"Shanum dengan gugup menyusul langkah Rangga yang terlihat sudah memakai baju rapih untuk berangkat ke kantornya.
"Tidak apa-apa, kau harus banyak istirahat, ku lihat tidurmu sangat nyenyak, tak tega rasanya membangunkan bidadari dari mimpi indahnya"jawab Rangga.
"Bukan begitu sayang, aku kan seharusnya menyiapkan baju kerjamu, sarapanmu sepatu"ucapan Shanum terpotong saat jari telunjuk Rangga menekannya.
"Ssttt, aku tidak menuntutmu harus melakukan itu, kau belum sepenuhnya pulih, masih banyak kewajibanmu yang lain, aku harus segera berangkat, ayah Hardy sudah berangkat dari tadi"ujar Rangga lalu berjalan menuju parkiran mansion.
Shanum membelalakan matanya saat Rangga mengeluarkan motor kesayangannya.
"Sayang, kenapa tidak memakai mobilku?"tanya Shanum.
"Aku lebih nyaman pakai ini, daaah"Rangga melajukan motornya setelah melambaikan tangan.
Shanum pun membalas lambaian tangan suaminya.
Begini rasanya, melepas suami untuk pergi bekerja, gumam Shanum dengan senyum tipis.
Beberapa menit akhirnya Rangga telah sampai di gedung tinggi dengan front office bertuliskan Wijaya Corp.
Setelah memarkirkan motornya Rangga pun melangkah bersama beberapa karyawan yang kebetulan baru sampai.
Rangga sengaja menunggu lift berikutnya karena ada sedikit rasa risih melihat beberapa mata tampak melihatnya dengan tatapan mengerikan.
"Wahh selamat pagi Ngga, hmm hampir satu pekan kau absen, apa kabar lu?"tanya Danu.
"Ehhmm aku sehat, dan sangat baik"jawab Rangga jujur.
"Kemana aja lu, liburan nggak ngajak-ngajak".
"Hah liburan?"Rangga balik tanya dengan bingung.
"Lha bukannya kata Kevin alasan libur karena lu mau jalan-jalan"Danu kini yang merasa aneh dengan sahabatnya itu.
Rangga mulai bisa membaca situasi, rupannya Kevin mengatakan pada mereka bahwa ia sedang jalan-jalan.
"Ohh iya, kemarin pulang kampung gue"ujar Rangga.
"Oyy pa kabar bro?"sapa Dika yang baru datang.
"Hmmm baik Dik"
"Tumben lu ngopi"tanya Dika lagi.
__ADS_1
"Hehee tau nih tiba-tiba rasanya ingin menikmati sensasi kopi hitam, berasa lebih jantan"ujar Rangga seraya menyeruput kopinya.
"Eh denger-denger nona CEO kita sudah kawin bro, tapi bukan sama tuan Devon, waahhh ternyata setampan Devon masih kalah sama pebinor"kalimat dari mulut Dika sontak membuat Rangga terbelalak.
"Uhukk uhukk"kopi hangat yang masih berada dalam mulutnya pun menyembur sempurna hingga cairan hitam itu berceceran ke lantai.
Dika yang berada di depannya pun memundurkan wajahnya.
"Iihhh lu apaan sih Ngga"ujar Dika mengambil tisu lalu menyodorkan pada Rangga.
Sialan gue di kira pebinor, siapa yang berani menyebar berita hoak ini akan ku jahit mulutnya, tangan Rangga mengepal sempurna, buku-buku tangannya pun memutih.
"Hei malah bengong, kesambet jin gagu lu?"tanya Dika konyol.
"Eh hmm, nggak ehm kata siapa nona Shanum nikah sama pebinor Dik?"tanya Rangga dengan rahang yang mengeras.
"Entahlah, soalnya pihak nona Shanum juga belum konfirmasikan berita yang sudah beredar itu, ku harap berita itu bohong, kasihan tuan Devon"ujar Dika dengan wajah simpati.
Semakin hati Rangga panas di buatnya.
"Vin, kita harus bicara"pesan Rangga ke Kevin lewat ponselnya.
"Oke setelah makan siang, sekarang aku sangat sibuk"jawab Kevin singkat.
Setelah beberapa hari absen, membuat pekerjaan Rangga sedikit menumpuk.
Sepuluh menit lagi jam makan siang, Rangga pun menyudahi pekerjaannya dan bergegas ke kantin.
Rangga menyisir ruang kantin, meski tak terlalu luas, namun Kevin mengambil meja di sudut ruangan, membuat Rangga sedikit kesulitan menemukannya.
Rangga akhirnya bernafas lega setelah terlihat Kevin sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Lama amat lu, sampe berakar gue duduk"tanya Kevin sarkas.
"Elu yang nyari tempat duduk tuh yang bener, nah ini di pojokan ke halang lemari pendingin lagi, mana gue tahu kalau kulkas ini ada elu di sebelahnya, padahal gue tadi bolak balik lewat sini"ujar Rangga cengar cengir menyadari kecerobohannya.
"Sialan lu emang badan gue mirip kulkas"umpat Kevin.
"Laaahh sebelas dua belas lah, beda tipis"tutur Rangga.
"Eh sekarang lu ceritain semua berita yang beredar semenjak gue tak masuk kerja"ucap Rangga dengan tatapan mengintimidasi.
"Berita apa, kagak ada berita aneh selama ini"ucap Kevin santai.
"Heh markonah....apa berita tentang pernikahan CEO dengan seorang pebinor juga bukan termasuk berita aneh hah?"tanya Rangga dengan intonasi penuh penekanana.
"Bhuahahaha.."tawa Kevin pecah seketika.
"Jadi pebinor itu tak lain adalah elu dong, ha ha ha ha"sambung Kevin lagi dengan puas.
__ADS_1
"Sialan lu"umpat Rangga geram.
Mimpi apa gue semalam, apes banget di sangka pebinor.