
Daren kembali bergabung dengan timnya, setelah kondisi Shanum membaik.
Meski di relung hatinya paling dasar masih terbersit rasa tak rela meninggalkannya, namun ia juga sadar akan kenyataan bahwa ada yang lebih berhak atas diri Shanum selain dirinya.
Rasa kesal pun sempat menghampirinya, saat melihat tubuh Shanum terbaring lemah, sementara Rangga sebagai sang suami tak berada di sampingnya.
"Bagaimana keadaan dia Ren?"
Darmawan tergelitik hatinya karena rasa penasaran, sepulangnya dari ruangan CEO setelah membopong Shanum, wajah Daren masih terlihat murung.
"Ehm sudah lebih baik Yah, dia sudah siuman dan tadi sudah di tangani oleh dokter."
Daren menjawab seperlunya karena hatinya pun masih belum bisa teralihkan dari kejadian yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Lalu kenapa kau masih murung?"
Daren memandang sang ayah dengan intens.
Aku belum merasa tenang tentang keadaanya Yah, tapi aku tak bisa berbuat banyak, ada pemiliknya yang lebih berhak.
Darmawan menepuk bahu sang putra, rupanya hati Daren masih belum bisa move on dari putri sahabatnya itu.
Sementara itu Rangga yang masih berada di ruangan Shanum masih terus mengusap kaki ramping sang istri, sesekali di pijitnya telapak kaki nya denga lembut.
Di liriknya jam di pergelangan tangannya, sudah beberapa menit yang lalu makanan yang di pesannya belum juga sampai, sementara Shanum masih terpejam di sofa panjang dengan kedua kakinya bertumpu di paha Rangga.
Sebenarnya bisa saja Rangga pulang mengantarkan Shanum ke mansion atau rumah sakit, namun Shanum bersikeras meminta Rangga agar tetap berada di perusahaan selama audit berlangsung.
Asisten Harun pun sedang menjemput ayah Hardy di bandara.
Tok tok.
"Masuk."
Rangga menyahut, namun dengan suara pelan, agar tak membangunkan sang istri yang masih tertidur di pangkuannya.
__ADS_1
Seorang satpam memasuki ruangan dengan jinjingan satu kotak makanan di tangannya.
"Ini pesanan tuan Rangga." satpam menaruh box di atas meja.
"Baik pak, terima kasih." Satpam pun keluar dari ruangan.
Tiga puluh menit sudah Shanum terlelap, tak ingin makanan menjadi dingin, Rangga kembali menepuk kaki Shanum dengan lembut.
"Sayang, bangunlah makan dulu."
Tak ada reaksi dari Shanum.
"Sayang...sstt."
Shanum tampak mengerjapkan kelopak matanya.
"Shhhh," desisan halus keluar dari bibirnya saat kepalanya berdenyut nyeri.
"Sayang kenapa, apa kepalamu masih pusing?"
"Makanlah bubur ini, setelah itu kita ke rumah sakit."
Shanum menutup mulutnya saat Rangga menyodorkan sendok ke arah mulutnya.
Mencium aroma masakan bubur yang semerbak masuk ke indra penciumannya membuat Shanum mual.
"Sayang, sedikit saja, lambungmu kosong, makanya kau merasa pusing, makanlah sedikit saja."
Rangga membujuk dengan lembut.
Shanum akhirnya membuka mulutnya setelah melihat wajah sang suami yang memelas.
Shanum menggerakan mulutnya perlahan, mengunyah bubur yang sudah dingin, namun beberapa saat setelah makanan masuk ke dalam mulutnya,
"Ghoekk."
__ADS_1
Rasa mual dalam perutnya kembali datang, sontak membuat Shanum memuntahkan kembali bubur yang baru di makannya.
"Sayang...kau kenapa?" Rangga berlari mengikuti Shanum menuju kamar kecil.
Rasa perut bagai di aduk membuat Shanum terus memuntahkan semua isi perutnya.
Rasa lemas di tubuh membuat Shanum menyandarkan tubuhnya di dinding kamar kecil.
Rangga kembali dengan botol kecil minyak angin di tangannya.
Perlahan di tuangkan minyak beberapa tetes ke tangannya lalu ia gosokkan ke tengkuk Shanum, namun hal itu justru membuat Shanum kembali merasakan mual di perutnya semakin menjadi.
Rangga semakin panik, olesan minyak angin yang di harapkan membuat Shanum membaik, malah kini membuat sang istri semakin mual.
"Sayang kita ke dokter sekarang."
Ucap Rangga panik, namun Shanum menggeleng lemas.
"Biarkan aku berbaring dulu, perutku sangat mual jika ku gerakan tubuhku." Shanum berucap pelan dengan bibir bergetar.
"Aku panggil dokter lagi kesini oke?" tanya Rangga setelah membaringkan kembali tubuh Shanum di sofa.
"Tidak, aku hanya perlu berbaring seperti ini sebentar, aku akan membaik."
Rangga duduk di sebelah Shanum, terbersit rasa sesal di hatinya, merasa tak dapat berbuat banyak untuk sang istri.
Cupp.
Di kecupnya lembut kening Shanum, di singkirkannya anak rambut yang menutupi dahinya.
Hanya usapan lembut di pelipis sang istri yang dapat Rangga lakukan.
Untuk mengoleskan minyak angin pun tak berani ia lakukan.
Ketakutan akan kembali datang rasa mual setelah mencium aroma minyak angin tersebut mengurungkan niatnya.
__ADS_1