
Rangga kini dapat bernafas lega, beberapa menit bersama desainer Mery, membuatnya harus extra hati-hati, bagaikan menggenggam bom waktu yang akan meledak setiap saat.
Berada satu ruangan dengan Mery, wanita cantik 'berbahu tegap' yang super ramah tamah dengan bonus beberapa kali colekan genit dan kedipan penuh menggoda sungguh merupakan satu pengalaman baru, namun Mery begitu profesional dalam pekerjaannya, terlihat dari hasil karyanya yang banyak di gemari para pembeli, meski harga yang ia tawarkan jauh lebih tinggi dari harga pasar, namun tetap saja mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan gaun rancangannya.
Begitupun shanum yang terlihat puas dengan gaun yang akan di kenakannya, berkali-kali Vina mengucap syukur dan berterima kasih karena Mery sudah memberikan layanan yang memuaskan.
"Selamat jalan cyint, yei harus jaga laki lo baek-baek ya, kalo yei lengah sedikit saja ....bakal gue bawa kabur tuh laki"bisik Mery di telinga Shanum dengan satu kedipan mata mengarah ke Rangga.
"Kalo miss berani, langkahi dulu mayatku" Shanum menjawab dengan nada dingin sambil mengedikan kedua alisnya.
"Ha ha ha, tenang cyint eike becanda kok"tawa Mery yang terdengar nge bass.
Sontak Rangga melirik kearah kedua wanita cantik namun beda server itu.
Matanya membulat saat melihat Mery berjalan mendekatinya.
"Sadis bini lu say, senggol bacok,ishhh takut eike".bisik Mery dengan jarak begitu dekat di telinga Rangga, dan kini tengkuknya meremang sempurna.
Shanum melangkah menggandeng tangan Rangga setelah berpamitan terlebih dahulu.
"Apa maksudnya senggol bacok Sha?" tanya Rangga berbisik.
"Nanti ku jelaskan, sekarang kita harus segera pulang dari tempat mengerikan ini"ujar Shanum.
"Tempat mengerikan bagaimana maksudmu?"tak mengerti Rangga dengan apa yang Shanum ucapkan.
"Aku takut, miss Mery merebutmu dari sisiku"jawab Shanum datar.
"Hah"
Shanum tersenyum melihat rona muka Rangga terlihat begitu shock.
"He he hee nggak, aku cuma becanda sayang"
"Hah"kini Rangga semakin shock, namun kali ini wajahnya terbit senyum bahagia.
"Ulangi lagi Sha"
"Apanya"
"Tadi kau bilang apa?"
"Bilang..aku hanya becanda, maksudnya?"
"Bukan, tadi kau panggil aku apa?"
Shanum mengerutkan alisnya.
"Ohh sayang?"lanjutnya.
"Kenapa, apa kau tidak menyukainya?"tanya Shanum lagi.
__ADS_1
"Tidak bukan, aku sangat menyukainya, mulai sekarang panggil aku seperti itu"pinta Rangga lalu menghentikan langkahnya, membuat Shanum pun terhenti, karena tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Rangga.
"Sha, aku mau kau panggil aku 'sayang' mulai sekarang dan seterusnya"Rangga menatap netra bening Shanum dengan tajam.
"Ehmm akan ku pertimbangkan"ragu-ragu Shanum mengatakan, karena sebenarnya panggilan tadi ia katakan secara tak sadar, jika untuk seterusnya harus memanggil dengan sebutan 'sayang' terasa aneh baginya.
"Sha, aku tahu akan berat, tapi tolong biasakan mulai sekarang yaa".
Mata Rangga kini menatap dengan memelas.
"Iya baiklah"
" Iyess, ayo kita pulang sayang"
Shanum hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sang calon suami bertingkah bagai bocah.
*
*
"Halooo, Mer ..gimana, apa mereka cocok dengan gaun dan jas yang gue pilih"Suara Vina terdengar nyaring di ujung telpon hingga Mery menutup telinganya.
"Buset lu habis ngegado toa yah, nyaring amat suara lu"Meri menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Sorry gue lagi di jalan agak brisik, gimana mereka puas nggak pilihan gue?"
"Iya-iya , mereka puas kok, tenang deh sama hasil rancangan gue, nggak akan mengecewakan".sahut Mery dengan bangga.
"Hmm, udah gue tutup ya, masih sibuk nih"
"Oke say mcuaaahhh"Vina menutup ponselnya.
Sementara di tempat lain.
"Ada apa lagi ini Dan?"Maharani menatap asisten yang tengah tertunduk lesu, rupannya informasi yang di dapat dari orang suruhannya kurang akurat.
Berita tentang putusnya pertunangan Shanum dan Devon membuat sang Tuan Muda Joy begitu bahagia dan berharap rasa cintanya akan terbalas, namun ternyata saat ini CEO Wijaya Corp sudah memiliki pria penggsnti yang akan menjadi suaminya dan pernikahan akan di langsungkan beberapa hari lagi.
Tentu saja berita itu membuat hati Joy hancur berkeping-keping, kini harapan seakan sirna.
"Kenapa kau bisa se ceroboh itu Danil?"tanya Maharani dingin dan tatapan matanya tajam mengarah ke asistennya itu.
"Maafkan saya Nyonya, saya tidak mengetahui berita tentang hubungan nona Shanum dengan calon suaminya yang sekarang karena berita itu mungkin hanya orang-orang yang terdekat dari mereka yang mengetahuinya"Danil masih menundukan kepalanya, tak sanggup menatap sang Nyonya Besar yang terlihat begitu murka.
"Lalu darimana Joy mendapat berita itu?"
"Mungkin nona Shanum sendiri yang mengatakannya Nyonya, karena tuan Joy baru saja makan malam berdua dengannya, dan tuan Joy terlihat sangat terpukul setelah kepergian nona Shanum, mungkin karena pernyataan yang nona Shanum berikan terkait pernikahannya yang akan di laksanakan beberapa hari lagi"Danil menjelaskan dengan rinci, menurut apa yang karyawan restoran tuturkan padanya.
Maharani menghela nafas panjang, kegembiraan yang baru saja kemarin ia rasakan kini kembali sirna setelah melihat keadaan putra kesayangannya yang kembali hancur.
"Apa yang harus mommy lakukan untukmu nak"gumamnya lirih dengan dada yang terasa sesak.
__ADS_1
Pintu kamar Joy tampak hening.
Tok tok tok.
"Joy, sayang buka pintunya nak, mommy ingin bicara".
Masih tak ada jawaban.
"Joy tolong dengar mommy nak"Maharani terlihat cemas karena tak ada sahutan dari sang putra.
"Sayang, bukalah pintunya mommy mau bicara sebentar sayang".
"Mom, untuk saat ini aku ingin sendiri mom"Joy menjawab dengan suara dingin dari dalam kamarnya.
"Kau baik-baik saja nak, apapun yang kau lakukan, ingatlah mommy akan selalu menyanyangimu nak, mommy akan selalu berada di sampingmu" mata Maharani kini tampak berkabut.
"Joy, mommy selalu menyayangimu nak"ucap Maharani di depan pintu kamar Joy yang masih tertutup rapat.
"Iya mom, i love you too"jawab Joy singkat.
Maharani memejamkan matanya, air bening mengalir dari sudut matanya.
Dadanya terasa begitu sesak, melihat sang putra yang amat di sayanginya begitu hancur, hatinya bagai teriris sembilu.
Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan Joy.
Maharani melangkah pergi ke kamarnya.
"Dan, suruh dua orang berjaga di pintu kamar Joy, aku tidak ingin dia melakukan hal yang buruk"perintah Maharani pada sang asisten.
"Baik Nyonya"
Pagi hari Rangga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, karena kemarin cutinya berakhir.
"Ngga, tunggu, kita berangkat bareng"ujar Kevin santai lalu duduk di jok belakang motor Rangga.
"Tumben lu nggak bareng sama Rara".
"Nggak, gue lagi kangen sama lu"Kevin memeluk pinggang Rangga erat.
"Ish lepas, geli gue"
"Halaahhh, sok jual mahal lu, daripada pinggang nganggur, kayak ada aja cewek yang suka meluk pinggang lu aja"sahut Kevin sarkas.
"Hmmm, gue janji bentar lagi pinggang ini ada yang selalu memeluknya erat"Ujar Rangga dengan tersenyum simpul, membayangkan berada dalam pelukan Shanum yang begitu hangat.
"Gue nggak butuh janji, yang gue butuh tuh sebuah bukti"Kevin berucap lantang.
"Tunggu saja tanggal mainnya,lu siapin jantung lu, jangan sampai copot liat bini gue"geram Rangga kesal.
"Haisst, udah cepetan jalan"
__ADS_1